Transkrip Lengkap dan Video Tausiyah UAS kepada Prabowo Subianto

Berdasarkan informasi dari Nanik Sudaryani, pertemuan itu direkam oleh staf UAS, kemudian TV One memperoleh hak penyiarannya secara eksklusif.

Sabtu, 13 April 2019 | 10:07 WIB
0
458
Transkrip Lengkap dan Video Tausiyah UAS kepada Prabowo Subianto
Prabowo dan Ustad Abul Somad (Foto: Republika)

Pada tanggal 11 April 2019, Ustad Abdul Somad (UAS) mengadakan pertemuan dengan Prabowo Subianto (PS) di sebuah ruangan yang berlangsung selama 12 menit.

Berdasarkan informasi dari Nanik Sudaryani, pertemuan itu direkam oleh staf UAS, kemudian TV One memperoleh hak penyiarannya secara eksklusif. Setelah saya menyimak videonya secara utuh dan berulang kali, tersirat bahwa UAS-lah yang punya inisiatif untuk mengadakan pertemuan tersebut, dikarenakan beliau merasa ada amanah yang wajib disampaikannya kepada PS.

Pertemuan mereka berdua sepertinya kurang tepat dikatakan sebagai sebuah dialog, karena UAS mendominasi pembicaraan. Tepatnya, UAS sedang menyampaikan pesan pribadi dan pesan ummat, sekaligus memberikan nasehat atau tausiyah kepada PS yang sedang mencalonkan diri sebagai pemimpin.

Saya meyakini peristiwa ini adalah peristiwa yang sangat bersejarah bagi Indonesia, baik secara politik maupun secara sosial budaya. Ada begitu banyak hikmah yang bisa diperoleh dari peristiwa ini.

Berikut dialog mereka berdua yang saya tuliskan sedetail dan seakurat mungkin;

PS:  "Terimakasih Ustad, bisa jumpa dengan saya. Saya mengikuti, Ustad sudah banyak keliling Indonesia. Nah, apa yang Ustad lihat selama keliling di Indonesia, akhir-akhir ini.

UAS: "Saya susah saya bilang mengawali ceramah itu, "Mari kita dengar tausiyah dari Al-Mukarram Abdul Somad". Begitu saya naik ke atas, semua orang (seraya mengangkat kedua tangannya dan memperlihatkan gestur salam dua jari khas pendukung Prabowo-Sandi): "Ustaaad...". Saya bilang, "Kalian kan punya jari sepuluh, kenapa yang diangkat cuman dua." (PS dan UAS tertawa).

UAS:  "Itu saya ucapkan untuk menetralisir, karena ini kan ada Panwaslu, Bawaslu."

PS: "Iya benar."

UAS:  "Saya tidak ingin Tabligh Akbar itu menjadi politik."

PS: "Benar, benar."

UAS: "Udah turun, sampai protokol bilang, "Jamaah, tolong jangan acungkan jari".

PS:  "Itu dimana-mana, Ustad?"

UAS:  "Dimana-mana Pak. Bapak bisa melihat rekamannya. Nanti ketika saya..., "Mari kita bershalawat." Katanya, karena kan untuk merubah supaya... "Shallallahu 'ala Muhammad", (menunjukkan salam dua jari dan menggoyangkan tangan) gini lagi, astaghfirullah..."

PS:  "Rata-rata dimana-mana ya Ustad?"

UAS: "Rata-rata, dari mulai ujung Aceh sampai Pulau Madura, sampai ke Sorong. Jadi, saya lihat ini..., ummat sedang berharap besar pada Bapak... Itu yang saya lihat."

...

UAS: "Jadi Allah... Ini ada satu keranjang amanah. Ijtima Ulama mengamanahkan ini, Allah taala melalui firasat Ijtihad Ulama. Tapi umat juga. Jadi ada dua dukungan, Ulama dengan umat. Mereka berikan. Dalam keranjang ini, ada pisau, ada bunga, ada buah, ada pena. Maka dua pesan Allah,

Bapak letakkan amanah ini. Yang pisau Bapak beri ke anak muda karena mereka akan pergi ke hutan berburu. Yang buah, Bapak berikan kepada anak-anak, mereka supaya makan buah supaya fresh. Yang bunga Bapak berikan kepada anak gadis, biar bisa beri mereka kepada suaminya, yang sudah menikah. Sedangkan pena Bapak berikan kepada Ulama agar mereka menulis. Jangan Bapak berikan pisau kepada anak kecil, dia akan melukai.

Letakkan amanah ini... Dan dua pesan Allah, yang kedua,

Begini Ulama Ijtima berkumpul dan umat menyambut, ini amanah ini sedang di pundak Bapak, Bapak adil. Adil. Jangan Bapak beri terlalu besar. Jangan Bapak, Bapak lihatlah dengan keadilan.

Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah nanti,

Hari itu tidak ada naungan kecuali naungan kita semua hancur dunia ini, yang pertama mendapatkan naungan itu adalah imamun adil, pemimpin yang adil. Mudah-mudahan Bapak termasuk."

PS:  "Amiin."

UAS: "Itulah yang saya lihat."

PS: "Jadi saran Ustad, apa yang harus saya lakukan? Apakah saya sudah...?"

UAS:  "Buah durian, kalau hanya sekedar berputik, orang cuek. Tapi kalau dia sudah berbuah harum ranum, ada orang akan melempar, monyet akan naik. Sekarang buahnya sedang harum, mekar. Bapak tabah, kuat, serahkan pada Allah, "La Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah". Ujian yang paling besar, jihad menjadi pemimpin. Sampai-sampai kata Imam Ahmad Bin Hambal, "Seandainya doamu makbul dan doa itu cuman satu, mintalah pemimpin yang adil."

PS:  "Itu doa dari?"

UAS:  "Imam Ahmad bin Hambal berkata atau Imam Hambali. Seandainya doamu makbul dan doa itu cuman satu, maka mintakanlahlah berikan kami Republik Indonesia pemimpin yang adil. Kalau Bapak adil, seluruh negeri ini akan mendapatkan keadilan."

PS:  "Mungkin ada lagi pesan-pesan atau, harapan-harapan perjuangan kita?"

UAS:  "Saya, kan dulu selalu mengatakan saya ikut Ijtima Ulama. Lalu setelah Ulama berijtima, berkumpul, jatuhan pilih pada Bapak. Kemudian keliling-keliling kemana-mana, ummat, "Prabowo! Prabowo!", "PS! PS!", tapi saya masih tetap..."

...

UAS: "Karena mata kita kan kadang tertipu. Kita pergi ke tepi sungai kita lihat ada tongkat, bengkok dia. Tapi ketika kita tarik, ternyata lurus. Mata menipu. Saya khawatir jangan-jangan saya tertipu dengan Pak Prabowo. Oleh sebab itu, saya cari Ulama yang tidak masyhur, tidak populer. Ini Ulama yang mashyur yang di Youtube, yang di TV.

Tapi Ulama yang tidak dikenal orang. Tapi mata batinnya bersih Pak. Allah bukakan hijab kepada dia. Ini Ulama-Ulama yang tidak perlu materi. Mungkin Bapak tidak kenal mereka. Dan saya tidak pernah tanya kepada mereka, "Kira-kira saya pilih yang mana", enggak.

Saya biarkan dia baca hati saya. Ngerti ngga dia?. Dan ketika datang, saya dekatkan telinga, apa kata dia, "Saya mimpi lima kali ketemu dia". Saya tanya, "Siapa?", "Prabowo". Kalau mimpi satu kali boleh jadi dari Syetan. Lima kali dia mimpi dia lihat Bapak. Signal dari Allah.

Saya jalan lagi, saya cari lagi ke tempat lain. Ketika salaman, dekat telinga saya, dia bisiki, "Prabowo". Bapak dia sebut. Ulama-Ulama yang tidak dikenalkan hebat di tengah masyarakat. Bukan viral seperti saya. Saya datang ke satu tempat. Ini unik, aneh. Dia tidak mau makan nasi kalau berasnya dibeli di pasar. Berasnya ditanam sendiri. Karena kalau beli di pasar, riba. Dia hanya mau minum kalau sumurnya digali sendiri. Dan tidak mau menerima tamu perempuan. Dan pernah menteri datang, diusir.

Menteri datang, "Pulang!". Saya khawatir, khawatir saya begitu datang kesana ternyata, "Somad  niatmu tidak baik, pulang!. Malu Ustad (Tertawa). Tapi saya tetap nekat datang. Biasanya tamu kesana, kalo ketemu paling dua menit, tiga menit, "Udah, sana!", minta doa, "Udah!". Saya datang. Setengah jam, Pak. 30 menit, dia bicara empat mata dengan saya. Di akhir pertemuan pas mau pulang dia bilang, "Prabowo"."

PS:  "Dia bilang gitu?"

UAS:  "Dia bilang begitu. Jadi, saya berpikir lama. Ini kalau saya diamkan sampai Pilpres. Kenapa mereka cerita ke saya? Kenapa mereka cerita ke saya? Tiap malam saya berpikir, kenapa mereka cerita ke saya?. Berarti saya harus sampaikan. Kalau tidak, ini akan jadi, seumur hidup saya mati dalam penyesalan. Abdul Somad kenapa tidak kau ceritakan? Setelah ketemu ini, selesai, kuserahkan semuanya kepada Allah SWT. Apa yang terjadi pada saya, kuserahkan semuanya kepada Engkau ya Allah, yang penting sudah kusampaikan. Plong. Malam ini saya bisa tidur lelap."

...

UAS: "Hanya saja, tentunya fitnah tentu banyak."

(Sementara itu, Prabowo tidak sanggup lagi menahan jatuhnya air mata, beliau menyekanya. Kedua matanya jadi sembab)

UAS: "Kalau Bapak memang duduk nanti menjadi Presiden. Terkait dengan saya pribadi, dua saja. Pertama, jangan Bapak undang saya ke Istana. Biarkan saya berdakwah masuk ke dalam hutan. Karena memang saya dari awal dari sana. Saya orang kampung. Saya masuk hutan ke hutan. Yang kedua, jangan Bapak beri saya jabatan. Apapun. 

Saya diantara 40 cucu Mbah Kakek saya, dia bilang, "Cucuku yang ini, satu ini hanya sekolah agama untuk mendidik ummat". Sudah, selesai. Makanya tak pernah sekolah umum. Jadi biarkanlah saya terbang sejauh mata memandang, saya ceramah. Setelah Bapak jadi nanti, biarlah Ulama-ulama yang dekat-dekat, di Jakarta ini yang menjadi. Bapak dengarkan cakap Ulama, karena Ulama berijtima mendukung Bapak. Dan Ulama yang kasyaf yang tembus mata batinnya yang melihat dalam alam ghaib pun mendukung. 

Maka, ini anugerah besar. Tapi juga ujian besar. Saya berharap, Allah menolong Bapak dalam setiap gerak dan langkah."

PS:  "Terima kasih."

UAS: "Saya tak bisa, hadits mengatakan, "Tahadu tahabu". Kalau ketemu kasih orang hadiah, supaya dia ingat dan berkasih sayang. Saya tak kaya, tak ada duit saya untuk ngasih apa-apa ke Bapak.

(UAS mengeluarkan kantongan kecil dari saku celananya dan mengeluarkan sebotol minyak wangi dan seuntai tasbih).

UAS: "Saya kasih dua biji saja, dua saja. Pertama, minyak wangi oud. Oud itu kayu gaharu."

(Prabowo kembali menyeka matanya).

UAS: Simbolnya, supaya Bapak menebarkan keharuman di negeri ini."

(UAS mengoleskan sedikit minyak wangi ke punggung telapak tangan Prabowo).

PS: "Terima kasih."

UAS: "Yang kedua, tasbih. Oud untuk orang lain Bapak harum semerbak. Tasbih, tidak bisa hati Bapak kosong. Bapak harus banyak berdzikir. Tasbih kesayangan saya. Batu natural stone. Namanya Syah Ma'sud dari Persia. Paling saya sayangi, saya beli di Madinah. Bapak tak perlu pegang didepan orang banyak. Nanti disangka orang pencitraan. Bapak cukup tahajjud malam, Bapak berdzikir, afdhal dzikri, seafdhal afdhal dzikir "Laa Ilaaha Ilallah."

(UAS membacakan sebanyak dibaca delapan kali)

UAS: Mulut berdzikir, hati di sebelah kiri."

(UAS meletakkan telapak tangan kanannya ke dada kirinya sendiri sejenak, kemudian memindahkan telapak kanannya ke bagian dada sebelah kiri Prabowo seraya membacakan tahlil sebanyak tujuh kali).

UAS: "Ana inahya, dengan "Laa Ilaaha Ilallah", kita hidup. Dengan "Laa Ilaaha Ilallah", kita mati. Dengan "Laa Ilaaha Ilallah" juga kita akan berjumpa bersama Rasulullah SAW. Itulah yang bisa saya sampaikan."

(UAS memasukkan hadiahnya ke dalam kantong)

UAS: "Apa yang terjadi setelah ini, kita serahkan sama Allah SWT."

(UAS memberikan kantong tersebut kepada Prabowo sambil menyalaminya).

PS:  "Terimakasih, kembali."

UAS: "Sukses selalu Pak."

PS: "Terimakasih, Pak Ustad."

UAS:  "Sama-sama kita berdoa kepada Allah."

PS: "Terima kasih."

(UAS menengadahkan kedua tangannya, diikuti oleh Prabowo yang kemudian memejamkan kedua matanya secara khusyuk)

UAS membaca doa pembukaan.

UAS: "___", "Ya Allah, tanamkan taufik dan hidayahMu ke dalam hati kami, sehingga kami bisa berjuang menolong agamamu, dengan amal yang Kau cintai dan Kau ridhai." "___", "Jadikan Negara Kesatuan Republik Indonesia, negeri yang aman, damai, tenteram, menjunjung kebhinnekaan, dibawah Panji Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia." "__", "Berikan kami pemimpin yang adil dan amanah. "___", "Jangan Kau hukum kami karena dosa-dosa kami, Kau angkat pemimpin pengkhianat, yang tak sayang kepada kami dan tak takut padamu ya Allah." "___", "Jadikan negeri ini aman damai, Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur.

UAS membaca shalawat dan penutup doa.

UAS: "Taqaballallahu minkum, minna wa minkum taqabbal yaa Kariim."