Sosok Kiai Intelektual

Posisi ganda seperti ini penting, membuat Dr. Sachedina paham dengan baik aspirasi umat dan konteks dunia sekular sekaligus.

Rabu, 5 Mei 2021 | 06:51 WIB
0
39
Sosok Kiai Intelektual
Abdulaziz Sachedina (Foto: ahmadi.edu)

Siang ini, seraya menahan perut lapar dan kantuk berat, saya diminta bicara dalam sebuah forum para kiai muda tentang Islam dan "tantangan" HAM. Forum ini diselenggarakan oleh Rumah Kitab.

Ini tema klasik dan sudah lama menjadi bahan percakapan. Sebagian pihak mungkin sudah tak berselera lagi membincangkan soal ini, karena sudah bosan. Tetapi saya menganggapnya tetap relevan. Ini, bagi saya, masalah perenial, abadi. 

Saya menawarkan sosok Dr. Abdulaziz Sachedina sebagai contoh seorang intelektual Muslim yang secara serius bergulat dengan isu HAM dan Islam.

Dia menulis dua buku penting dalam isu ini: (1) The Islamic Roots of Democratic Pluralism (2007), dan (2) Islam and the Challenge of Human Rights (2009). Saya menganggap dua buku Prof. Sachedina ini sebagai sumbangan terpenting dari pihak sarjana Muslim modern terhadap percakapan tentang HAM dari perspektif Islam.

Kelemahan mendasar percakapan soal HAM selama ini, demikian kritik Dr. Sachedina, adalah kecenderungan aktivis HAM untuk mengabaikan dimensi agama dalam diskursus mengenai hak. Kalau bisa, begitu asumsi mereka, percakapan soal HAM dibersihkan seluruhnya dari argumen keagamaan, karena hanya akan "bikin ribet" saja. Biarlah agama menjadi urusan keyakinan personal, tidak usah dilibatkan dalam urusan publik.

Prof. Sachedina mengkritik tendensi sekular semacam ini.

Saya setuju pada kritik ini. Pengabaian argumen keagamaan menjadikan isu HAM kurang memiliki legitimasi moral di mata orang-orang beriman. Mereka akhirnya kurang merasa memiliki isu ini.

Sikap aktivis HAM yang melihat agama secara instrumentalistik, sekedar sebagai pemasok dalil-dalil pembenar saja, tidak menganggap pemikir agama sebagai partner yang serius dalam percakapan soal HAM, dikritik oleh Prof. Sachedina.

Yang saya suka pada Sachedina adalah profilnya yang ganda. Selain seorang sarjana yang mengajar di kampus modern (George Mason University di Virginia), dia juga seorang kiai/ulama yang berinteraksi dengan umat.

Posisi ganda seperti ini penting, membuat Dr. Sachedina paham dengan baik aspirasi umat dan konteks dunia sekular sekaligus.

Kita butuh sosok-sosok kiai-intelektual semacam Dr. Sachedina ini sebagai "jembatan" umat ke dunia modern. Di Indonesia, sosok semacam ini diwakili oleh tokoh seperti Kiai Husein Muhammad, Bunyai Nur Rofiah, Kang Faqih Abdul Kodir, Mbak Lies Marcoes, dll.

***