Ketika Hasil Survei Internal Jadi Hiburan

Selasa, 12 Maret 2019 | 14:47 WIB
0
85
Ketika Hasil Survei Internal Jadi Hiburan
Foto: Liputan6.com

Sudah menjadi tradisi dalam kontestasi Pilkada atau pun Pilpres, bahwa hasil survei elektabilitas menjadi indikator sebuah kemenangan, namun tidak bisa dipungkiri, ada juga yang tidak mempercayainya begitu saja.

Hasil survei elektabilitas dari lembaga survei hanyalah sekedar gambaran secara elektoral, yang menggambarkan tingkat keterpilihan seorang kandidat, dan itu biasanya semakin dekat waktu penyelenggaraan kontestasi, cenderung akan terus berubah.

Mempertuhankanhasil elektabilitas yang sifatnya sesaat, tentulah bukan cara yang bijak. Namun menjaga kemungkinan turun naiknya hasil elektabilitas tersebut adalah hal yang penting dilakukan oleh setiap kubu kandidat.

Kubu 02 tidak terlalu mempercayai hasil survei yang dikeluarkan lembaga survei yang ada. Mereka menganggap apa yang disajikan cenderung memenangkan kubu 01. Maka dari itu, kubu 02 merilis hasil survei secara internal, yang hasilnya memang memenangkan Prabowo-Sandi, meskipun menang tipis, itupun sudah menghibur hati.

Sah saja, sebagai sebuah usaha untuk memotivasi Tim pemenangan dan menghibur junjungan. Setiap kontestan pastinya punya cara sendiri-sendiri dalam memotivasi tim pemenangannya. Kubu kosong 01 juga tidak perlu berpuas diri dengan hasil survei, karena hasil akhir tidaklah ditentukan oleh hasil survei elektabilitas.

Sebagai Petahana jelas Jokowi lebih banyak diuntungkan, apresiasi terhadap hasil kerjanya dalam kurun waktu 4,5 tahun, sangat berpengaruh terhadap elektabilitasnya. Hal tersebut pengaruh dari naiknya tingkat kepercayaan publik terhadap Kinerja Jokowi. Namun tetap saja Tim Kampanye Nasional Jokowi-Amin, tidak boleh berpuas diri.

Dari 9 lembaga survei yang dianggap kredibel, semua rerata menempatkan elektabilitas Jokowi-Amin lebih unggul daripada Prabowo-Sandi, bahkan lembaga survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) merilis elektabilitas Jokowi mencapai 60 persen. Jauh melampaui Prabowo yang berada di angka 29 persen.
Hasil survei tersebut jelas tidak membuat kubu 02 senang, sehingga berbagai pernyataan pun keluar dari BKN Prabowo-Sandi, ada yang menganggap lembaga surveinya tidak kredibel, bahkan sumber dana lembaga survei pun dipertanyakan. Inikan mengindikasikan ketidakpuasan terhadap hasil survei, padahal dengan tidak mempercayai hasil survei saja sudah cukup.

Ternyata hasil survey bisa menjadi media hiburan baru, baik bagi masyarakat, maupun bagi Tim Kampanye kontestan Pemilu. Namun ada juga yang hasil survei hanyalah alat untuk mempengaruhi pilihan publik. Yang jelas hasil survei itu dirilis hanyalah untuk dijadikan indikator tingkat keterpilihan, dan bukanlah sesuatu yang mutlak.

Lantas sejauh apa hasil survei bisa dipercayai akurasinya.? Hasil survei yang dirilis pada prinsip dasarnya hanya jika saat itu Pemilu dilaksanakan, maka seringkali, hasilnya berbeda dengan hasil saat pencoblosan berlangsung. Banyak hal yang mempengaruhi hasil akhir, bisa jadi masyarakat yang tadinya belum menentukan pilihan, akhirnya menentukan pilihan.

Direktur Eksekutif SMRC, Djayadi Hanan, mengatakan, hasil survei yang menunjukan tren kenaikan menjadi penting sebagai indikasi pada hari H (Pilpres 2019). "Dari pengalaman tiga kali pemilihan presiden, calon yang suara dukungannya naik dan unggul terus sulit dikalahkan di hari H,"

Djayadi membandingkan dengan tren elektabilitas Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan tren elektabilitas Jokowi. Keduanya memiliki kesamaan sebagai capres dengan atau tanpa petahana dalam pilpres.

Pada Pilpres tahun 2004 dan 2014, SBY dan Jokowi sama-sama bukan capres pertahana, namun keduanya punya tren elektabilitas unggul atas lawannya hingga menang. Begitu juga pada 2009 dan 2019, Jokowi dan SBY sama-sama capres petahana.

"SBY mengakhiri dengan kemenangan pada 2009. Bagaimana Jokowi pada 2019? Kalau melihat pola tren dukungan pada SBY yang sukses pada 2009, Jokowi punya peluang serupa," katanya.

***