Belajar Agar Basa-basi yang Kita Lontarkan Tidak Menyakiti Hati Pendengar

Selain buku ini memberi banyak manfaat, terdapat pula beberapa tips dan cara penyampaian kalimat yang tidak akan memojokkan atau menyakiti orang lain.

Rabu, 24 November 2021 | 10:40 WIB
0
132
Belajar Agar Basa-basi yang Kita Lontarkan Tidak Menyakiti Hati Pendengar
C-Klik Media

Judul Buku                  : Basa Basi Yang Tak Basi

Penulis                         : Nopitasari

Penerbit                       : C – Klik Media

Kota terbit                   : Yogyakarta

Tahun terbit                 : 2021 

Jumlah halaman          : vii + 145 halaman

Harga buku                  : Rp. 53.000 (Pulau Jawa)

Peresensi                     : Meyva Prettyka Jesnita/175/Farmasi-D

     Nopitasari merupakan perempuan kelahiran Karanganyar. Ia mulai memasuki dunia penerbitan sejak tahun 2017. Saat ini, ia menempati posisi sebagai  konseptor dan editor di sebuah penerbitan buku. Selain itu, ia juga merupakan seroang penulis lepas. Beberapa tulisannya sudah diterbitkan baik secara indie maupun mayor. Pada saat ini, ia sedang berusaha untuk terus belajar dalam dunia kepenulisan.

     Salah satu karya Nopitasari yang telah diterbitkan adalah buku berjudul Basa Basi Yang Tak Basi. Ia menulis buku ini karena pernah mengalami atau menerima beberapa pertanyaan yang menurutnya menjengkelkan. Seperti,”Kapan lulus?”, “Kapan nikah?”, “Sekarang gendutan, ya?”. Beberapa pertanyaan tersebut mungkin hanya sekedar basa–basi. Namun, kita tidak tahu pertanyaan yang kita lontarkan itu menyakiti pendengar atau tidak.

     Nopitasari menulis buku ini tidak hanya sekedar iseng atau gabut. Ia menulis buku ini bertujuan agar pembaca lebih bisa memilah, mana pertanyaan atau pernyataan yang baik untuk disampaikan dan mana yang tidak. Meskipun hanya sekedar basa-basi, tetapi ucapan yang kita lontarkan tidak terkesan menyakiti atau memojokkan.

     Pada buku ini, penulis mengambil beberapa topik untuk dibahas. Topik ke 1 yang dibahas dalam buku ini adalah basa–basi bikin cranky. Biasanya obrolan sesama perempuan saat bertemu adalah obrolan yang seru atau menyenangkan.

     Namun, tidak jarang menjadi obrolan yang awkward bagi keduanya. Kita pasti pernah merasa cranky karena pertanyaan dari orang lain. Untuk menghindari topik tersebut, kita harus tetap stay positive.

     Topik ke 2 yang dibahas adalah basa–basi bikin baper, misalnya “Sekarang gendutan, ya?”. Mungkin beberapa orang tidak mempermasalahkan ketika dikatai gendut. Namun, ada juga beberapa orang yang akan mempermasalahkan ketika dikatai gendut. Pada topik ini penulis meminta kita untuk tetap mencintai diri kita sendiri bagaimanapun keadaannya.

     Topik ke 3 yang dibahas dalam  buku ini pasti hampir 80% remaja pernah mengalaminya. Basa–basi bikin panik, contohnya “Sekarang jerawatan?”. Kita tidak tahu seberapa banyak orang yang susah payah merawat kulitnya agar tetap sehat dan mulus. Namun, tidak mungkin semua orang berhasil mendapatkan hasil yang maksimal. Didalam buku ini dapat disimpulkan bahwa kita sebagai sesama manusia, apalagi sebagai sesama perempuan harus saling menyemangati bukan malah membuat mereka down.

     Topik ke 4 adalah basa–basi yang bikin kita pengen ceramah, contohnya ketika ditanya “Kapan lulus?”. Kita harus tahu, tidak semua orang siap dengan pertanyaan ini. Mungkin ada yang menanggapinya dengan santai, akan tetapi hal ini tetap akan mengganggu pikiran mereka. Penulis mengajarkan, lebih baik kita mensupport mereka, daripada menanyakan hal yang mungkin saja dapat menambah beban mereka.

     Topik ke 5 yang dibahas adalah basa–basi bikin hati tersentil, ketika ditanya “Masih jomblo?”. Kita tahu bahwa tidak semua orang memiliki pandangan yang sama tentang pasangan. Ada beberapa orang berprinsip bahwa single is happy. Intinya adalah ketika kita memiliki pasangan, bukan berarti orang lain juga harus memiliki pasangan.

     Topik ke 6 membahas tentang  ladang komparasi, misalnya “Kapan kerja?”. Beberapa orang yang belum bekerja bukan berarti mereka tidak berusaha. Semua usaha tidak ada yang berjalan mulus. Pembelajaran yang dapat diambil dari topik ini adalah kita tidak boleh berhenti berusaha dan kita masih mempunyai seribu cara untuk sukses versi diri  kita sendiri.

     Topik ke 7 membahas tentang basa-basi yang bikin resah, contohnya “Kapan nikah?”. Kita tidak boleh melupakan bahwa setiap orang memiliki targetnya masing–masing. Ada yang ingin menikah muda dan ada yang ingin menikah pada usia matang. Mereka akan menikah atau tidak, kita tidak perlu mempermasalahkan hal itu. Inti dari topik ini adalah jangan terlalu mencampuri urusan orang lain, apalagi jika termasuk kedalam urusan pribadi.

     Topik ke 8 adalah basa–basi yang bikin risau, contohnya ketika ditanya “Kapan isi?”. Tidak sedikit pasangan yang ingin segera mempunyai anak dan menjadi orang tua. Namun, ada juga yang mungkin menunda karena alasan tertentu. Maksud penulis dalam topik ini adalah alangkah baiknya jika kita tidak menanyakan hal tersebut, karena kita tidak tahu pertanyaan seperti itu bisa saja menyakiti mereka.

     Topik ke 9 yang dibahas adalah kalimat cranky vs happy. Dalam hal ini, cranky diartikan sebagai kalimat yang membuat orang sedih atau merasa terpojokkan. Sedangkan happy adalah kalimat yang membuat orang merasa senang dan mendapat afirmasi positif.

     Dari buku ini kita dapat memahami bahwa, kita tidak akan bisa sepenuhnya mengerti dan memahami kondisi orang lain. Ada baiknya kehadiran kita sebagai individu yang memerlukan individu lainnya diisi dengan hal positif. Sebagian orang merasa santai ditanya kapan ini dan itu. Namun, sebagian orang lainnya akan pergi atau malah menimbulkan stress berkepanjangan. Apabila tidak bisa memberi mereka solusi, setidaknya kita tidak memberi beban tambahan.

     Buku ini memiliki beberapa keunggulan diantarnya cover menarik, simple dan tidak terlalu ramai atau mencolok. Terdapat juga beberapa tips bagaimana agar basa–basi kita tidak terkesan memojokkan. Selain itu juga ada beberapa pesan yang dapat kita ambil. Tidak hanya itu, disetiap akhir bab terdapat lembar kosong yang bisa digunakan untuk menulis pengalaman kita terkait topik yang dibahas. Namun, buku ini juga memiliki beberapa kelemahan, salah satunya adalah beberapa kalimat dalam buku ini kurang efektif.

     Meskipun demikian, buku ini layak dibaca untuk para remaja seperti kita saat ini. Karena selain buku ini memberi banyak manfaat, terdapat pula beberapa tips dan cara penyampaian kalimat yang tidak akan memojokkan atau menyakiti orang lain.      

***