The Moment of Truth

Beruntung sekarang sudah ada metode hitung cepat sehingga hasil pemungutan suara sudah dapat diprakirakan sebelum semua suara yang masuk selesai dihitung.

Sabtu, 13 April 2019 | 18:42 WIB
0
649
The Moment of Truth
Kampanye akbar Jokowi (Foto: Merdeka.com)

Pada tanggal 17 April 2019, rakyat Indonesia akan berbondong-bondong mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk memberikan suaranya,memilih partai dan perwakilannya serta memilih Presiden untuk periode 2019 hingga 2024. Hari itu, merupakan pembuktian (the moment of truth) siapa Presiden yang akan memimpin Indonesia untuk periode 2019-2024.

Sebelum pemungutan suara di TPS-TPS, yang ada hanyalah saling klaim di antara dua kubu calon Presiden untuk periode 2019-2024, yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto, tentang siapa yang lebih unggul. Sebagian survei yang telah dilakukan, boleh saja memberi keunggulan kepada Joko Widodo, yang akrab disapa Jokowi, tetapi semua itu barulah merupakan indikasi.

Dengan kata lain, jika pemungutan suara dilakukan pada saat survei dilakukan, mungkin hasilnya sama seperti yang diindikasikan oleh survei itu. Namun, persoalannya, ada jarak waktu antara saat survei dilakukan dengan saat pemungutan suara dilakukan sehingga hasilnya bisa sama, atau bisa juga berbeda.

Pada tanggal 7 April 2019 lalu, calon Presiden Prabowo Subianto menggelar kampanye akbar di Gelora Bung Karno, yang menurut klaim dia dihadiri oleh 1 juta pendukungnya. Kemudian, pada tanggal 13 April 2019, calon Presiden Jokowi menggelar kampanye akbar di tempat yang sama. Para pendukung calon Presiden Jokowi yang meringankan langkah untuk datang ke sana sangat banyak.

Terserahlah berapa jumlah pendukung calon Presiden Jokowi yang mau diklaim oleh kubu calon Presiden Jokowi, 1 juta atau lebih, karena sesungguhnya hal itu tidaklah terlalu penting. Oleh karena jumlah pemilih untuk pemilihan umum 2019 di Jakarta ada 7,7 juta orang, atau tepatnya 7.761.598 orang. Dengan demikian, ada lebih dari 6 juta pemilih yang tidak ikut dalam hiruk- pikuk di Gelora Bung Karno, baik pada kampanye akbar calon Presiden Prabowo Subianto maupun calon Presiden Jokowi.

Sebab itu, kubu dan pendukung calon Presiden Jokowi maupun Prabowo Subianto tidak boleh lengah atau berpuas diri. Segala upaya harus dilakukan hingga saat-saat terakhir sebelum tanggal 17 April 2019, saat pemungutan suara dilakukan. Pada pemilihan umum 2019, jumlah pemilih, baik di dalam maupun di luar negeri, berjumlah 196,5 juta orang.

Seperti kita ketahui, dalam sistem demokrasi, dikenal ungkapan bahasa Latin, Vox populi, vox Dei, yang terjemahannya adalah suara rakyat adalah suara Tuhan. Ungkapan itu tidak mengada-ada. Pada setiap pemilihan Presiden dilangsungkan, suara rakyatlah yang menentukan siapa di antara calon Presiden yang akan keluar sebagai pemenang. Dengan kata lain, di dalam pemilihan Presiden, suara rakyat sama saktinya seperti suara Tuhan. Tidak ada yang tahu siapa yang akan keluar sebagai pemenang, hingga seluruh pemilih memberikan suaranya di TPS.

Baik kubu 01 maupun kubu 02 hanya bisa harap-harap cemas menunggu hasil perhitungan suara pemilih yang disalurkan melalui TPS yang tersebar di seluruh Indonesia dan di luar negeri. Tidak ada satu pihak pun yang bisa yakin 100 persen akan hasil pemungutan suara pada tanggal 17 April 2019.

Beruntung sekarang sudah ada metode hitung cepat sehingga hasil pemungutan suara sudah dapat diprakirakan sebelum semua suara yang masuk selesai dihitung. Dengan demikian, tidak memerlukan waktu yang terlalu lama untuk tahu siapa yang akan keluar sebagai pemenang. Dan, kemungkinan salah berita seperti yang terjadi Amerika Serikat pada tahun 1948 tidak terjadi.

Pada pemilihan Presiden Amerika Serikat pada tahun 1948 itu, dua calon Presiden Amerika Serikat yang maju, yakni Thomas Dewey dan Harry Truman. Oleh karena perhitungan suara berlangsung hingga larut malam, suratkabar Chicago Daily Tribune yang sudah mendekati deadline (batas waktu terakhir penurunan berita) pada tanggal 3 November 1948 menurunkan berita utama di halaman 1 dengan judul ”Dewey Defeats Truman (Dewey Mengalahkan Truman)” sesuai dengan posisi perhitungan suara pada saat itu.

Ternyata, tidak lama sesudah suratkabar dicetak dan diedarkan, ternyata Harry Truman yang keluar sebagai pemenang. Jika pada saat itu metode hitung cepat sudah ditemukan, suratkabar Chicago Daily Tribune tidak perlu menanggung malu karena menurunkan headline (berita utama) yang salah.

***