Menyelami Keikhlasan Prabowo

Senin, 22 April 2019 | 11:19 WIB
0
158
Menyelami Keikhlasan Prabowo
Prabowo Subianto/PinterPolitik.com

Siapa pun akan kecewa, marah, dan juga tidak akan dengan mudahnya menerima kenyataan yang ada, bahwa dirinya kalah, termasuk orang sekelas Prabowo Subianto.

Bagaimana mungkin seorang Prabowo begitu saja bisa menerima bahwa dirinya kembali tersungkur kalah dari capres petahana Joko Widodo (Jokowi). Meskipun hanya dari hasil hitung cepat (quick count), kekalahan kedua dari Jokowi ini dirasakannya begitu berat. 

Hal ini dikarenakan Prabowo  oleh pendukungnya selalu dikondisikan sebagai pemenang perhelatan pilpres 2019 ini. Bahkan, slogan #2019GantiPresiden sudah sejak jauh-jauh hari dikobarkan sekadar untuk "menggulingkan" Jokowi dari kursi pemerintahan melalui proses konstitusional yang dinamakan Pilpres.

Karena itulah, sejak jauh-jauh hari, Prabowo dan juga Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, tidak mempercayai hasil yang dirilis lembaga survei, yang cenderung mengunggulkan Jokowi-Amin. Tentu saja, hal itu sah-sah saja dan merupakan hal yang wajar sebagai bentuk strategi memompa semangat pendukungnya agar lebih militan lagi memenangkan Prabowo-Sandi.

Semua kerja keras para peserta kontestasi Pilpres itu dibuktikan pada tanggal 17 April 2019. Rakyat berbondong-bondong menentukan pilihannya. Kedua pasangan capres dan cawapres, baik Jokowi-Ma'ruf maupun Prabowo-Sandi, tentu saja merasa optimis dan yakin bahwa rakyat akan mendukung dan memenangkannya.

Namun, tentu saja Pilpres ini memunculkan pihak yang kalah dan yang menang.  Dari hasil hitung cepat, kenyataannya Prabowo kembali dikalahkan Jokowi. Dan, bukanlah hal yang mudah bagi Prabowo menerima kekalahan ini.

Jika akhirnya Prabowo mengklaim bahwa dirinya menang 62% atas Jokowi, tentu saja tak bisa disalahkan, karena KPU sendiri sebagai penyelenggara belum mengeluarkan hasilnya. 

Karena itu, kita pun perlu memberikan ruang untuk Prabowo dan pendukungnya, yaitu ruang untuk berduka  atas kekalahannya dengan menghormati apa yang dilakukannya, seperti sujud syukur atau deklarasi kemenangan yang dilakukan berulang-ulang.

Bagaimana pun, Prabowo adalah seorang negarawan. Kita semua bisa melihat rekam jejaknya selama ini. Tiga kali mengikuti Pilpres, dan ketiganya berakhir dengan kekalahan. Namun, Prabowo bisa menerima dua kekalahan itu dengan besar hati, setelah keputusan itu sudah dinyatakan sah dan terlepas dari yang namanya unsur kecurangan. Begitupun kita meyakini Prabowo akan legowo menerima sepahit apapun hasil Pilpres 2019 ini.

Jika nantinya Jokowi-Ma'ruf benar-benar dinyatakan KPU sebagai pemenang Pilpres 2019, kemenangan itu pun adalah kemenangan bersama, kemenangan rakyat Indonesia.

Jokowi-Ma'ruf tetaplah akan menjadi pelayan bagi rakyat, bukan saja melayani pendukung kubu 01 melainkan juga harus melayani kubu 02. Dan, sudah menjadi tugas Jokowi-Ma'ruf untuk mengembalikan energi bangsa ini yang telah terkuras dalam sebuah perhelatan politiklima tahunan, dan menggunakan energi itu untuk sama-sama membangun bangsa ini.

Apapun yang terjadi dalam Pilpres 2019, rakyatlah yang harus jadi pemenangnya. Siapapun yang terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden, mereka berdua adalah pelayan rakyat, karena untuk rakyatlah Pilpres 2019 ini diselenggarakan.

Salam dan terima kasih!