Gejolak Politik di Israel Juga Mengalami Anomali

Gantz adalah mantan Kepala Staf Gabungan Tentara Israel. Kalau Gantz bisa membentuk kabinet koalisi maka kebijakan terhadap Iran akan mengutamakan dialog atau diplomasi.

Rabu, 30 Oktober 2019 | 08:07 WIB
0
53
Gejolak Politik di Israel Juga Mengalami Anomali
Benny Gantz (Foto: israelinternational.com)

Pasca pemilihan umum kedua di Israel, Partai Likud yang mendukung Perdana Menteri Benyamin Netanyahu hanya mendapatkan 32 kursi dari 120 kursi. Dan pesaingnya dari partai Biru-Putih yang mendukung Benny Gantz mendapat 33 kursi. Artinya Partai Likud kalah satu suara. Sisanya adalah partai-partai kecil. Untuk membentuk kabinet koalisi dibutuhkan 61 suara.

Namun demikian PM Benyamin Netanyahu diberi kesempatan yang pertama untuk membentuk kebinet koalisi atau untuk mencari dukungan dari partai-partai kecil tersebut supaya pemerintahan terbentuk.

Akan tetapi sampai dengan waktu yang diberikan atau ditentukan oleh presiden Israel yaitu Reuven Rivlin-PM Netanyahu tidak bisa membentuk kabinet koalisi. Akhirnya PM Netanyahu menyerahkan atau mengembalikan mandat tersebut kepada presiden Rivlin.

Dan Presiden Israel yaitu Rivlin menunjuk atau memberi kesempatan kepada Gantz dari partai Biru-Putih untuk membentuk kabinet koalisi dengan jangka waktu 28 hari kedepan.

Gantz adalah mantan Kepala Staf Gabungan Tentara Israel. Kalau Gantz bisa membentuk kabinet koalisi maka kebijakan terhadap Iran akan mengutamakan dialog atau diplomasi.

Tentu ini berbeda dengan kebijakan PM Netanyahu yang cenderung ingin berkonfrontasi dengan Iran yang dianggap sebagai ancaman. Gantz lebih setuju dengan kesepakatan nuklir dengan Iran.

Kalau Gantz gagal membentuk kabinet koalisi,maka akan diadakan pemilu ketiga. Dan kalau sampai ini terjadi, maka merupakan sejarah di Israel pemilu diadakan sampai tiga kali. Karena menurut kebiasaan pemilu hanya dua kali sudah bisa membentuk kabinet koalisi.

Ini juga menunjukkan atau menandakan ada anomali politik di Israel, di mana situasi politik dalam negeri Israel juga terjadi perpecahan yang juga dialami oleh banyak negara yang situasi politiknya juga lagi bergejolak.

Bahkan Israel juga tidak mau mencari gara-gara dengan Hizbullah sebagai musuh bebuyutan karena merupakan sekutu Iran. Karena kalau terjadi perang antara Israel dengan Hizbullah maka akan menyeret konflik Israel akan lebih dalam dan tidak tahu kapan perang akan berhenti.

***