Sifat dan Pengasuhan Moralitas

Perdebatan sifat-pengasuhan tentu membutuhkan penyempurnaan, tetapi tidak boleh dihentikan.

Selasa, 27 September 2022 | 08:15 WIB
0
44
Sifat dan Pengasuhan Moralitas
image: PT

Cara berpikir dengan bijaksana tentang cara biologi dan budaya membentuk kepedulian moral.

Poin-Poin Penting

  • Para ilmuwan yang berfokus pada pemahaman perkembangan manusia sering mencemooh perdebatan sifat-pengasuhan, mengklaim itu sepenuhnya salah arah.
  • Namun bertanya tentang bagaimana individu mengembangkan rasa moral hanyalah salah satu di antara banyak pertanyaan yang dapat diajukan tentang sifat dan pengasuhan.
  • Sebaliknya, bertanya tentang bagaimana sifat dan pengasuhan berkontribusi pada variasi dalam sistem moral dapat memicu penyelidikan ilmiah yang produktif.
  • Kita semakin mendapatkan pemahaman tentang bagaimana sifat dapat menghasilkan universal moral dan bagaimana pengasuhan dapat menghasilkan keragaman moral.

Pilih dua orang secara acak dari antara delapan miliar manusia yang hidup hari ini, dan Anda mungkin akan menemukan banyak sekali kesepakatan moral di samping sejumlah besar ketidaksepakatan moral yang serupa. Bagaimana semua universalitas dan keragaman moral ini ada? Pertanyaan ini menuntut eksplorasi alam dan pengasuhan.

Pemberhentian Modern dari Debat Sifat-Pengasuhan

Namun, para ilmuwan semakin rentan terhadap dua kata 'sifat-pengasuhan' ini. Tentu saja, setiap sifat adalah produk interaksi kompleks antara gen dan lingkungan, sehingga para ahli biologi dan psikolog yang mempelajari proses perkembangan menegaskan bahwa perdebatan tentang alam dan pengasuhan adalah salah arah.

Karena para ahli perkembangan adalah ahli dalam proses yang menyebabkan sifat-sifat terungkap dalam individu, mereka dengan tepat menunjukkan bahwa rasa moral adalah hasil dari berbagai kekuatan dinamis, mulai dari molekuler hingga sosial, yang berinteraksi secara dua arah sepanjang rentang hidup. Para ilmuwan ini biasanya berpendapat bahwa perdebatan antara nativisme dan empirisme harus sepenuhnya dihilangkan dalam studi moralitas manusia, dan bahwa kita seharusnya mempelajari bagaimana sifat-sifat muncul dari proses perkembangan itu sendiri.

Perspektif ini sepenuhnya masuk akal. Para developmentalis benar dalam mengatakan bahwa tidak masuk akal untuk mencoba mengurai proses rumit interaksi gen-lingkungan menjadi komponen-komponen terpisah. Kita tidak dapat secara koheren mengatakan bahwa kesadaran moral seseorang adalah 60 persen karena gen mereka, misalnya. Tetapi para developmentalis salah dalam menyimpulkan bahwa karena itu kita harus berhenti terlibat dengan perdebatan sifat-pengasuhan.

Menyelamatkan Debat Sifat-Pengasuhan

Ketika orang berbicara tentang "sifat" dan "pengasuhan", mereka tidak selalu bertujuan untuk memahami proses kausal yang menyebabkan sifat terbentuk dalam individu. Banyak psikolog malah tertarik untuk mengeksplorasi faktor-faktor yang berkontribusi pada persamaan dan perbedaan keyakinan moral dan perilaku antara orang-orang dalam masyarakat tertentu, atau antara masyarakat yang berbeda. Kepentingan-kepentingan ini memberikan pertanyaan tentang penyebab variasi.

Untuk mempelajari variasi, para ilmuwan melihat lintas individu daripada di dalam individu.

Misalnya, ahli genetika perilaku bertujuan untuk memperkirakan sejauh mana berbagi gen atau berbagi lingkungan memprediksi kesamaan dalam kecenderungan moral, meskipun saat ini sedikit yang diketahui tentang heritabilitas moralitas. Dalam badan penelitian yang jauh lebih luas, psikolog evolusioner dan psikolog lintas budaya telah mengeksplorasi bagaimana kecenderungan moral terkadang melampaui batas budaya dan bagaimana kecenderungan ini terkadang terikat pada pembelajaran budaya. Pengejaran ini membuatnya jauh lebih masuk akal untuk berpikir tentang alam dan pengasuhan sebagai komponen yang dapat dipisahkan, meskipun karya terbaru tentang koevolusi kultur gen telah menunjukkan bagaimana mereka sering terjalin.

Mengungkap Bagaimana Sifat dan Pengasuhan Memengaruhi Moralitas Kita

Sampai saat ini, studi lintas budaya yang telah mencari sumber universalitas dan keragaman dalam kecenderungan moral telah menghasilkan kesimpulan penting tentang sejauh mana aspek-aspek tertentu dari rasa moral kita disangga terhadap faktor-faktor eksternal seperti ekologi atau agama.

Beberapa elemen psikologi moral (seperti kecenderungan untuk secara moral memuji tindakan kooperatif dan keinginan untuk menghukum pelaku intimidasi) kuat dalam menghadapi variasi sosial dan budaya yang luar biasa, yang merupakan satu pengertian di mana aspek-aspek moralitas ini dapat dikatakan sebagai "bawaan". (Cara berpikir lain tentang bawaan, seperti berkembang tanpa adanya pembelajaran, hadir saat lahir, atau dikodekan secara genetik, lebih penuh dengan kontradiksi).

Sebaliknya, unsur-unsur lain dari psikologi moral (seperti sejauh mana mencari kehormatan menimbulkan pembalasan moralistik dan jumlah entitas yang dianggap layak mendapat perhatian moral) sangat bervariasi di seluruh kesenjangan sosial dan budaya, menunjukkan bahwa mereka sangat rentan terhadap pengaruh eksternal––bukan dalam arti bahwa lingkungan memainkan “peran yang lebih besar” daripada gen dalam perkembangan sifat-sifat ini, tetapi dalam arti bahwa variasi dalam lingkungan menimbulkan varians lintas populasi yang substansial dalam manifestasi sifat-sifat ini.

Studi moralitas lintas budaya akan terus menghasilkan banyak wawasan penting tentang universalitas manusia dan perbedaan manusia, dan temuan ini akan terus memunculkan catatan teoretis yang secara bermanfaat menggunakan konstruksi sifat dan pengasuhan.

Ketika penelitian semakin melihat sejauh mana orang-orang dari masyarakat yang jauh menunjukkan lebih banyak kesamaan atau lebih banyak perbedaan dalam nilai dan tindakan moral mereka, psikolog akan semakin mampu menarik kesimpulan yang masuk akal tentang bagaimana sifat dan pengasuhan memengaruhi kecenderungan moral kita.

Perdebatan sifat-pengasuhan tentu membutuhkan penyempurnaan, tetapi tidak boleh dihentikan.

***
Solo, Selasa, 27 September 2022. 8:06 am
'salam hangat penuh cinta'
Suko Waspodo
suka idea
antologi puisi suko