PDIP, Potret Partai yang Dibesarkan oleh Kesulitan

Kamis, 10 Januari 2019 | 20:37 WIB
0
2699
PDIP, Potret Partai yang Dibesarkan oleh Kesulitan
PDIP menjadi partai yang berhasil menanamkan semangat berpartai yang berangkat dari perjuangan. Bukan instan. (Foto: Tirto)

Rasanya tidak berlebihan jika mengatakan bahwa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebagai partainya orang susah. Sebab mereka lahir, tumbuh, dan besar di tangan orang-orang yang mau susah payah, dan tak meratapi kesusahan. Alhasil mereka pun mendapatkan citra sebagai partainya "Wong Cilik."

Hasto Kristyanto sebagai tangan kanan Megawati Soekarnoputri, dalam satu pertemuan dengan penulis di markas PDIP, beberapa waktu lalu pun berterus terang jika di masa lalu hanya orang-orang susah mau diajak bergabung dengan PDI yang kini dikenal sebagai PDIP.

"Jangan heran kalau Anda melihat orang-orang PDI dulu itu, orang bilang, lebih banyak orang-orang bermata merah," katanya seraya tertawa lepas. 

Menurutnya memang seperti itulah yang menghiasi sejarah PDIP, partai yang selalu membuka diri sebagai rumah bagi orang susah, sebagai tempat mengadu setiap rakyat yang kesusahan, sebagai tempat belajar bagi rakyat yang tak mendapatkan tempat untuk belajar. 

Menurut Hasto keakraban partainya dengan masyarakat susah sudah menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dengan sejarah. Sebab merekalah yang di masa lalu mau bersusah payah, dan bahkan melupakan kesusahan mereka sendiri, karena kecintaan mereka kepada partai yang mau melihat mereka ketika penguasa memilih menutup mata.

Bahwa hari ini PDIP telah memiliki banyak pakar, banyak intelektual, menurut Hasto, lantaran makin ke sini perjalanan panjang partai tersebut yang akhirnya membuat mereka tergugah ikut turun tangan. 

"Tapi PDIP adalah partai yang tidak mengenal istilah elite partai," kata Megawati sendiri, saat pidato ulang tahun ke-46 partai ini, Kamis (10/1). Cukup menjawab bahwa kehadiran banyak orang pintar, orang berpendidikan, dan kaya pengalaman, tidak lantas membuat satu kalangan berada di atas kalangan lainnya.

Megawati sendiri memperlihatkan ketegasan sikap, terlepas kini partainya telah mendapatkan posisi sebagai penguasa, tak lantas harus menempatkan diri di atas rakyat. Tampaknya ia sendiri tak ingin melupakan fakta, jika kebesaran yang kini diperoleh partainya tidak lepas dari peran militan masyarakat yang berada di tingkat akar rumput, dan masyarakat marginal.

Ada banyak orang susah yang mau bersusah payah, hingga akhirnya PDIP menolak untuk pongah.

Itu juga disinggung oleh Megawati sendiri seputar cerita "orang susah" tersebut. Sebab ia sendiri sempat dicabut hak politik oleh pemerintah Orde Baru di masa lalu. Ia pun jadi bagian orang susah. 

Namun Megawati terbilang berhasil untuk menanamkan prinsip bahwa kesusahan bukanlah alasan untuk berkeluh kesah. Prinsip itulah yang ia alirkan kepada kader-kadernya hingga ke tingkat akar rumput, untuk dapat mengolah keadaan susah hingga bisa berubah jadi masa depan yang cerah. 

Daripada mengutuk badai, sang nahkoda memilih menyesuaikan arah kapal. Maka itu saat nama PDI yang sudah melekat kuat di benak publik, dan memiliki citra sebagai partainya wong cilik, harus berganti nama menjadi PDIP. Ada kata "Perjuangan" yang akhirnya ditempelkan pada nama yang sejak awalnya dikenal sebagai PDI.

Alih-alih meratapi kepahitan dari realitas demi realitas yang dihadapi di sebuah rezim yang terkenal bertangan besi (Orde Baru), partai ini mampu saling berbagi semangat dari kata yang baru ditambahkan "perjuangan". 

Selain, kata perjuangan itu sendiri pun bisa menjadi pesan kepada rakyat, bahwa tidak ada kesusahan yang bisa dilewati tanpa adanya perjuangan. Sekaligus menjadi pesan kepada para kader mereka, bahwa dengan perjuangan itu juga PDIP bisa tumbuh sebagai satu kekuatan paling berpengaruh hari ini di jagat politik Tanah Air.

Sebagai orang luar partai tersebut, hemat saya pribadi, kelebihan-kelebihan berupa semua nilai itulah yang sampai kapan saja dapat membantu mereka berusia panjang. Sebab ada mental penting yang ditularkan dan jadi pegangan mereka dalam semua keadaan: "Kedepankan perjuangan daripada sekadar menampilkan keluhan!"

Terlebih, memang tidak ada keluhan yang bisa melahirkan kekuatan. Namun berhenti mengeluh dan mau berpeluh, justru memberikan kekuatan, dan inilah kenapa PDIP hari ini mau tak mau harus diakui sebagai satu partai terkuat. Ya, mereka kuat karena menolak mengeluh. Mereka memilih berpeluh!

Setidaknya, begitulah cara mereka mengolah keadaan susah yang pernah membelit mereka. Berjalan bersama orang-orang susah, namun bisa melahirkan kekuatan lewat kemampuan mengolah kesusahan. Bukan membawa-bawa kesusahan rakyat, tapi karena mereka sendiri pernah susah.

Dan, inilah yang belum bisa ditampilkan oleh oposisi hari ini, karena mereka adalah partai-partai yang lahir dari elite-elite dari dunia bisnis. Kaya, dan bisa tumbuh dengan kekuatan uang. Oposisi hari ini tidak pernah melewati kesulitan sebagaimana kesulitan yang pernah dihadapi PDIP. Alhasil, kini hanya marak partai yang menjual kesusahan rakyat, namun mereka sendiri kian menyusahkan rakyat.

Semoga saja, dengan ulang tahun ke-46 PDIP, bisa menularkan semangat kepada partai mana saja untuk tumbuh besar dengan perjuangan. Bukan dengan keluhan mengatasnamakan rakyat, apalagi dengan uang berkardus-kardus.

Sebab, sebagaimana rakyat membutuhkan pemerintah, rakyat juga memang membutuhkan oposisi berkualitas. Kualitas ini pernah ditampilkan PDIP, dan inilah yang mestinya ditampilkan oposisi yang ada hari ini. 

***