Di Bawah Lindungan Amien Rais

Sabtu, 24 November 2018 | 17:51 WIB
2
606
Di Bawah Lindungan Amien Rais
Amien Rais (Foto: Harian Indo)

Dua kali saya pernah patah hati ketika mengikuti pemilu Indonesia, 1999 dan 2004. Kecewa disebabkan pak Amien Rais, tokoh idolaku saat itu, gagal didapuk menduduki kursi presiden.

Di tahun 1999, saya kecewa ketika Poros Tengah tetiba hanya mengganjar Pak AR sebagai Ketua MPR. Kupikir saat itu, betapa antiklimaksnya Reformasi 1998. Tak memberi ganjaran setimpal untuk tokoh penggerak reformasi ini.

Pak Amien Rais adalah tokoh pertama yang berani mewacanakan “suksesi” di tahun 1993, ketika kekuasaan Soeharto sedang kuat-kuatnya. Tahun 1995, meski dibayang-bayangi ketidaksukaan rezim Orde Baru, Amien Rais terpilih jadi Ketua Umum Muhammadiyah, ormas terbesar ke-2 se-Nusantrara.

Ketika Prof Emil Salim mengajukan diri sebagai Cawapres di pemilu 1997 – ketika Soeharto diajukan lagi untuk ke-sekian kalinya menjadi Presiden, Amien Rais malah lantang mengambil sikap anti-mainstream “Buat apa menjadi ban serep saja. Saya bersedia jadi Calon Presiden” – pada sosok AR ini bersatu semua karakter; kecendekiawanan, pemberani, moralis, muda.

Ketidaksukaan pak Harto akan AR ini terang-terangan diungkap berkali-kali. Laiknya ormas besar, pengurus baru wajib sowan ke pak Presiden paling berkuasa ini. Namun sampai beliau mandeg pandito, AR tak pernah ditemui Soeharto. Bahkan ketika tokoh-tokoh nasional diajak berembug kala di ujung kekuasaannya, Soeharto menolak memasukkan nama Amien Rais dalam daftar undangan.

Pada pemilu 1999, saya mencoblos PAN dan PK, sebagai bentuk dukungan atas reformasi. Apalagi dua partai ini sejatinya adalah “anak didik” yang dibidani oleh Amien Rais setelah reformasi.

Tahun 1999 sejatinya kesempatan besar buat AR naik ke tampuk presiden. Sayang, dia menolak tawaran Habibie dan Yusril kala itu. “Saya sudah disumpah menjadi Ketua MPR selama 5 tahun” ujar AR ketika tawaran itu datang. Akhirnya Poros Tengah mengangkat Gus Dur, Ketua PBNU saat itu menjadi Presiden ke-4 (atau Presiden ke-5 jika PDRI ikut dihitung).

Saya kecewa, karena sebagai mahasiswa yang ikut berdemo di kelahiran reformasi, buat saya Amien Rais layak diganjar posisi tersebut. Ia tokoh muda, pimpinan ormas Islam besar, dan sangat pemberani ketika semua tokoh ketakutan kepada Soeharto. “Urat takutnya sudah putus” kata banyak tokoh.

Kekecewaan kedua saya terjadi lagi di tahun 2004. Pertamakali dimulai pemilihan presiden  dan wapres langsung, Amien Rais maju bersama Siswono Yudohusodo. Saya masih menanggung harapan besar bahwa di tangan pak Amien Rais, Indonesia mesti lebih maju dan besar. Di pemilu 2004, saya kembali mencoblos PAN dan PKS, konsisten dengan tokoh idola saya.

Di Pilpres langsung ini, sayangnya pak AR-Siswono hanya mengumpulkan suara 14.6% suara rakyat, hanya menempati posisi ke-3 saja dari kandidat lainnya. Suara yang diraup AR jauh tertinggal di bawah 3 kandidat lainnya (SBY-JK 33.4%, Mega-Hasyim 26.6% dan Wiranto-Wahid 22%).

Saya nyaris tak percaya kala itu. Bagaimana mungkin masyarakat melupakan Sang Tokoh Reformasi dan tak mampu membawanya bahkan ke putaran ke-2.  Sampai saya kemudian memilih Golput di putaran ke-2. Saya tak bersedia mengalihkan suara ke SBY-JK atau Megawati yang menurut saya tak punya idealism reformasi seperti AR. Tak sudi saya.

Sejak mahasiswa sampai sekarang, saya masih menyimpan buku kecil berjudul “Tugas Cendekiawan Muslim”. Buku ini adalah kumpulan tulisan dan pidato Ali Syariati, seorang sosialis yang meletakkan pondasi pemikiran besar menjelang Revolusi Islam Iran 1979. Bersama Ayatullah Muthahhari, sosok Syariati ini dikenang sebagai dua tokoh yang banyak mempengaruhi pikiran anak-anak muda penggerak revolusi Iran itu.

Di Indonesia, buku Ali Syariati “Tugas Cendekiawan Muslim” ini dialihbahasakan dan diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Jamaah Salahuddin UGM di tahun 1984. Penerjemahnya tak lain adalah Amien Rais muda kala itu.  Buku yang menekankan bagaimana seorang cendekiawan muslim mengubah nasib bangsanya ini, menjadi sebuah buku wajib yang dibaca oleh banyak aktifis muslim di Indonesia.

Tentu sebagai penerjemah langsung, Amien Rais juga menekuri erat-erat pemikiran Ali Syariati itu. Warna pemikiran Ali Syariati, meski berbeda mazhab dengan Amien Rais, tercermin benar di buku Amien Rais yang diberi judul “Cakrawala Islam – Antara Cita dan Fakta” yang diterbitkan Mizan pertamakali tahun 1996.

Ini salah satu dorongan utama saya saat itu untuk mengidolakan pak Amien Rais, yang padanya saya bertekad meletakkan diri saya di bawah lindungan pemikirannya. Amien Rais, sosok cendekiawan dan pemimpin paling komplit yang pernah dimiliki umat di Indonesia.

Selain meneriakkan pertamakali issue suksesi – peralihan kepemimpinan di masa Orde Baru, Amien Rais juga yang mempopulerkan istilah KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) – tiga symbol kebobrokan pemerintahan Orde Baru saat itu.

Karena gebyah uyah KKN saat itu, keluarga Soeharto pernah ditetapkan sebagai keluarga terkaya di dunia dengan angka kemakmuran mencapai US$35 Billion di akhir masa kekuasaannya – menurut majalah Independent dan Transparancy International. Padahal saat itu, GDP Indonesia hanya mencapai US$90B, dimana sepertiganya dimiliki oleh Soeharto dan kroninya.

Pak Amien Rais, pahlawan reformasi idolaku itu, kini seperti bersalin rupa. Saya tak lagi menemukan setitik kesamaan dengan apa yang saya bangga-banggakan sejak mahasiswa dulu.

Ketika dulu Amien Rais lantang menentang KKN, kini beliau adalah pembela utama Taufik Kurniawan, Wakil Ketua DPR dari PAN yang menjadi tersangka penerima suap terkait pengurusan Dana Alokasi Khusus (DAK) Kabupaten Kebumen yang bersumber dari APBN Tahun 2016 senilai Rp 100 miliar. Sehari sebelum ditetapkan sebagai tersangka, Amien Rais petantang petenteng di gedung KPK menantang ketuanya sebagai bentuk pembelaan atas sang kader PAN tersebut.

Amien Rais juga seperti abai dengan buruknya nepotisme dalam system politik. Dia dulu muak dengan berbondong-bondongnya anak-anak keluarga Soeharto dan kroninya masuk ke bisnis dan politik.

Tapi di tahun 2019, kita bisa menera empat nama anak-anak Amien Rais yang didorong maju sebagai caleg PAN.  Hanafi Rais (Caleg DPR Dapil DIY, Hanum Rais (Caleg DPRD – Dapil Sleman), Mumtaz Rais (Caleg DPR – Dapil Jateng VI), dan si bontot Baihaqy Rais (Caleg DPRD – Dapil Kulonprogo).

Mendorong anak-anaknya terjun ke politik adalah persoalan yang jamak di Indonesia kini, dan salahsatunya dilakukan oleh tokoh reformasi Amien Rais. Kalau sudah begini, di mana spirit perjuangan pembersihan dunia politik kita dari praktek nepotisme?

Dulu Pak Amien Rais adalah yang terdepan mengecam habis-habisan anak-anak Soeharto dan usahanya. Kini, bersama anak-anak Soeharto yang sampai sekarang masih makmur gemah ripah loh jinawi ini, Amien Rais merentangkan tangan berkoalisi dan sejempol seirama mendukung mantan menantu Soeharto, Prabowo sebagai calon presiden RI menantang Jokowi.

Saya tak habis pikir, bagaimana bisa kebanggaaan dan rasa hormat besar ini kepada sosok Amien Rais sedikit demi sedikit saya lunturkan. Apalagi dengan jargon beliau memilah “Partai Tuhan” dan “Partai Setan” di kontestasi politik yang sejatinya duniawi semata ini?

Pak Amien Rais idolaku, tak bisakah kau mengekalkan kenangan dan kebanggaan ini barang beberapa tahun saja sampai engkau benar-benar pensiun dari tugas kecendekiawanan ini?

***