Kawal Pemilu Kita: Jangan Sampai Salah Lagi Sujud Syukur

Tugas relawan sangat mudah, ia hanya perlu memotret formulir C1 Plano di TPS tempatnya mencoblos dan mengunggahnya ke website Kawal Pemilu.

Senin, 15 April 2019 | 23:31 WIB
0
623
Kawal Pemilu Kita: Jangan Sampai Salah Lagi Sujud Syukur
Prabowo sujud (Foto: Tempo.co)

Tadi pagi saya buka WA group, seorang teman mengabarkan kalau kemarin di WA keluarga besarnya ada yang “left” grup dan sekalian pamit tidak akan ikut arisan keluarga, yang berarti Idul Fitri ini akan berkurang satu keluarga. Sedih sekali memang. Pilpres kali ini memang benar-benar memecah-belah masyarakat hingga ke level keluarga.

Salah satu akar utama perpecahan ini, menurut hemat saya, adalah Pilpres 2014. Kampanye hitam dan maraknya hoax dengan skala yang “massive” (dahsyat) baru terjadi di Pilpres 2014. Hoax pasti ada di setiap pemilu, tapi belum pernah se-dahsyat Pilpres 2014.

Jokowi dihantam berbagai kampanye hitam, mulai dari Jokowi anti islam, memiliki nama asli Hebertus, dikendalikan oleh kelompok Kristen, keturunan Cina, bapaknya adalah Oey Hong Liong, dibacking cukong-cukong Cina, Jokowi itu agen Zionis, agen Freemason, agen Amerika, agen Syiah, agen komunis, ibu-bapaknya PKI, Jokowi gagal di Solo, Jokowi mengkhianati sumpah jabatan, dan seabreg tuduhan lainnya [1].

Kalau dikerucutkan, dua fitnah yang sangat sering dilekatkan ke Jokowi adalah Jokowi anti Islam dan keturunan PKI. Strategi kampanye yang diterapkan adalah menghasut masyarakat Muslim agar mereka percaya bahwa Jokowi adalam musuh Islam, sehingga timbul kebencian kepada Jokowi. Bisa dibayangkan jika kampanye kebencian ini ditebarkan secara massive oleh para kader dan simpatisan partai yang suka berda’wah yang sangat fanatik dan militan, maka tidak mengherankan jika banyak masyarakat Muslim percaya kalau Jokowi itu adalah musuh Islam.

Kebohongan yang terus didengungkan secara berulang-ulang di masyarakat, lambat-laun akan terlihat sebagai kebenaran. Contoh yang paling gamblang dan telanjang akan hal ini adalah ketika  Raja Dangdut, Haji Rhoma Irama menyebarkan fitnah bahwa orang tua Jokowi adalah Kristen dalam ceramahnya di Masjid Al-Isra, Tanjung Duren, Jakarta Barat [2]. Berikut kutipan ceramah Rhoma:

“Jokowi Muslim, tapi orangtuanya Kristen, suku bangsanya Jawa. Ahok suku bangsanya Cina, agamanya Kristen. Ini harus dijelaskan bahwa siapa pemimpin agar kita memilih pemimpin tidak seperti beli kucing dalam karung” [3].

Namun Rhoma merasa tidak bersalah, karena ia menganggap bahwa ia hanya menyebarkan tuduhan orang. Dan yang lebih mencengangkan, ia menganggap bahwa internet adalah sumber yang valid sebagaimana ia sampaikan di acara ILC TV One, “Rhoma Menggoyang Sara” [4][iv].

“Yang saya katakan adalah Jokowi itu orang tuanya Kristen. Dan ini pun saya dapat dari internet. Jadi bukan semata-mata dari pengetahuan saya, tapi internet yang beredar seperti itu. Jadi sifatnya, saya mendapatkan informasi yang luas di masyarakat. Ini berita yang sangat meluas yang umum. Di internet ini kan VALID boleh dibilang. Di seluruh, dimana-mana, di FB, di twitter, seperti itu.”  

Jadi memang benar, kebohongan yang terus diulang-ulang dan menyebar luas di masyarakat akan terlihat sebagai suatu kebenaran. Kalau orang seperti Rhoma saja menganggap bahwa berita yang telah beredar luas di FB dan twitter adalah valid (saya sarankan pembaca menonton videonya [4]), lantas bagaimana masyarakat di akar rumput.

Tak mengherankan kalau hoax dan fitnah tumbuh subur di masyarakat kita. Dan ini dimanfaatkan secara maksimal untuk mengkampanyekan kebencian kepada Jokowi. Pesan yang disampaikan ke masyarakat adalah Jokowi musuh Islam, maka mereka yang mengaku beragama Islam harus memilih Prabowo.

Ketika propaganda ini disampaikan oleh para kader dan simpatisan yang fanatik secara konsisten dari masjid ke masjid, dari satu pengajian ke pengajian, satu rumah ke rumah lainnya, hinga masuk ke lingkungan keluarga, baik offline maupun online via sms, media sosial dan whatsapp; diserukan oleh seleb medsos semacam Jonru, dan diamplifikasi oleh portal-portal penyebar hoax berkedok Islam seperti PKS-Piyungan, VOA Islam, dsb. [5]; maka tak terelakkan lagi, masyarakat percaya, bahwa Jokowi adalah musuh Islam.

Tidak mengherankan jika ketiga emak-emak di Karawang yang melakukan kampanye hitam door-to-door beberapa waktu yang lalu, memang percaya bahwa jika Jokowi menang maka tidak akan ada lagi adzan dan pernikahan sesama jenis akan dilegalkan [6]. Begitu pula dengan seorang ibu simpatisan PKS yang melakukan kampanye hitam di Makassar [7]. Ia yakin bahwa Jokowi adalah musuh Islam dan coba meyakinkan masyarakat dari rumah ke rumah.

“Kita pikirkan nasib agama kita, anak-anak kita, walaupun kita tidak menikmati. Tapi lima tahun, sepuluh tahun yang akan datang ini, apakah kita mau kalau pelajaran agama di sekolah dihapuskan oleh Jokowi bersama menteri-menterinya? Itu kan salah satu programnya mereka. Yang pertama, pendidikan agama dihapuskan dari sekolah-sekolah. Terus rencananya mereka itu, pesantren itu akan menjadi sekolah umum,“ ujarnya.

Mereka yang berkampanye dari rumah ke rumah ini yakin bahwa mereka sedang berjihad untuk Islam, sedang berjuang melawan Jokowi yang anti Islam, sedang membela agama Islam. Sungguh mereka sama sekali tidak berjuang untuk Islam. Mereka sejatinya tengah berjuang untuk memenuhi hawa nafsu sekelompok orang yang mencoba menggapai kekuasaan dengan menghalalkan segala cara [1].

Puncak Hoax pada Pilpres 2014 adalah ketika PKS mengumumkan hasil real count Pilpres 2014 dengan hasil kemenangan untuk Prabowo-Hatta. Setelah diselidiki ternyata hasil real count yang diterbitkan oleh PKS angka-angkanya persis dengan hasil Polling yang dilakukan PKS pada 5 Juli 2014, atau empat hari sebelum Pemilu [8], sehingga hasil real count PKS tersebut diduga palsu sebagaimana diberitakan oleh Republika [9], padahal Prabowo dan Hatta sudah melakukan sujud syukur kemenangan di depan pendukungnya.  

Lembaga-lembaga survei yang melakukan quick count mulai dari RRI, Lingkaran Survei Indonesia, Litbang Kompas, CSIS, Indikator Politik Indonesia, Populi Center, Saiful Mujani Research Center, semuanya melaporkan kemenangan Jokowi-JK [10].

Memang ada empat lembaga survei yang melaporkan kemenangan Prabowo-Hatta (Puskaptis, Indonesia Research Center, Lembaga Survei Nasional, dan Jaringan Suara Indonesia), namun kredibilitasnya dipertanyakan oleh para pakar [11]. Bahkan Hanta Yudha, salah satu nara sumber yang paling populer di TV-ONE, membatalkan kontraknya dengan TV-ONE karena pada tanggal 9 Juli pagi, tiba-tiba ada tiga lembaga survei baru yang bekerja sama dengan TV-ONE.

Benar apa yang diduga, ketiga lembaga itu melaporkan kemenangan Prabowo-Hatta. Malam harinya Hanta Yudha, mengumumkan hasil quick count Poltracking (lembaga survei yang dipimpinnya) di METRO TV, dimana Pasangan Jokowi-JK unggul dengan 53.37%, sementara Prabowo-Hatta hanya 46.63%. Berkenaan dengan batalnya pengumuman hasil Poltracking di TV-ONE, Hanta Yudha berkata ia sama sekali tidak kecewa, malah cukup bahagia dengan keputusannya [12].

Melihat gelagat koalisi Prabowo-Hatta yang tidak mau mengakui kekalahannya, padahal quick count lembaga-lembaga survey sudah memberikan kemenangan kepada Jokowi-Jk (kecuali lembaga survey yang disiarkan TV-ONE), hal ini cukup mengkhawatirkan. Apalagi PKS tidak tinggal diam dan mengklaim bahwa hasil yang mereka peroleh bukan lagi cuma quick count seperti yang dilakukan lembaga survey tapi sudah REAL COUNT. Beginilah jadinya kalau sebuah partai ikut kontestasi Pemilu tapi tidak siap untuk kalah, maka segala cara akan dihalalkan.

KPU memerlukan waktu sekitar 2 minggu untuk bisa menyelesaikan real count secara manual. Di tengah kegundahan ini, muncul ide jenius dari seorang ahli IT Indonesia yang tinggal di Singapura bernama Ainun Najib. Ia tahu bahwa foto scan formulir C1 hasil pemilu dari setiap TPS diunggah ke website KPU dan bisa diakses oleh publik. Maka timbulah ide untuk melakukan real count berdasarkan formulir C1 tersebut.

Ainun bersama empat orang rekannya, Felix Halim (California, AS), Andrian Kurniady (Sydney, Australia), Ilham W.K. (Kaiserlautern, Jerman) dan Fajran Iman Rusadi (Amsterdam, Belanda) membangun situs kawalpemilu.org [13]. Dengan dibantu sekitar 700 relawan, Kawal Pemilu berhasil menyelesaikan rekapitulasi formulir C1 di 478.828 TPS [14].

Real count yang dilakukan oleh Kawal Pemilu ini hasilnya sama dengan hasil real count yang diterbitkan oleh KPU, yaitu 53,15% untuk Jokowi-JK dan 46,85% untuk Prabowo-Hatta [15]. Terbukti sudah bahwa Real Count PKS hanya isapan jempol belaka, dan quick count yand disiarkan TV-ONE adalah quick count “abal-abal”. PKS bukan hanya membohongi Prabowo, tapi membohongi seluruh rakyat Indonesia.

Dan netizen pun melabeli TV-ONE dengan sebutan TV “Oon” (bodoh) dengan slogannya “memang beda” karena memang beda sendiri hasil quick count-nya. Kita harus berterima kasih kepada Ainun Najib dan tim Kawal Pemilu yang bisa menyajikan real count alternatif sebelum real count resmi diterbitkan oleh KPU.

Untuk mengantisipasi adanya Real Count sesat lagi seperti yang pernah diterbitkan PKS pada Pilpres 2014, maka keberadaan Kawal Pemilu pada Pilpres 2019 ini menjadi penting. Masyarakat membutuhkan hasil real count yang kredibel sambil menunggu hasil real count resmi yang dihitung secara manual oleh KPU. Apalagi sudah ada usaha-usaha yang mencoba untuk mendelegitimasi Pemilu, seperti hoax tujuh kontainer surat suara yang sudah dicoblos [16], hoax server KPU di Singapura disetting memenangkan Jokowi-Amin dengan perolehan 57% [17], hingga yang terakhir kasus surat suara yang sudah tercoblos di Malaysai [18].

Kawal Pemilu kembali hadir di Pilpres 2019. Namun berbeda dengan lima tahun yang lalu, Kawal Pemilu kali ini akan melakukan real count berdasarkan formulir C1 Plano yang akan difoto oleh para relawan. Ada kurang lebih 890 ribu TPS di seluruh Indonesia, karenanya Kawal Pemilu memerlukan banyak sekali relawan untuk bisa memotret seluruh TPS se-Indonesia. Ini adalah kesempatan kita untuk berkontribusi langsung mengawal hasil Pemilu.

Tugas relawan sangat mudah, ia hanya perlu memotret formulir C1 Plano di TPS tempatnya mencoblos (dan sekitarnya jika memungkinkan) dan mengunggahnya ke website Kawal Pemilu. Tak perlu waktu lebih dari 15 menit, untuk memotret formulir C1 Plano dan mengunggahnya. Hal yang sangat sederhana, dan bisa dilakukan oleh siapapun yang mau berkontribusi. Siapapun bisa menjadi relawan, baik pendukung 01 ataupun 02. Semua hasil di Kawal Pemilu transparan dan bisa diakses secara publik.

Saya pribadi sudah mendaftar sebagai relawan Kawal Pemilu. Jika teman-teman ingin ikut berpartisipasi, tinggal daftar melalui link berikut:

https://upload.kawalpemilu.org/c/0xji563f1d

Perlu 35 hari bagi KPU untuk menyelesaikan real count. Kawal Pemilu sebagai real count alternatif yang netral dan transparan diharapkan dapat sedikit banyak meredam kegelisahan dan gejolak yang mungkin timbul selama menunggu hasil resmi dari KPU.

Mari kita bantu pemerintah untuk mengawal pelaksanaan Pemilu dan juga hasilnya.

Maulana M. Syuhada

***

REFERENSI

[1] Ketika Kampanye Hitam Gagal Menghentikan Orang Baik (13 Juli 2014)
https://www.kompasiana.com/maulanasyuhada/54f6ac10a33311df5b8b45ab/ketika-kampanye-hitam-gagal-menghentikan-orang-baik?page=all

[2] PANWASLU KUMPULKAN BUKTI CERAMAH SARA RHOMA IRAMA (Youtube, 2 Agustus 2012)
https://www.youtube.com/watch?v=V0guaKIdapU

[3] Ini isi ceramah Rhoma yang diduga berbau SARA (Sindo, 9 Agustus 2012)
https://metro.sindonews.com/read/664388/63/ini-isi-ceramah-rhoma-yang-diduga-berbau-sara-1344505468

[4] Ketika Ibunda Jokowi di bilang kristen sama Rhoma Irama,ini tanggapan bp.jokowi (Youtube, 9 Apr 2019)
https://www.youtube.com/watch?v=vMybYC5KASk

[5] Masyarakat Rumor, Budaya Rumor: Mempertanyakan Integritas Wartawan (Bagian 1) (1 Juli 2014)
https://www.kompasiana.com/maulanasyuhada/54f6d0a4a33311665b8b495c/masyarakat-rumor-budaya-rumor-mempertanyakan-integritas-wartawan-bagian-1

[6] Video 'Jika Jokowi Terpilih, Tak Ada Lagi Azan' Tuai Kontroversi, 3 Wanita Diamankan ke Polda Jabar (Youtube, Tribunwow Official, 24 Feb 2019)
https://youtu.be/9cMaD7QytMc

[7] INI WAJAH EMAK PKS SEBAR KAMPANYE HITAM (Youtube, 5 Mar 2019)
https://youtu.be/8HsZmxmzs2k

[8] Ini Hasil Real Count oleh PKS di 33 Provinsi (Merdeka.com, 10 Jul 2014),
https://m.merdeka.com/politik/ini-hasil-real-count-oleh-pks-di-33-provinsi.html

[9] Real Count PKS diduga palsu (Republika, 11 Jul 2014),
https://www.republika.co.id/berita/pemilu/hot-politic/14/07/11/n8jed6-real-count-pks-diduga-palsu

[10] "Quick Count", Ini Hasil Lengkap 11 Lembaga Survei (Kompas, 9 Juli 2014)
https://nasional.kompas.com/read/2014/07/09/18490431/.Quick.Count.Ini.Hasil.Lengkap.11.Lembaga.Survei

[11] Kredibilitas "Quick Count" yang Menangkan Prabowo-Hatta Dipertanyakan (Kompas, 9 Juli 2014) https://money.kompas.com/read/2014/07/09/191233326/Kredibilitas.Quick.Count.yang.Menangkan.Prabowo-Hatta.Dipertanyakan

[12] Survei Poltracking Batal Disiarkan Sebuah Stasiun TV (Youtube, Metrotvnews, 9 Juli 2014)
https://www.youtube.com/watch?v=CY_1VkWFL-8

[13] Guarding Indonesia's election (in their spare time) (Google Asia Pacific Blog, 11 Aug 2014)
https://asia.googleblog.com/2014/08/guarding-indonesias-election-in-their.html

[14] [INTERVIEW] Ainun Najib: kawalpemilu.org ‘Kehendak Ilahi’ (Global Indonesian Voices, 20 Jul 2014)
http://www.globalindonesianvoices.com/14541/interview-ainun-najib-kawalpemilu-org-kehendak-ilahi

[15] Ini Hasil Resmi Rekapitulasi Suara Pilpres 2014 (Kompas, 22 Jul 2014)
https://nasional.kompas.com/read/2014/07/22/20574751/Ini.Hasil.Resmi.Rekapitulasi.Suara.Pilpres.2014

[16] Terdakwa Hoax 7 Kontainer Surat Suara Berpose Dua Jari (Tempo, 4 Apr 2019)
https://nasional.tempo.co/read/1192447/terdakwa-hoax-7-kontainer-surat-suara-berpose-dua-jari

[17] KPU Dituding "Setting" Server, Jokowi Disebut Menang 57 Persen hingga Lapor ke Polisi (Kompas, 5 Apr 2019)
https://nasional.kompas.com/read/2019/04/05/17173311/kpu-dituding-setting-server-jokowi-disebut-menang-57-persen-hingga-lapor-ke?page=all

[18] KPU: Surat Suara Tercoblos di Malaysia Tidak Dihitung (Detik, 14 Apr 2019)
https://news.detik.com/berita/d-4510295/kpu-surat-suara-tercoblos-di-malaysia-tidak-dihitung