Capres yang Ditemui Raja

Presiden itu bukan soal pinter-pinteran bohong, namun soal Wahyu Kedhaton. Itu Dawuh Dalem dan Berkah Dalem!

Minggu, 14 April 2019 | 11:03 WIB
0
66
Capres yang Ditemui Raja
Sultan HB X dan Joko Widodo (Foto: Sebarr.com)

Sowan pada Raja Karaton Ngayogyakarta, bagi para Capres Indonesia, itu penting. Apalagi ketika para capres sedang atau pun akan berkampanye di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Setidaknya, begitulah etiketnya sebagai tamu.

Setelah tampil di Stadion Kridosono, Yogyakarta (23/3), dalam acara ‘Alumni Jogja Satukan Indonesia’, Jokowi ke Karaton Ngayogyakarta, malam-malam, ditemui oleh Sri Sultan Hamengku Buwana X, beserta permaisuri dan sentana dalem di Gedong Jene.

Pertemuan cukup lama, hampir tiga jam, namun sama sekali tak ada keterangan pers. Bahkan dari pertemuan tertutup itu, di mana Jokowi didampingi Megawati dan Pramono Anung, sama sekali tak ada rilis foto pertemuan, apalagi sesi foto bersama. Media, juga masyarakat, jadi bertanya-tanya. Ada apa?

Jargon ‘No Pict = Hoax’ pun menyebar. Dari kubu lawan, tersebar cerita Jokowi tak diterima Raja Yogya. Berbeda dengan Prabowo, yang bertemu Sri Sultan HB X, di Kantor Gubernuran Kepatihan (8/4) selama 30 menit. Sesaat setelah pertemuan, di medsos tersebar foto Prabowo bersama Sri Sultan HB X. Isu pun berkembang (atau mungkin; dikembangkan), bahwa Prabowo diterima sang raja. Dari situlah muncul rumors Jokowi tidak diterima sang raja.

Tak sembarang, yang menyatakan Sultan tak menerima Jokowi, adalah Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua DPD yang juga tim inti BPN Prabowo. Manuver ini terus berlanjut, hingga muncul undangan acara Suluk untuk Bangsa, yang memposisikan Sri Sultan HB X sebagai pembicara utama.

Acara ini diselenggarakan oleh ormas yang digagas Anies Baswedan dengan melibatkan beberapa purnawirawan TNI yang pro Prabowo. Acara yang maunya diselenggarakan di Jakarta 11 April 2019, gagal terselenggara bukan hanya karena Sultan tidak hadir, melainkan tak memberi jawaban atas undangan itu.

Claiming merasa diri lebih hebat (senyampang itu ngasorake, atau merendahkan liyan), sepertinya selalu dipakai Prabowo dan kubu pendukungnya. Tak peduli yang beragama atau berpendidikan tinggi, bisa sama-sama memakai cara tidak beradab. Kadang sebenarnya sudah tahu aturan, tetapi sengaja ditabrak, dan ketika KPU atau aturan hukum ditegakkan, justeru dipakai bahan bahwa mereka teraniaya, mendapat perlakuan tak adil. Pola playing victim itu mirip acara televisi, mengeksploitasi kemiskinan dan kebodohan.

Kembali ke soal ditemui Raja Yogya. Karena menjadi rumors kontra-produktif, GKR Hemas, Permaisuri Raja Yogya memberi keterangan; Bahwa Raja menerima kedua Capres, di dua tempat berbeda karena jadwal kesibukan. Tetapi kepada dua tamu, perjanjiannya sama; Tak boleh mempublikasi foto-foto bersama dalam pertemuan itu ke media, apalagi medsos.

Kubu Prabowo melanggar perjanjian, sementara kubu Jokowi patuh tak mempublikasikan foto dan isi pertemuan (yang sifatnya tertutup atas permintaan tuan rumah). Meski harus disayangkan, dari kubu pendukung Jokowi ada beberapa yang memposting foto pertemuan antara Sultan Yogya dengan Jokowi di medsos. Konon mereka mendapat foto itu karena relasi pribadi. Itu sebenarnya juga tidak etis.

Tapi bisa saya katakan, sembari mereview pertemuan mereka dalam Pilpres 2014 lampau, secara kuantitatif dan kualitatif, Sultan Yogya selalu mengistimewakan Jokowi. Dalam memilih tempat dan memperlakukan tukang insinyur itu. Ditemui Gubernur dan ditemui seorang Sultan, dalam filosofi kebatinan, itu berbeda maknanya. Dalam dua kali pertemuan menjelang Pilpres (2014 dan 2019), Sultan selalu mengadakan acara makan malam dengan Jokowi (tapi tidak dengan Prabowo maupun Sandi).

Mengapa suka berbohong? It was not so much that he lied as that there was no truth to tell, ujar Ernest Hemingway, peraih Nobel Sastra 1954. Sebenarnya dia berbohong bukan karena dia pembohong, tetapi lebih karena tidak ada kebenaran yang dapat diucapkannya.

Menurut Doorstoot, yang diperankan Butet Kartaredjasa dalam lakon teater terbarunya, menjadi Presiden itu bukan soal pinter-pinteran bohong. Namun soal Wahyu Kedhaton! Itu Dawuh Dalem dan Berkah Dalem!

***