Doa yang Tertukar dan Misi yang Dihancurkan Sendiri

Senin, 11 Februari 2019 | 10:01 WIB
0
1653
Doa yang Tertukar dan Misi yang Dihancurkan Sendiri
Fadli Zon dan Mbah Moen (Foto: Tribunnews.com)

Kartu mati koalisi 02 itu justru orang dalam sendiri. Salah satunya ada pada Fadli Zon yang ugal-ugalan dalam berpolitik. Belum lagi Ferdinand yang jauh dari jargon pendiri dan ketum Demokrat itu di dalam setiap pernyataannya. Model memaki baik dengan lugas ataupun sok puisi, hasilnya sama.

Coba bayangkan lebih jauh soal puisi dan doa itu, siapa yang jadi tudingan dan paling tidak menjadi ogah? Pemilih dari Jawa Tengah. Mengapa? Asal Kyai Moen adalah Jawa Tengah. Karakter Jawa yang sangat kuat, pasti akan mempengaruhi pemilih untuk mau memilih usungan 02. Hampir pasti enggan.

Apa yang dilakukan ini sih penyerang ngotot membuat gol, eh pemain belakang malah umpan kepada kiper dengan tendangan sekuat tenaga, dan gol ke gawang dhewek.

Peta politik Jawa Tengah yang  dulunya masih sedikit memberikan suara pada pasangan 02 kini, susah lagi diharapkan. Mengapa? Suara mereka berasal dari NU yang ada di PPP, salah satunya adahal hasil dan pengaruh kharisma Mbah Moen ini.

Kemarin pun para santri masih mengelu-elukan dukungan periode lalu. Dengan sikap dan balasan Zon yang mempermalukan kyainya, apa iya santrinya masih mau memilih yang sama? Ironis, mau merebut suara kok malah betingkah.

Jika berkaca dari pilgub yang lalu, ini jelas lebih parah lagi asumsi politisnya. Pilgub peta berbeda, dan tidak cukup sebagai alasan untuk bisa linear dengan pemilihan presiden kali ini. Pilgub saja kalah dan jangan lupa pasangan yang mereka usung banyak tidak mendapatkan suara sama sekali dalam TPS, alis kosong, nol besar. Itu di daerah yang juga sudah direndahkan dengan bicara soal tampang kemarin. Kemungkinan nol di TPS, akan makin banyak dan bertambah.

Peta pengusung parpol pun demikian. Hampir tidak koalisi 02 memiliki basis massa kuat di Jawa Tengah. Pilgub kemarin suara PKB jauh lebih memberikan dampak pemilih pada Ida, bukan sosok Sudirman Said dan PKS-nya. Pun dengan Gerindra yang makin ugal-ugalan ini jelas bukan pilihan realistis orang Jawa Tengah. Dulu masih cukup kuat karena kebersamaan dengan PDIP. Sikap nasionalisnya makin jauh tergerus.

Pergerakan dengan mendirikan pusat pemenangan dan timses BPN di Solo hanya sebuah aksi tidak berdampak sama sekali. Itu hanya mau gagah-gahan yang mereka paham tidak berarti. Malah dijawab di Madiun ketika ada cawapres mereka datang disambut dengan banner pilihan mereka sudah bulat. Di kawasan yang sama sikap demikian juga makin kuat.

Maksud mempermalukan namun malah kebobolan amat parah. Harapan pantura sebagai kawasan yang masih memegang teguh kata sesepuh dan ulama, jelas telah ternodai oleh perilaku ngawur tingkat tinggi elit partai sendiri. Jelas signifikan, karena suara yang seuprit malah diguyur sendiri ke lautan. Hilang jelas.

Jawa Tengah adalah strategi bunuh diri yang salah fatal dan aksi bunuh diri siaran langsung. Gagah-gagahan yang tidak ada maknanya sama sekali. Selain kebanggaan dan kegagahan semu semata. Membesarkan diri yang tidak berdampak.

Belum lagi kebobolan Jawa Barat di mana selama ini merupakan lumbung setia yang cukup menjanjikan. Ada pula partai loyalis yang cukup banyak membantu. Tokoh seperti Aher pun bukan main-main.

Namun nampaknya akan menyurut jika fokus gagal di Jawa Tengah. Jawa Barat jangan lupakan gerbong Ridwan Kamil, Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi yang periode lalu ada di kubu mereka. Hal yang mendasar malah mengurusi yang sepele dan semu. Ini serius. Stategi begini saja gagal malah bicara pemerintah yang gagal.

Partai politik sebagai kendaraan itu perlu dipelihara. Apalagi pernah janji mau memberikan kardus. Nah ketika pemeliharaan saja ogah, eh malah diserang sebagaimana pernyataan pembangunan salah, apa iya terima dengan lapang dada.

Jangan anggap sepele juga perilaku ugal-ugalan di Jakarta dengan menggantung dan PHP bagi PKS terus menerus. Memilih satu orang jadi wagub saja berbulan-bulan tidak kelar. Bagaimana malah asyik berpuisi dan serang sana-sini. Jakarta sebagai salah satu lumbung pun diporak-porandakan sendiri. Kemunduran yang banyak disuarakan, apa akan jadi jaminan pemilih sebanyak pilkada lalu?

Jakarta itu ada dua masalah bagi koalisi  ini. PKS dengan wagub yang tidak jelas itu. dan juga kualitas pemerintahan yang jelas gambaran makin buruk jika itu diangkat di tingkat nasional. Jelas gambaran buruk yang lebih mengemuka dan menjadi iklan murah kubu seberang.

Ugal-ugalannya anak buah ternyata tidak mampu dikendalikan oleh pemimpinnya. Mosok mau jadi presiden yang lebih kompleks dan lebih rumit, jelas tidak akan mampu. Zon ini paling parah, hina sana hina sini. Potensi pemilih dari santri yang sudah dinyatakan secara publik pun malah dibuang sia-sia hanya karena kebodohan semata. Ini fatal. Tidak ada juga pernyataan maaf dan ungkapan sesal sama sekali. Ya sudah pemilih itu akan beralih.

Belum lagi mengelola koalisi. Demokrat ini paling kencang tertawa. Bagaimana mereka sudah memilih sejak awal dan mulai terbukti. Madiun dan Mataraman itu dulu basis SBY, eh kini dukungan publik ke Jokowi, padahal jelas-jelas kampanye 02. Artinya kawasan itu sudah luruh dan jangan diharapkan lebih.

Asyik di mana-mana, kandang sendiri malah kebobolan. Jadi ingat mainan anak-anak bentengan, di mana riuh rendah mengejar lawan, abai penjagaan dan ada lawan yang tidak dianggap membakar benteng mereka. Bubar dan game over.

Mengelola orang dan partai koalisi saja gagal total, susah memberikan kepercayaan untuk menangani bangsa dan negara yang jauh lebih  banyak dan besar yang diurus.  Satu saja perilaku ugal-ugalan anak buahnya diberi peringatan, cukup membuat keadaan menjadi lebih baik.

Kualitas koalisi ini memang lebih cenderung mendua. Kadang sangat keras, kadang sangat lembek. Bagaimana mereka keras pada RS namun diam pada AD. Pada Taufik mantan koruptor saja diam seribu bahasa bagaiamana mengatakan akan memberantas korupsi.

Penghormatan pada rival dan pemilih sangat rendah. Tampang Boyolali, wartawan dan ojol, apalagi pada pribadi seperti Mbah Moen yang sepuh, mana peduli model Zon yang ugal-ugalan begitu. Ini penting, seorang pemimpin tidak  menghargai rival dan kawan apa patut dijadikan pemimpin? Jelas tidak.

Memainkan doa dan menjadikannya bahan gorengan jelas tidak etis. Tidak usah merasa bahwa tidak ada yang melaporkan ke kepolisian itu baik-baik saja. Ranah etis itu di atas hukum positif karena berkaitan dengan kesadaran hidup bersama. Orang yang masih berbicara pada tataran hukum tertulis dan prosedural jelas manusia yang hanya main-main pada hukum dan erangkat hukum semata.

Pemilihan presiden itu bukan semata memilih satu orang atau dua orang saja. Juga melihat rekam jejak, perilaku, dan tingkah polah mereka yang ada di sekeliling  mereka. Perilaku yang hanya mengejar kekuasaan dengan mengabaikan kepantasan, apa ya layak menjadi pemimpin bangsa sebesar ini.

Harapan baik itu bisa musna kalau tidak cermat di dalam memilih di bilik TPS. Pilihan jelas bukan dengan rekam jejak demikian.

Salam...

***