Sketsa Harian [23] "Prank" Kadang Menghibur, tapi Seringnya Nyebelin

Tugas kru kan ngikutin dan terus menyorotkan kamera tersembunyinya. Itu jauh lebih genuine hasilnya. Kalo belum apa-apa sudah bereaksi, itu namanya "prank" setengah hati.

Jumat, 15 November 2019 | 05:39 WIB
0
293
Sketsa Harian [23] "Prank" Kadang Menghibur, tapi Seringnya Nyebelin
Ilustrasi prank (Foto: prankguy.com)

Padanan kata "prank" dalam bahasa Indonesia berarti seloroh, gurauan, guyonan. kelakar, banyol, ngelucu, ngelawak... apalagi dah tuh. Pokoknya seputar itulah. Tapi "prank" yang dikenal anak-anal milenial sekarang selalu berisi kejutan.

Muara "prank" adalah menerbitkan tawa, tapi sering juga berakhir duka. Semula dimaksudkan memancing tawa, yang terpancing bisa juga kemarahan. Alhasil, "prank" kadang menghibur, kadang juga bikin jengkel. Nyebelin (awas ketuker Ngabalin).

Alat utama "prank" jaman now adalah kamera tersembunyi, juga skenario yang sudah diatur sedemikian rupa. Agak sulit dipahami kalau "ngeprank" tanpa direkam oleh video camera, yang sekarang cukup dengan ponsel saja. Rekaman video itu nantinya diedit, lalu diviralkan di media sosial --biasanya di kanal Youtube.

Pernah liat orang "ngeprank" dan bikin heboh orang yang jadi sasaran? Itu loh, pria berbusana arab putih-putih lengkap dengan kafiyeh di kepala, berjalan membawa ransel. Ransel itu bisa diisi macem-macemlah, tapi oleh si pelaku ransel itu dilempar ke kerumunan orang atau ke seseorang yang sedang duduk di taman, si pelempar lari menjauh.

Alhasil hebohlah orang yang dilempari ransel itu karena mengira ada pria arab melempar bom yang disimpan dalam ransel!

Ada yang lari terbirit-birit seperti baru jumpa kuntilanak, ada yang mendadak bisa loncat tinggi sehingga pagar di atas 2 meter pun bisa terlampaui meski harus pake acara nyangkut badan dulu. Ada pula yang nyebur ke kolam padahal dia ga bisa renang, dan seterusnya. Pokoknya macem-macemlah.

Ini "prank" bomboman yang agak rasis, mempermainkan stereo type bangsa, menstigma orang Arab yang seolah-olah identik dengan bom (baca: kekerasan). Padahal ketahuilah, para pelaku bom bunuh diri di sini ga ada tuh yang berpakaian Arab, ga ada juga orang Arab. Orang Indonesia tulen tapi kerasukan pemahaman radikal.

"Prank" bisa dilakukan berbagai cara, tetapi di akhir bikin orang ketawa. Pakemnya emang gitu. Kadang yang jadi objek permainan bisa menerima kalau itu "prank", guyonan semata. Tapi bagi yang ga bisa terima, bisa juga berakhir di meja hijau karena boleh jadi membahayakan keselamatan orang lain.

Program "prank" yang terkenal di televisi adalah "Just for Lough Gags". Di-setting sekaligus di-shooting sedemikian rupa yang akhirnya menerbitkan tawa bagi penontonnya.

Tadi sore terbaca berita, Andika Kangen Band (bukan Andika Perkasa yang KSAD itu), diciduk Satpol PP di Semarang karena "ngeprank" di kota itu. Andika yang biasa dipanggil "Babang Tamvan" itu sempet diseret kasar karena menjadi gelandangan di tempat yang terlarang buat gelandangan, termasuk buat pengamen.

Lucunya, kru Andika yang cepat bereaksi meyakinkan Satpol PP kalau yang diciduk Si Babang Tamvan. Padahal, seharusnya kru membiarkan Andika dicokok dan digelandang ke markas Satpol PP, biar lebih seru hasilnya.

Tugas kru kan ngikutin dan terus menyorotkan kamera tersembunyinya. Itu jauh lebih genuine hasilnya. Kalo belum apa-apa sudah bereaksi, itu namanya "prank" setengah hati.

Saran saya, jangan kamu "ngeprank" ke pacar kamu, ya, bilang cinta padahal pura-pura karena masih larak-lirik rumput tetangga, ucap sayang padahal sayangmu cuma setengah hati, katakan kangen (bukan band) padahal ada yang lain yang kamu kangenin.

"Prank" yang begini ini ga lucu sama sekali.

#PepihNugraha

Tulisan sebelumnya: Sketsa Harian [22] Mati Sia-sia