70 Tahun Leo Kristi

Lagu-lagu ‘Konser Rakyat Leo Kristi’ memberi warna pada generasi 80-90-an. Meski di pinggiran tetapi menjadi sebuah outline yang tegas.

Kamis, 8 Agustus 2019 | 20:39 WIB
0
30
70 Tahun Leo Kristi
Alm. Leo Kristi (Foto: CNN Indonesia)

Hari ini, 70 tahun lampau, Leo Imam Soekarno lahir di Surabaya. Tapi pada 21 Mei 2017 lalu, traubador itu meninggal dunia di Bandung, dalam usia 67 tahun.

Lebih dikenal sebagai Leo Kristi, ia seniman bunyi yang cukup langka di Indonesia. Bermula dari musik folk dan balada pada pertengahan dekade 70-an (bersama Gombloh dan Franky Sahilatua), Leo Kristi kemudian menjelma bukan hanya sekedar berkarya musik atau lagu. Leo beranjak lebih jauh dari itu, mampu menjadikan kata sebagai nada, dan nada sebagai kata. Syair dan lagu, adalah kesatuan utuh.

Leo piawai bukan hanya memadu-padankan bebunyian Nusantara menjadi komposisi musik yang penuh makna. Ia tidak menyuarakan sisi romantik Indonesia, melainkan puisi hidup dan spirit manusia Indonesia. Dari rakyat jelata bernama petani, nelayan, pengamen, gelandangan cilik, pak guru tua, dan anak-anak kecil sepanjang rel kereta.

Ia menyampaikan salam dari desa, kepada para pemimpin yang tuding-menuding, todong-menodong dalam nyanyian tambur jalanan. Di mana kemerdekaan seolah seperti kereta yang mencelat, tetapi meninggalkan para penyapu jalanan yang bergerak mundur.

Lagu-lagu ‘Konser Rakyat Leo Kristi’ memberi warna pada generasi 80-90-an. Meski di pinggiran tetapi menjadi sebuah outline yang tegas. Sebagai sebuah kesaksian tumbuhnya daya kritis, mengantar transisi perubahan generasinya.

Ada seratus lebih lagu-lagunya yang sudah direkam. 7 album dirilis dalam bentuk kaset, beberapa dalam CD's secara indie, juga yang terakhir Hitam Puith Orche, merupakan rekaman ulang (2014) beberapa lagu Leo Kristi dengan komposisi orchestra dengan aranger Singgih Sanjaya. Sebuah monumen dan dokumen musik yang penting.

Terimakasih Leo Imam Soekarno (lahir di Surabaya 8 Agustus 1949, dan wafat di Bandung, 21 Mei 2017), telah mewarnai musik Indonesia. Terimakasih telah mengajarkan untuk berani berhadapan dengan kenyataan.

Jika sejarah, atau apapun, tak lagi punya arti, tak ada yang perlu dipercaya. Kita bercermin pada kenyataan hari ini, sebagaimana kau tuliskan dalam ‘Jabat Tangan Erat-erat Saudaraku’, dalam album ‘Nyanyian Malam’ 1977:

Jika cermin tak lagi punya arti,
Pecahkan berkeping-keping,
Kita berkaca di riak gelombang,
Dan sebut satu kata; 
Hak-ku!

Yogyakarta, 8 Agustus 2019

***