Era Google, Ketika Agama Bergeser dari Kebenaran Mutlak Menjadi Kekayaan Kultural

Semakin banyak yang menikmati agama lebih sebagai kekayaan kultural milik semua manusia. Mereka lebih rileks bahkan untuk ikut menikmati perayaan hari besar berbagai agama.

Senin, 4 Januari 2021 | 06:59 WIB
0
556
Era Google, Ketika Agama Bergeser dari Kebenaran Mutlak Menjadi Kekayaan Kultural
Ilustrasi berdoa (Foto: Media Indonesia)

11 Fakta Baru dan Lama

Peradaban Era Google. Peradaban Revolusi Industri Keempat. Semua akan mencapai buah yang paling lezat, ketika semakin terjadi pergeseran kesadaran.

Yaitu pergeseran kesadaran dari “Agamaku satu satunya kebenaran mutlak” menjadi “Agama atau Tidak Beragama adalah kekayaan kultural milik kita bersama. Ayo hormati. Ayo nikmati.”

Saat itu dunia akan lebih harmonis. Kultur semakin kaya. Keberagaman didukung oleh kesadaran kolektif.

Sebelas fakta dibawah ini sedang bekerja. Sebelas fakta ini, baru, sangat baru, dan lama, akan menjadi hukum besi yang semakin menggeser kesadaran itu.

Saya ringkaskan 11 fakta itu. Dalam esai selanjutnya masing masing dari 11 fakta itu akan lebih dieksplor.

Di era google, di era revolusi industri keempat, banyak riset mendalam dikerjakan. Banyak hal diukur dan dibuatkan index. Banyak ranking bisa dikontruksi.

Tingkat keberagamaan banyak negara bisa diukur melalui survei opini publik. Tingkat korupsi banyak negara juga bisa disusun berdasarkan judgement para ahli.

Tingkat kebahagian warga negara bisa diindekskan. Tingkat kecerdasan individu, juga bisa diperingkat.

Khusus soal dunia agama, ketika aneka indeks, measurement, dan peringkat itu diuji silang, kitapun terpana.

Aha! Wah! Kok begini?!

Ini sebelas fakta dan temuan di era Google, yang akan mengubah cara kita memahami agama.

Pertama, di negara yang indeks kebahagiannya tinggi (World Happiness Index), umumnya level beragama masyarakatnya rendah. (1)

Negara yang paling mampu membuat warganya bahagia, sebagaimana diukur oleh World Happines Index, populasi di negara itu cenderung menganggap agama tak lagi penting dalam kehidupan mereka (diukur dari religiusity index).

Kedua, di negara yang tingkat beragama tinggi (Religiosity Index), pemerintahannya cenderung korup (2).

Banyak negara yang lebih dari 90 persen populasinya menyatakan agama sangat penting dalam hidupnya. Di negara itu, tingkat korupsi pemerintahannya juga sangat tinggi (diukur dengan the Corruption Perception Index).

Ketiga, di negara yang pembangunan manusianya tinggi (Human Development Index), tingkat beragama masyarakatnya cenderung rendah (3)

Human Development Index (HDI) mengukur kemajuan negara dengan aneka dimensi mulai dari kesejahteraan, kesehatan hingga pendidikan. Itu hal penting membangun manusia.

Top 10 negara yang tertinggi HDInya, cenderung masyarakat itu tak menganggap agama hal yang penting dalam hidupnya.

Keempat, pada masyarakat yang tingkat beragamanya tinggi, memiliki kecerdasan rata rata (Cognitive Test Measurement) yang lebih kurang dibandingkan masyakat yang tingkat beragamanya lebih rendah (4)

University of Rocherter, secara khusus mengukur hubungan antara tingkat IQ dan agama. Hasil temuan itu diterapkan untuk teritori dunia.

Sedangkan di bawah ini juga fakta yang semakin bisa diakses di era Google.

Kelima, dua agama paling besar: Islam dan Kristen, meyakini dua fakta yang bertolak belakang. Mustahil dua fakta ini benar. Salah satu pasti salah.

Publik luas menyaksikan. Fakta yang salahpun bisa diyakini oleh lebih dari satu milyar manusia, dan lebih dari 1.000 tahun.

Kristen meyakini fakta yesus (Nabi Isa) wafat disalib. Islam meyakini fakta sebaliknya: Yesus (Nabi Isa) tidak wafat disalib.

Kristen meyakini yang akan dikorbankan oleh Nabi Ibrahim adalah Ishak. Islam meyakini yang akan dikorbankan oleh Nabi Ibrahim adalah Ismail (5)

Dari kasus dua fakta itu mustahil duanya benar. Jika Nabi Isa (Yesus) wafat disalib, mustahil fakta Nabi Isa tak wafat disalib benar. Begitu pula sebaliknya.

Jika fakta yang “akan dikorbankan Nabi Ibrahim adalah Ismail,” mustahil fakta “Ishak yang akan dikorbankan” benar. Begitu pula sebaliknya.

Pasti ada yang salah di antara dua keyakinan itu. Toh fakta yang salah bisa diyakini oleh begitu banyak manusia. Begitu lama.

Inilah kenyataan agama. Bahkan ini terjadi pada salah satu dari dua agama terbesar di atas.

Keenam, Arkeolog, antropolog, dan ilmuwan menemukan banyak fakta. Menurut temuan mereka, beberapa Nabi itu bukan tokoh sejarah: Musa, Nuh, Adam.

Arkeolog juga menemukan betapa kisah Nabi Itu menyerupai kisah rakyat dari era peradaban yang lebih tua dari usia kitab suci.

Temuan ini juga mengubah cara kita memahami masa lalu di era kitab suci diriwayatkan.

Kisah Nabi Musa misalnya. Bahwa, Nabi Musa ketika bayi dibuang di sungai, badannya ditampung dalam keranjang, lalu ditemukan di negeri lain oleh petugas kerajaan. Kemudian ia dibesarkan di Istana. Lalu ia kembali ke tanah asal, menjadi pemimpin.

Kisah Nabi Musa di atas sama persis dengan kisah Raja Sargon dari Summeriah/Mesopotamia, yang dokumennya lebih tua dibandingkan Bible. (6)

Tujuh, kebijakan publik top 10 negara paling sejahtera, paling bahagia, paling membangun manusia, tak lagi merujuk kitab suci.

Hukum yang disusun di parlemen. Temuan ilmu di labolatorium. Perkembangan bisnis di dunia modern. Keputusan politik pemangku kebijakan. Semua diambil dengan semakin tidak merujuk pada kitab suci. (7)

Delapan. Kini hidup 4.300 agama. yang berbeda. Peradaban menyaksikan pertarungan para fanatik mengklaim berbagai kebenaran mutlak yang saling tak identik. (8)

Sebuah renungan untuk melihat betapa perbedaan itu terjadi pada isu dan pokok masalah yang tak bisa difalsifikasi. Tak ada pegangan obyektif untuk tahu yang mana yang benar.

Sembilan, setelah pendiri agama tiada, (penerima wahyu seperti yang diyakini penganutnya) wafat, yang tersisa hanya perbedaan tafsir para ahli. (9)

Para pendeta, ulama, biksu berbeda beda memahami dan beropini mulai dari hal yang esensial hingga hal teknis.

Di agama Islam, misalnya, soal siapa pengganti Nabi Muhammad selaku pemimpin masyarakat? Haruskah pengganti itu keturunan Nabi atau pemimpin yang dipilih?

Perbedaan itu bahkan terjadi di kalangan generasi pertama Muslim. Beda sikap bahkan sudah ada pada mereka yang mengenal Nabi.

Perbedaan ini telah membelah agama Islam menjadi Sunni versus Syiah. Hingga masa kini, pembelahan itu terus hidup.

Bahkan soal teknis, kapan lebaran dimulai, Muhammadiyah dan NU memiliki metode yang berbeda. Hasilnya pun, kapan lebaran terjadi, juga acap berbeda.

Hal yang serupa terjadi pada agama lain.

Sepuluh, perayaan hari besar Agama, seperti Natal, juga mulai dirayakan penganut agama lain. Bagi mereka, Natal adalah peristiwa kultural yang cukup syahdu untuk ikut dirayakan walau mereka tak meyakini agama kristen (10).

Pew research center mencatat betapa banyak sekali penganut agama lain, juga yang tak beragama, di Amerika Serikat tak hanya hadir. Mereka juga menjadi tuan rumah perayaan Natal.

Sebelas, Hak asasi manusia menghargai kebebasan beragama ataupun tak beragama. Apapun tafsir, dan keyakinan soal Tuhan, agama, dan kebenaran, itu diserahkan kepada pilihan individu.

Keyakinan itu dilindungi sejauh tak ada pemaksaan dan kekerasan kepada pihak lain.

Kini mereka yang tak meyakini agama apapun adalah segmen terbesar nomor tiga di dunia, setelah penganut kristen dan Islam.(11)

Sengaja penulis berikan link sumber pustaka untuk sebelas fakta di atas. Ini juga buah era Google. Hasil riset yang dulu eksklusif dinikmati segelintir akademisi, kini bisa diakses, dibaca dan direnungkan publik luas.

Kita memasuki peradaban yang sama sekali baru.

Disrupsi perubahan mendasar tak hanya terjadi pada teknologi, dengan datangnya Internet of Everythings. DNA yang bisa diedit. Hewan dan organ manusia bisa dicloning, difotocopy.

Perubahan tak hanya terjadi di dunia bisnis. Pasar online pelan pelan menghancurkan ritel tradisional.

Perubahan juga hanya terjadi di dunia media. Koran cetak terkemuka tutup dan berganti online. Perlahan aneka jaringan TV tradisional juga bangkrut. Semua akan hadir di handphone.

Tak hanya politik yang berubah. Begitu banyak masalah yang semakin tak bisa diselesaikan hanya oleh satu negara nasional, tapi harus kerjasama regional, bahkan global.

Itu seperti isu lingkungan hidup. Internet. Perlombaan nuklir. Dan isu pandemik. Semua harus global.

Kini dunia agamapun berubah.

Tentu tetap hidup kesadaran yang meyakini “hanya agamaku saja yang asli dari Tuhan Alam Semesta. Hanya tafsirku saja, yang merupakan satu satunya kebenaran mutlak.”

Sikap beragama itu tetap hadir. Pola keyakinan itu tetap dihormati untuk berlanjut.

Tapi semakin banyak yang menikmati agama lebih sebagai kekayaan kultural milik semua manusia. Mereka lebih rileks bahkan untuk ikut menikmati perayaan hari besar berbagai agama.

Zaman memang berubah. Telah datang era melihat agama (dan tidak beragama) sebagai kekayaan kultural milik kita semua. Karena itu, bersama kita hormati. Bersama kita nikmati.*

Januari 2021

Denny JA

***

Esai ini Pegantar Buku Denny JA (2021): Berubahnya Memahami Agama di Era Google 11 Fakta Baru dan Lama

1. Indeks kebahagiaan sudah diukur dan digunakan PBB

2. Index beragama juga sudah disusun melalui survei Gallup Poll

3. Indeks pembangunan manusia (Human Development Index) sudah pula diterapkan

4. Korelasi kecerdasan dan agama juga diriset

5. Islam dan kristen meyakini fakta yang mustahil dua duanya benar: Yesus (Nabi Isa) wafat disalib versus tak wafat disalib

6. Banyak temuan arkeologi yang menyimpulan Nabi Musa bukan tokoh sejarah. Ia tokoh yang diciptakan untuk ajaran moral.

7. Public policy negara modern tak lagi bergantung pada kitab suci

8. Kini hadir 4300 agama. Begitu banyak klaim kebenaran yang berbeda beda satu sama lain

9. Ulama, pendeta, biksu saling menafsir agama secara berbeda beda

10. Natalpun kini dirayakan oleh yang bukan kristen

11. Jumlah mereka yang tak beragama nomor tiga terbanyak di dunia