Prabowo dan Pendukung Islamis, Dilema Ideologis

Rabu, 5 Desember 2018 | 13:13 WIB
0
811
Prabowo dan Pendukung Islamis, Dilema Ideologis
Prabowo Subianto (Foto: Viva.co.id)
Banyak orang sungguh masygul dengan sikap politik PKS dalam pilpres 2014 dan nanti di 2019. Sejatinya semua mengenal PKS sebagai representasi ideologis Islamis yang mencoba peruntungan masuk ke system demokrasi. Tentu saja tujuannya adalah meng-islam-kan system ini termasuk segala perangkatnya.
 
Pertanyaan bernada masygul dari semua orang adalah, bagaimana bisa PKS mendukung seorang calon presiden yang tidak punya latar belakang keagamaan yang mumpuni. Jangankan perilaku keagamaan yang awam, bahkan capres yang dia dukung ini punya pemahaman agama yang luar biasa buruk.
 
Bayangkan, capres yang mereka dukung tak paham bahwa seorang Imam sholat haruslah laki-laki, dia juga dengan terbuka bersujud di depan kuburan Bung Karno. Juga ada dugaan bahwa dia konon tak tahu baca tulis Alquran, atau juga tak rutin melaksanakan sholat. Tak pernah ada jejak foto dia meng-imam-i sholat Jemaah.
 
Sisi lain yang juga perlu ditelisik dari seorang calon pemimpin adalah latar belakang keluarganya. Sang mantan jendral ini adalah duda cerai, anaknya semata wayang laki-laki berkarir di dunia gemulai. Jauh dari potret keluarga idaman masyarakat muslim. Bekas mertuanya adalah jendral otoriter yang pernah menggasak Indonesia selama 32 tahun, dan baru turun tahta karena gerakan reformasi mahasiswa 1998.
 
Hal-hal mendasar seperti itu tidak saja seharusnya membuat dia tercoret dari kriteria pemimpin Islam yang rata-rata. Belum lagi rekam jejak nya saat menjadi pimpinan serdadu; memerintahkan penculikan aktifis mahasiswa di tahun 1997-1998 dan karakter emosional, kalau marah bisa melemparkan hp ke muka anak-buahnya. 
 
Dalam beberapa video terkini, dia juga mudah tersulut emosi karena hal-hal remeh; soal emak-emak berisik yang tak mendengar pidatonya, soal running teks pidato yang terlalu cepat.
 
Jendral serdadu yang dipecat dari militer di tahun 1998 ini sejatinya sangat jauh dari pemimpin idaman muslim. Entah kenapa PKS, HTI, FPI, FUI dan semua kelompok islamis radikalis sangat memuja orang ini. 
 
Tentu ada yang aneh, kalau tak bisa dibilang memanfaatkan si jendral serdadu. Atau kebalikannya, kelompok islamis ini dimanfaatkan congornya oleh si jendral serdadu dan elitenya.
 
Pemilihan Sandiaga Uno sebagai cawapres juga jauh dari potret agamis. Dia adalah pebisnis yang kerjanya menternakkan duit lewat lembaganya; Saratoga. 
 
Perusahaan Sandi ini punya karakter; beli perusahaan yang sedang amburadul, cekik dengan harga murah, permak sedikit dengan kemampuan manajemennya (ini memang patut dipuji), kemudian jual lagi dengan harga yang wah.
 
Sandiaga Uno adalah santri post modernisme? Itu klaim PKS yang sepertinya tak punya kader mumpuni untuk dicalonkan ke depan. Atau mereka punya kader bagus, tapi tak berdaya di hadapan kardus, seperti klaim Andi Arief, pentolan Partai Demokrat yang pernah jadi korban penculikan tim Mawar bentukan capres serdadu. 
 
Jadinya, PKS legowo diiming-imingi posisi wagub DKI yang itupun punya potensi diperdaya oleh kader-lader Gerindra yang tak kalah ambisiusnya.
 
Sandi Uno beberapa kali mempertontonkan kebodohan dan ketidaktahuannya soal agama. Terakhir dia tanpa adab melangkahi kuburan ulama besar NU KH Bisri Syansuri di Jombang. 
 
Buat NU dan islam tradisional, perilaku ini tentu melukai perasaan mereka. Salah satu adab paling penting adalah menghormati mereka yang punya keilmuan tinggi, meskipun hanya kuburannya. Inikah santri milenial di sosok Uno? Anda bisa tertawa ngakak karena klaim ini.
 
Agak aneh memang melihat perselingkuhan busuk antara PKS dan Gerindra ini. Memang sulit mengharapkan PKS bisa bergandengan tangan dengan kelompok islam kultural tradisional dan nasionalis seperti PKB, PPP yang didominasi kader NU ini. 
 
Tapi lebih gamang kita melihat bagaimana PKS mau saja berkelindan dengan Gerindra yang tak punya jejak dukungan ke kelompok Islam. Bahkan, seperti diulas diatas, capres serdadu yang dia dorong bermasalah dari sisi kepatutannya ber-islam.
 
Juga HTI, organisasi terlarang yang berinduk ke HT – sudah dinyatakan terlarang di 20 negara termasuk negara-negara Islam ini, secara kasat mata menyatakan dukungan ke capres serdadu. 
 
Bukankah kelompok ini mengharamkan demokrasi, juga menganggap thogut pemerintahan Indonesia, yang posisi puncaknya disasar secara konsisten – namun gagal melulu – oleh capres serdadu.
 
FPI, ormas yang berkembang dari kelompok pamswakarsa juga setali tiga uang. Pemimpinnya, HRS yang kini buron ke Saudi, pernah dipenjara berkali-kali oleh rezim SBY karena vonis yang buruk; penghasutan. 
 
Kelompok berandalan berjubah ini punya jejak kekerasan yang panjang di negeri ini. Mereka selalu mengabaikan hukum dalam menegakkan sesuatu yang mereka anggap kemungkaran, memberangus toko yang menjual minuman keras, menyerang klub malam dll.
 
Ini juga standar ganda, karena kawasan Kalijodo dan Alexis yang sudah lama berdiri – sebelum ditutup oleh Ahok dan Anies, dulu aman-aman saja dari serangan FPI. Ini menguatkan dugaan bahwa kelompok berjubah ini adalah kelompok yang hidup dari bayaran para cukong. Kalau tak membayar “jatah Preman”, maka kawasan hiburan nya bisa diobrak-abrik oleh FPI dengan alasan mencegah kemungkaran.
 
Kembali ke capres yang mereka dukung, jendral pecatan yang tak punya latar belakang Islam yang kuat – ayahnya adalah arsitek perekonomian OrdeBaru yang juga sebelumnya ia terlibat dalam pemberontakan PRRI – Permesta yang konon didanai CIA-Amerika. Adiknya; Hashim adalah penganut agama nasrani yang beberapakali terlihat ceramah di depan jemaatnya.
 
Jadi apa yang menjadi titik hubung antara kelompok Islamis ini dengan capres serdadu yang baru-baru ini terkenal celaannya “tampang Boyolali”?
 
Saya kira jelas, mereka disatukan oleh gelombang yang sama: Kebencian kepada PDIP atau Jokowi. Kebencian memang luar biasa dahsyat, bisa menjadikan seseorang gelap mata. Tak terpengaruh lagi oleh nalar sehat. Musuh dari musuhmu, adalah temanmu. Makanya PKS, HTI, FPI, berkelindan dengan capres serdadu.
 
Tak peduli apakah jendral serdadu ibadah dan pemahaman agamanya amburadul, keluarganya cerai berai, latar belakangnya mengkhawatirkan, dan sebagainya, asalkan punya kepentingan yang sama – kebencian ke PDIP dan Jokowi, maka persekongkolan jahat bisa langgeng.  
 
Tapi apakah nanti, sekira si capres serdadu ini terpilih, kelompok islamis ini akan tetap digandeng dengan mesra? Saya ragu akan hal itu. Kalau melihat jejak penguasa-penguasa berlatar militer di seluruh dunia, mereka tentu akan focus memperkuat kekuasaanya sendiri. 
 
Dan kelompok pertama yang akan mereka singkirkan tentu saja yang selalu meneriakkan politik identitas, seperti kelompok Islamis ini. Kelompok ini selalu menjadi ancaman para pemimpin militer, dan akan mengundang sikap represif penguasa ke mereka.
 
Tapi tak usah khawatir, kelompok ini memang seperti buih di lautan, tak akan mendapat dukungan mayoritas masyarakat di pemilu nanti. Kecuali, ada blunder luar biasa yang dilakukan koalisi Jokowi dan parpolnya – seperti kasus Ahok di Pilgub DKI. Sepertinya itu tak terjadi, karena hitung-hitungan matang sudah dijalankan Jokowi dan pendukungnya. 
 
Yang ada adalah kelompok capres serdadu yang justru banyak melakukan blunder kebodohan; kasus hoax Ratna Sarumpaet, kasus Tampang Boyolali, kasus Tempe setipis ATM, kasus melangkahi kuburan Ulama besar, dan sebagainya bisa membuat anda terbahak-bahak melihat kelakuan kelompok ini.
 
***