Blessing In Disguise

Semoga dengan kasus pandemik virus covid-19, umat manusia tersadarkan, siuman, insyaf dan bertobat bahwa manusia itu fragile, hanya bagai sebutir debu.

Kamis, 26 Maret 2020 | 07:10 WIB
0
70
Blessing In Disguise

Pandemik virus covid-19 telah menyadarkan banyak orang-orang kaya dan pemerintah untuk rela dan terpaksa mengeluarkan sejumlah besar uang untuk membantu warga masyarakat yang hidupnya kurang beruntung dan hidup dalam kemiskinan dan kekurangan.

Barangkali, itulah yang diinginkan Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan Yang Maha Pengasih.

Sudah terlalu lama umat manusia di kolong langit ini tidak hidup selaras dan harmonis dengan Alam. Yang besar menindas yang kecil. Yang kaya tak membantu yang miskin. Yang kuat tidak melindungi yang lemah. Bahkan mencari kekayaan dengan menyakiti dan melukai sesama. Mencari keuntungan dengan cara merugikan orang lain. Merebut kekuasaan dan tahta dengan cara keji dan menghancurkan orang lain.

Umat manusia tidak mau belajar dari Alam. Manusia tidak belajar dari Matahari yang setiap hari setia memberikan sinarnya untuk menerangi bumi, memberikan kehidupan pada seluruh tumbuhan, hewan dan manusia tanpa perhitungan untung-rugi, gratis. Manusia tidak belajar dari Alam ini yang memberikan udara dan oksigen tanpa perhitungan untung-rugi, secara gratis kepada manusia.

Manusia tak belajar dari Laut yang memberikan kehidupan pada aneka ikan-ikan tanpa perhitungan untung-rugi dan secara gratis. Manusia tidak belajar dari tanah bumi ini yang meskipun diinjak-injak, diludahi, dikencingi, diberaki, tetap saja tidak marah, tetapi membalas dengan menumbuhkan aneka tanaman dan tumbuhan buah dan sayur untuk dikonsumsi manusia.

Umat manusia terlalu egois. Egoisme lebih kental melumuri hati manusia ketimbang ajaran agama.

Manusia pun lupa diri. Manusia pun merasa dia sangat perkasa. Manusia merasa sudah mampu terbang ke Bulan dan menginjakkan kaki-kaki kokohnya di atas muka Bulan. Manusia pun menyombongkan diri merasa mampu membangun gedung yang bisa melindunginya dari panas terik Matahari dan hujan. Manusia berpongah diri telah mampu menaklukkan Alam makrokosmos ini. Manusia lupa dia tak lebih dari sebutir debu di Alam Semesta ini.

Padahal semua itu sudah diajarkan agama dan tercatat di kitab-kitab suci. Manusia masih belum sadar dan siuman. Manusia tenggelam dalam kenikmatan dan keegoismean diri.

Alam ini laksana seorang Ibu yang menyayangi dan mengasihi dan mencintai anak-anaknya.
Sang Ibu terpaksa memberikan hukuman bagi anak-anaknya yang nakal dan tak pernah bisa patuh meskipun telah diberikan nasehat secara baik dan lembut.

Semoga dengan kasus pandemik virus covid-19, umat manusia tersadarkan, siuman, insyaf dan bertobat bahwa manusia itu fragile, hanya bagai sebutir debu.

Semoga setiap manusia belajar terus-menerus mengikis egoisme yang melumuri diri dan hatinya. Semoga umat manusia belajar menanamkan altruisme ke dalam hati dan menyiraminya setiap hari sehingga altruisme bertumbuh subur dalam hati setiap manusia.

Berbuat kebaikan dan kebajikan mengapa mesti menunggu datangnya musibah dan wabah melanda???

Semoga badai ini segera berlalu.