Megawati sebagai Ikon Demokrasi dan Perlawanan Perempuan Asia

Kamis, 10 Januari 2019 | 16:30 WIB
0
54
Megawati sebagai Ikon Demokrasi dan Perlawanan Perempuan Asia
Megawati Soekarnoputri saat berbicara di acara Bu Mega Bercerita menjelang HUT ke-46 PDI Perjuangan - Foto: Tempo

Jakarta, Kamis 10 Januari 2019 kemarin praktis memerah. Maklum, salah satu partai yang di masa lalu terkenal sebagai kekuatan perlawanan ketika Orde Baru nyaris tak ada yang berani melawan, sedang berulang tahun ke-46. Ya, kekuatan perlawanan itu adalah sebuah partai politik. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Apa yang paling menarik perhatian saya pribadi dari partai ini adalah pilihan untuk melawan. Mereka memilih menjadi kekuatan perlawanan. Tidak saja saat di luar kekuasaan, melainkan juga saat sedang mendapatkan kekuasaan. 

Dari kekuatan itu, ada kekuatan yang tak dapat diremehkan. Itu adalah kekuatan perempuan.

Kenapa perlu menggarisbawahi kekuatan perempuan? Sebab ada seorang perempuan, terlepas kini telah sepuh, namun memiliki semangat yang diakui belum kunjung melepuh. Pikiran-pikiran perlawanannya pun belum lumpuh.

Tidak cuma di Indonesia, di Asia pun perempuan tersebut memiliki pengaruh. Ya, dialah Megawati Soekarnoputri.

Bahkan jika mencoba mencari komparasi, hari ini tidak banyak perempuan Asia yang memiliki pengaruh sebesar dimiliki putri Ir. Soekarno tersebut. Putri Pahlawan Proklamator. Darah bapaknya yang sejak masa penjajahan memilih bertarung dan melakukan perlawanan dengan pikiran, tampaknya mengalir kental dalam sosok perempuan yang acap disapa sebagai Ega tersebut.

Ia masih melawan.

Jika mengutip bagaimana hari ini ia menerjemahkan perlawanan, ketika ia berbicara di depan kader-kader partainya baru-baru ini, maka ia menginginkan agar perempuan juga bisa semakin berperan. Tak terkecuali di ranah politik.

Itu adalah perlawanan. Ya, perlawanan ketika di sebuah negara sebesar Indonesia, masih banyak yang mengerdilkan kemampuan perempuan. Ia menginginkan perempuan untuk membuka mata, melihat jelas bahwa mereka punya kekuatan, menyadari kekuatan itu, dan memanfaatkan kekuatan tersebut untuk membawa perubahan.

Perubahan membutuhkan perlawanan. Perempuan punya kekuatan untuk membawa perubahan.

Dari membaca-baca pernyataan Megawati sebagai politikus dan elite partai tersebut, setidaknya itulah yang tertangkap oleh saya. Tampaknya ia sangat menyadari, bahwa di negerinya, perempuan belum maksimal mendapatkan peran dan merebut peran tersebut.

Ia layak membicarakan itu, karena sepanjang sejarah Indonesia, baru seorang Megawati yang mampu membuktikan kekuatan perempuan. Ia masih tercatat sebagai satu-satunya perempuan yang berhasil menjadi orang nomor satu di negara sebesar Indonesia. 

Pencapaian itu juga tidak lepas dari kemampuannya menahkodai sebuah partai besar bernama PDIP. Ia sudah membuktikan diri di partainya, membawa pengaruh dari ujung ke ujung Indonesia, dan tidak terlihat kesulitan ketika ia sendiri berkuasa. 

Kenapa bisa begitu? Tak lain karena ia sendiri adalah salah satu perempuan yang memilih keluar dari zona nyaman. Ia adalah seorang perempuan yang lebih gemar bertarung daripada sekadar menikmati kebanggaan sebagai putri seorang Founding Fathers bernama Bung Karno. Ia lebih memilih menghadapi risiko, daripada mencari rasa aman.

Padahal, di tengah kekuatan besar yang dimiliki oleh Orde Baru, nyawanya pun bisa melayang karena memilih untuk berdiri di kutub perlawanan. Namun lagi-lagi karena ia memilih untuk keluar dari zona nyaman, memutuskan untuk menghadapi risiko, dan risiko-risiko itu akhirnya membentuk dirinya.

Dengan pilihan itu, sejatinya ia tidak sedang menunjukkan kemampuan dirinya saja. Namun itu adalah sebuah pesan yang bisa melampaui zaman, bahwa ada kekuatan yang memang tak bisa diremehkan. Itu adalah kekuatan perempuan. 

Ia mewakili perempuan yang sadar dengan apa yang bisa dilakukan. Ia menjadi representasi dari perempuan yang cukup mengenal dirinya, mengenali masalah di sekelilingnya, dan cukup peka untuk membaca bagaimana mencarikan cara untuk menuntaskan masalah itu di negerinya.

Mega cukup melihat sebuah pemandangan telanjang ketika ia dan partainya berdiri sebagai oposisi. Buruknya mentalitas yang ditularkan lingkaran kekuasaan saat itu: banyak yang bicara kesejahteraan, namun hanya untuk kalangan sendiri; banyak yang berbicara tentang kemandirian namun anak-anak penguasa dimanjakan oleh kekuatan uang dan kekuasaan; banyak yang berbicara kemakmuran, namun yang berbadan subur hanya mereka di lingkaran kekuasaan.

Pemandangan seperti itulah yang tampaknya ingin ia lawan. Ia pun memilih berdiri sebagai perempuan yang identik dengan perlawanan. Ia mengawali itu dari bawah, sebagai wakil ketua PDI Cabang Jakarta Pusat. 

Lihat saja bagaimana ia menekankan kepada para kadernya untuk tidak macam-macam ketika memiliki kekuasaan. Ia bisa menjadi seorang "emak" yang keras ketika melihat ada yang semena-mena dengan kekuasaan. Namun ia bisa menjadi ibu yang pemurah di depan para kader yang bisa membuktikan diri bahwa mereka berpolitik tidak sekadar untuk kekuasaan tetapi untuk pengabdian.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun bisa ditunjuk sebagai salah satu bukti paling telanjang, tentang hasil dari sebuah prinsip politik yang mengawinkan perlawanan dengan pengabdian.

Jokowi mampu berdiri di depan, melanjutkan mimpi "ibu partai" yang memayunginya. Ia melawan mental-mental yang di masa lalu hanya memanfaatkan kekuasaan untuk kebaikan kalangan sendiri. Ia menegaskan prinsip bahwa kekuasaan adalah jalan membawa kebaikan kepada siapa saja. Bahkan kepada lawan politik pun ia menunjukkan kebaikan, terlepas ia nyaris tidak berhenti dicela, dihujat, dan difitnah.

Di sinilah kelebihan Megawati pun ditegaskan oleh bukti-bukti yang ditampilkan seorang Jokowi.

Ada semacam penegasan kuat, bahwa seorang pemimpin adalah pemimpin yang mampu menciptakan pemimpin. Seperti halnya pemimpin hebat, bisa melahirkan pemimpin yang hebat. Megawati membuktikan ini.

Inilah kenapa ia dapat dikatakan sebagai satu-satunya perempuan paling berpengaruh di Asia pada hari ini. Sebab, sejak Aung San Suu Kyi belum ada lagi perempuan yang bisa mengalahkan reputasi tokoh Myanmar tersebut, kecuali oleh Megawati.

Terutama sebagai tokoh yang merepresentasikan kesetiaan pada demokrasi, hari ini Suu Kyi terbilang tercoret. Sebab ia bersinar dalam urusan kemanusiaan dan demokrasi ketika berkuasa, namun nyaris tak berbuat apa-apa ketika negaranya menghadapi masalah kemanusiaan seperti persoalan Rohingya. 

Bahkan Amnesty International memutuskan mencabut penghargaan yang pernah diberikan kepada Suu Kyi. Seperti diketahui, pada 2009, tokoh Myanmar ini pernah dinobatkan sebagai Ambassador of Conscience dari organisasi kemanusiaan tersebut. Sebuah penghargaan besar karena hanya pernah dimiliki beberapa tokoh saja seperti Nelson Mandela hingga Malala Yousafzai.

Reputasi Suu Kyi redup oleh masalah kemanusiaan. Berbeda dengan Megawati yang tetap bersinar meskipun lebih banyak memilih selayaknya ibu sepenuhnya di partai tersebut. 

Ini bahkan diakui oleh seorang tokoh oposisi, Fahri Hamzah.

Fahri menggarisbawahi kelebihan Megawati yang belum pernah mengalami kasus seperti yang dialami Suu Kyi dalam menangani krisis kemanusiaan terhadap etnis Rohingya di Rakhine State Myanmar. Suu Kyi dengan kewenangan dan kekuasaannya disebut seharusnya dapat menghentikan aksi pembantaian dan kekerasan terhadap etnis Rohingya.

"Bu Mega belum pernah (mengalami kasus seperti kasus melibatkan Suu Kyi). Jadi nggak bisa disamakan. Dari sisi sensitivitas terhadap nyawa, terhadap hak-hak orang, dan terhadap dikte dari negara lain, dan sebagainya, Megawati jauh lebih sensitif," kata Fahri, melansir CNNIndonesia.

Memang, dalam hal penghargaan internasional, Megawati bukan pelanggan pengakuan itu dari mata dunia. Pasalnya, sejauh ini baru tercatat Children's Champion Award dari Children's Hunger Fund Foundation, Los Angeles, California, Amerika Serikat (2006), sebagai penghargaan dunia untuknya.

Namun dengan kiprahnya sejauh ini, semestinya lembaga-lembaga dunia pantas memberikan perhatian lebih serius pada nilai dan gebrakan yang dilakukan seorang Megawati. Terlebih ia sebagai perempuan bekerja di sebuah negara yang terbilang dunia ketiga. Namun mampu membawa pengaruh besar hingga membesarkan nama perempuan, ia pantas mendapatkan lebih banyak penghargaan dunia. Terutama terkait bagaimana ia memilih setia kepada demokrasi dan menonjolkan kelebihan perempuan di negaranya.

Apalagi, mau tak mau mesti diakui, dalam memperjuangkan demokrasi, belum banyak tokoh perempuan Asia yang mampu menunjukkan loyalitas dan komitmen sekuat dirinya. Di samping ia pun memiliki keberanian di ranah keras bernama politik, yang selama ini acap dipandang identik hanya mampu ditunjukkan perempuan-perempuan Eropa dan Amerika.

Walaupun, bisa jadi, Megawati sendiri tak terlalu memusingkan soal penghargaan. Terpenting sudah mendedikasikan dirinya sebagai perempuan yang mampu melakukan hal-hal berharga sebagai manusia.

***