Reuni 212 Punya Daya Kejut, Benarkah Muslim Dukung Prabowo?

Senin, 3 Desember 2018 | 08:01 WIB
0
1271
Reuni 212 Punya Daya Kejut, Benarkah Muslim Dukung Prabowo?
Prabowo di Reuni 212 (Foto: Pojoksatu.id)

Terlepas Reuni 212 agenda politik atau bukan, acara yg dikemas itu mempunyai daya kejut sendiri. Dua tahun yanglalu saat Pilkada DKI Jakarta, GNPF mampu mengumpulkan sekian juta umat Muslim dlm format gerakan massa 212. Ahok, jadi musuh Muslim, karena beda Agama dan nginjak detonator Al-Maidah. Maka terciptalah Solidaritas Islam saat itu. Ahok yang digdaya, akhirnya tumbang.

Tadi Minggu pagi (2/12/2012) panitia yang sama kembali mengumpulkan jutaan Muslim (hitungan panitia) di Monas dgn bungkusan Reuni dan sukses besar. Pada acara tersebut hadir Capres 02, Prabowo (08) didampingi Amien Rais, Zulkifli Hasan dalan lain-lain tokoh-tokoh pendukung 08 dari parpol.

08 melebur dengan tokoh2 212 dan memakai topi putih bertulisan Kalimat Tauhid memberi pidato sedikit sebagai Capres, nyebutnya begitu. Massa demikian semangat mendengar sambutan para Habaib, terlebih ada rekaman pidato Habib Rizieq (icon 212) yang masih di Saudi, dengan pesan 2019 ganti presiden dan lain-lain yang menyerang petahana.

Lengkaplah sudah, konsep perencana yang ingin menunjukkan dan memengaruhi umat Muslim Indonesia bahwa 08 didukung jutaan kaum se-Agama Islam.

Analisis Intel-Politik

Perencananya itu ahli, ini bukan panggung politik, 08 tidak melanggar ketentuan. Jadi Reuni 212 adalah sebuah Ukhuwah Islamiyah, yang berarti Persaudaraan Islam. Adapun secara istilah ukhuwah islamiyah adalah kekuatan iman dan spiritual yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa yang menumbuhkan perasaan kasih sayang, persaudaraan, kemuliaan, dan rasa saling percaya terhadap saudara seakidah.

Dari sisi intelijen, kegiatan tersebut adalah upaya conditioning/gal. Mengondisikan umat Muslim untuk bersilaturahmi dalam jumlah besar, di tempat khusus, dengan tujuan gerakan moral serta pernak pernik pemahaman Ukhuwah. Diharapkan akan tercipta kembali solidaritas Islam serta rasa Kebangkitan Islam, itu pesan yang ditancapkan kepada hati yang hadir.

Akhirnya, dgn upaya keras panitia dlm mengomunikasikan, duklog (dukungan logistik) yang pasti dan jelas, terciptalah semangat sekian juta orang yang datang dengan berbagai alasan. 

Di mana inti penggalangannya? Saat massa terkumpul, mereka mudah disatukan dengan tujuan panitia. Prabowo pidato, HRS pidato tanpa sosok, ya massa diarahkan dukung 08. Tanpa sekolah politik, tiap orang juga tahu itu gerakan politik.

Kalau dulu dalam Pilkada DKI, Ahok dituduh menista Islam, Timses 08 ini sulit menjatuhkan citra pak Jokowi seperti Ahok. JKW agamanya sama, dosa dunianya susah dicari, oleh rakyat kerjanya dinilai bagus, jadi ya Timsesnya berusaha merebut dukungan konstituen Indonesia yang mayoritas Muslim, ya dengan bukti sukses mengumpulkan Muslim JKT dan sekitarnya, serta dari kota-kota yang sudah digarap.

Kegiatan ini adalah sebuah usaha cerdik untuk menang. Apakah dengan demikian 08 dapat dukungan umat Muslim se Indonesia? Belum tentu, karena dalam politik, tiap Muslim juga punya jalur sendiri-sendiri. Di kelompok Parpol 08, ada parpol Islamnya PKS dan PAN, sementara di kubu JKW ada PKB, PPP, pengikut Kiai Ma'ruf Amin, NU, belum lagi parpol nasionalis yabg kader dan simpatisannya juga mayoritas Muslim.

Dalam rangkaian acara Ketua Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al-Khaththath mengajak yang hadir berdiri untuk mengucap sumpah Reuni 212 ke Habib Rizieq agar Syariat Allah Berdaulat di Indonesia.

Kesimpulan

Pilpres 17 April 2019 masuh 4 bulanan lagi, dinamika politik masih bergerak. Prabowo jangan tersenyum dahulu, kumpulan di Monas itu sangat kecil dibandingkan konstituen yang sekitar 185 juta dan belum tentu mayoritas yang hadir akan mencoblos pasangan capres 02.

Tapi saya akui timsesnya cukup cerdik memanfaatkan momentum, paling tidak ada pengaruhnya kepada swing voters. Sumpah kepada Habib Rizieq itu semacam baiat, belum tentu laku juga, terlalu awal dan belum diteliti motivasi yang hadir. Tidak semua umat Muslim Indonesia suka kepada HRS dan Khilafah.

Dilain sisi, TKN petahana harus waspada menganalisis gerakan 212 atau apalah namanya selanjutnya, yang terbukti mampu melakukan penggalangan dengan tabir Reuni 212. Petahana adalah fihak yang diserang, pergunakan rumus militer, pasukan yang bertahan harus tiga kali lebih kuat dan mampu dibandingkan lawan, jadi jangan sama denga lawan.

Hati-hati lawan sedah satu langkah di depan. Pasti TKN kini terkejut melihat kesuksesan Reuni 212. Dalam istilah golf jangan sekali-kali "Lengbet", kalau meleng disabet. 

Marsda Pur Prayitno Ramelan, Pengamat Intelijen

***