Kejahatan Orang-orang Saleh

Kejahatan orang-orang saleh adalah kejahatan yang paling keji. Ia dilakukan oleh orang-orang yang merasa suci. Senyuman dan kesombongan berbarengan dengan penindasan terhadap orang lain.

Kamis, 13 Februari 2020 | 07:01 WIB
0
296
Kejahatan Orang-orang Saleh
Ilustrasi (Foto: Kompas.com)

Bajunya religius. Senyumnya lebar. Ia ingin menampilkan diri sebagai manusia saleh. Doa rajin, apalagi ketika banyak orang menonton. Puasa pun kuat, asal juga disaksikan oleh banyak orang.

Tampilan religius dibalut juga dengan kekayaan yang gilang gemilang. Sayang, hobinya mencuri, alias korupsi. Ia memandang rendah orang-orang miskin, dan orang-orang yang berbeda identitas dengannya. Jika mungkin, ia mempersulit, dan bahkan menindas mereka.

Tampilan religius dan kekayaan melahirkan kesombongan. Ia merasa, Tuhan ada di pihaknya. Jilat atas (orang-orang kaya dan berkuasa), injak bawah (orang-orang miskin dan minoritas), itulah semboyan hidupnya. Tentu saja, doa jalan terus, terutama jika banyak orang menyaksikan.

Kejahatan dan Kesalehan

Inilah kejahatan orang-orang saleh. Intinya adalah kemunafikan. Hidup beragama tak dibarengi dengan peningkatan kepekaan terhadap alam dan orang lain. Semakin hari, manusia semacam ini semakin banyak ditemukan di Indonesia.

Kesalehan adalah keutamaan yang berpijak pada tradisi atau agama tertentu. Ia bersifat pribadi. Di dalam masyarakat multikultur dan demokratis, seperti Indonesia, kesalehan harus dibarengi dengan keutamaan hidup sebagai warga negara modern, seperti berpikir rasional, patuh hukum, bersikap kritis dan terbuka pada perbedaan. Jika tidak, ia akan terjatuh pada kemunafikan.

Pemikir Jerman, Hannah Arendt, menyebut ini sebagai banalitas dari kejahatan (Banalität des Bösen). Karena kurangnya kepekaan, dan tajamnya kebiasaan yang dibangun lama, kemunafikan menjadi hal biasa. Bahkan, kemunafikan dipertontonkan di depan orang banyak, seringkali dibalut dengan upacara keagamaan, supaya terlihat saleh dan suci. Tak ada rasa malu.

Inilah jiwa dari manusia kerumunan. Martin Heidegger, pemikir Jerman lainnya, menyebutnya sebagai Das Man, yakni manusia-manusia palsu. Ini adalah manusia yang secara buta patuh mengikuti tradisi dan agama. Setiap pertanyaan dan pemikiran kritis dibungkam oleh ketakutan dan kepatuhan dangkal.

Akar dari jiwa Das Man, menurut Heidegger, adalah ketidakberpikiran (Gedankenlosigkeit). Orang bisa cerdas menghafal dan menghitung. Namun, ia tidak berpikir kritis. Ia hanya mengikuti secara buta apa yang menjadi kecenderungan masyarakat umum.

Publik dan Privat

Maka, kesalehan tidaklah cukup. Keutamaan publik demokratis haruslah dikembangkan. Kesalehan agamis menjadi urusan pribadi dan golongan semata, serta bukan urusan negara. Seperti dijelaskan oleh Habermas, pemikir Jerman kontemporer, kesalehan agamis harus bisa diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa yang bisa dimengerti oleh semua pihak, terutama oleh orang-orang yang berbeda identitas.

Tentunya, pembedaan ruang publik dan ruang pribadi harus ditekankan dulu. Persoalan alat kelamin dan orientasi gender adalah urusan pribadi yang mesti dilepaskan dari mata negara. Korupsi, kekerasan dan diskriminasi adalah persoalan publik yang harus dihadapi oleh negara dan hukum. Tanpa dua pembedaan ini, kemunafikan berbalut kesalehan akan terus berkembang.

Di Indonesia, orang boleh memeluk tradisi ataupun agama tertentu. Namun, ia juga adalah warga negara yang hidup bersama di dalam negara hukum dengan beragam orang yang berbeda latar belakang. Keduanya harus berjalan seimbang, walaupun tetap terpisah.

Jika orang saleh, namun tak memiliki keutamaan publik demokratis, maka  ia dan kelompoknya akan dimanfaatkan oleh para politisi busuk untuk merusak keadaan. Pilkada Jakarta 2017 dan Pilpres 2019 kiranya harus menjadi pelajaran bersama.

Kejahatan orang-orang saleh adalah kejahatan yang paling keji. Ia dilakukan oleh orang-orang yang merasa suci. Senyuman dan kesombongan berbarengan dengan penindasan terhadap orang lain.

Kiranya benar, bahwa setan di abad 21 tidak lagi bertanduk dan bertaring, namun menggunakan dandanan religius, dan pandai berbicara soal kesalehan. Ia berdoa keras-keras, sambil terus korupsi, mencuri dan menindas.

***