Gozin dan Surat Bebas Corona

Diakuinya, mencari konsumen di Bandung tidak semudah di Babel. Di sini sudah banyak saingan. Sedangkan di Babel masih sedikit yang menekuni jasa jahit menjahit.

Rabu, 22 Juli 2020 | 07:13 WIB
0
132
Gozin dan Surat Bebas Corona
Gozin (Foto: dok, pribadi)

Namanya Mang Gozin. Penjahit keliling asal Sukawening, Garut. Dia baru tiga pekan menjelajahi kawasan Bandung timur dengan sepeda motornya. Mencari konsumen yang membutuhkan jasanya: "Permak Levi's", memotong rok, menambal pakaian, sol sepatu dan lain-lain.

"Saya kos di Cileunyi," kata pria kelahiran tahun 1975 ini. Keberadaannya di Bandung sebetulnya hanya semacam selingan, sebelum kembali ke Provinsi Bangka Belitung (Babel), tempatnya ngumbara (merantau).

Sejak tahun 1995 Gozin dan rombongan dari Garut, sudah malang melintang di Pulau Sumatera itu. Mencari peruntungan lewat keterampilannya dalam urusan jahit menjahit pakaian. Mereka tersebar di berbagai daerah. Tiap hari berkeliling dengan sepeda motor dan mesin jahit. Terkadang pulang kampung setahun sekali, menengok anak istri.

Sepekan sebelum puasa tahun ini, Gozin dan sejumlah temannya memilih pulang dulu. Pandemi corona membuatnya harus segera ke Garut, karena khawatir jelang Lebaran penerbangan ditutup.

Benar saja, beberapa waktu kemudian jalur penerbangan tersebut berhenti sementara.

"Saya berniat kembali lagi ke Babel. Cari nafkah lagi. Semua peralatan keraja masih di sana," kata ayah tiga anak ini. Namun keberangkatan ke tempatnya ngumbara itu, tidak sesederhana seperti tahun-tahun sebelumnya. Sekarang harus mengurus keterangan bebas Covid-19 dulu. Itu persyaratan wajib.

Tapi yang membuat Gozin pening kepala, ternyata membuat surat keterangan tersebut biayanya mahal. "Saya dapat kabar dari teman yang sudah bikin, biayanya sampai lima ratus ribu rupiah. Waduh besar sekali," ujarnya.

Belakangan turun jadi Rp400 ribu, lalu Rp250 ribu. "Entah bener atau enggak," katanya lagi.

Diakuinya, mencari konsumen di Bandung tidak semudah di Babel. Di sini sudah banyak saingan. Sedangkan di Babel masih sedikit yang menekuni jasa jahit menjahit.

"Meski demikian, saya tetap memanfaatkan waktu di sini untuk cari nafkah. Lumayan untuk nambah-nambah. Termasuk untuk biaya bikin surat itu," tambah Gozin.

***