Beragama tanpa Nafsu

Menjadi adil memang bukanlah perkara mudah, seringkali konsekuensi yang harus diterima adalah tidak disukai oleh banyak orang.

Sabtu, 10 Agustus 2019 | 20:02 WIB
0
64
Beragama tanpa Nafsu
Ilustrasi beragama (Foto: jadiberita.com)

Bapak saya jelas bukan pria yang sempurna.

Sebagai dosen fiqh beliau dikenal sebagai dosen yang 'killer'. Saya tidak pernah melihatnya tersenyum di depan mahasiswanya yang datang ke rumah untuk bimbingan skripsi. 

Bapak mengingatkan saya pada guru-guru di sekolah yang sama mendapat predikat 'killer' nya, dan mempunyai guru/dosen 'killer' itu menakutkan dan menyebalkan, betul, kan?

Kadang saya sendiri suka 'mbatin... Kenapa sih bapakku ini tidak bisa seperti Gus Dur saja, atau seperti rekan-rekan bapak sesama dosen yang saya tahu sangat menyenangkan & humoris, sehingga proses belajar tu bukan menjadi suasana yang horor.

Sebagai seorang Ayah, bapak juga sangat galak. Beliau tidak dekat anak-anaknya karena karakternya itu (kecuali dengan saya si anak bungsunya dengan jarak usia 50 th, bapak sangat memanjakan saya, mungkin dianggapnya saya ini 'mainan baru' nya, sehingga kapan saja bapak pergi, saya selalu ditenteng kemana-mana, kecuali ke ruang kelasnya he he.. ).

Kadang saya berpikir, bapak ini sebenarnya tidak galak-galak benar, beliau hanya menjaga wibawa berlebihan di depan 8 anaknya. Mendisplinkan anak sebanyak itu bukan perkara mudah. Kalau memilih sikap menye-menye, pasti orang tua akan dipusingkan berhadapan dengan banyak keinginan, sikap dan karakter anak-anak yang berbeda-beda. Yang punya banyak anak pasti paham ini.

Seringnya sikap galaknya memang menyebalkan kami, bagaimana di depan keluarga intinya beliau sosok yang tegas dan galak, namun bisa menjadi sosok menyenangkan, humoris, likeable, di depan keluarga besar dan lingkungan pergaulannya. Satu gerundelan kami yang tidak pernah sampai di telinganya, karena kami tidak berani.

Sebagai seorang pemeluk agama, beliau juga sangat strict dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan agama. 

Mungkin karena spesialisasi ilmunya juga ushul fiqih, bapak sangat hati-hati dengan segala hal yang berbau haram apalagi syubhat.

Sepanjang saya mengenal bapak selama 20 tahun, di rumah kami hanya mengenal lauk ayam kampung. Di luar rumah kami hanya pergi ke rumah makan tradisional yang menyediakan ayam kampung gelondongan, yang masih lengkap dengan kepalanya, sehingga ketahuan ayam tsb disembelih sesuai syar'i atau tidak.

Bapak juga sangat anti makanan bakso, meski tidak melarang keluarga mengkonsumsi. Katanya penyebabnya karena trauma, karena saat kuliah pernah secara tidak sengaja makan bakso yang mengandung babi, lalu kapok tidak mau mengenal bakso lagi.

Dan ternyata ke-strict-annya itu tidak menurun pada anaknya. Bandingkan dengan 'kelonggaran' saya yang berkali tidak sengaja makan makanan mengandung babi di tempat-tempat yang dijual oleh orang cina, tapi gak pernah ada traumanya menjadikan Chinese Foods sebagai makanan favorit he he..

Bukan hanya soal makanan, bapak juga sangat strict thd praktik Riba.

Dulu ketika Bapak wafat saat saya dan 4 kakak saya masih kuliah secara bersamaan dan melihat ibu kepayahan membiayai kami, saya sedikit'menyalahkan' ibu yang tidak pernah ikut asuransi pendidikan sejak dulu.

Tapi tentu saya sadar itu adalah sebuah saran yang konyol. Karena jangankan asuransi yang jelas ngeRIBAbanget, memiliki rekening bank saja bapak tidak.

Kalau bapak masih hidup di jaman now, entah 'ceramah' apa yang akan beliau sampaikan kepada para agen kartu kredit dan asuransi yang sering menelpon dengan gigih. Hanya membayangkannya saja sudah membuat saya tertawa he he..

Ke-strict-an terhadap non muslim? Hmm..

Mengingat itu saya jadi kasian terhadap kakak perempuan saya yang pernah mengalami pengalaman tidak menyenangkan dan menjadi 'dendam' tersendiri kepada bapak.

Ceritanya ketika itu kakak membawa teman dekat lelakinya untuk diperkenalkan. Alih-alih mendapat sambutan baik, bapak mengusir si pria dengan segala kegalakannya. Wanita mana yang tidak marah dipermalukan oleh bapaknya sendiri di depan orang lain. Hubungan mereka pun kandas, karena si pria yang non muslim dan tambahan lain beretnis tionghoa. 

Meski saya yakin pertimbangan bapak hanya soal perbedaan aqidahnya saja.

Ya, saya yakin bapak bukan seorang rasialis yang sering teriak anti ini anti itu di luar tuntunan agama, seperti muslim yang sedang mabuk agama di jaman now.

Bapak memang bukan sosok yang sempurna. Tapi padanya saya belajar bagaimana beragama tanpa nafsu.

Beliau mungkin sangat strict terhadap non muslim, namun semata-mata hanya pada persoalan aqidah. Ia hanya sedang menjalankan kewajibannya sebagai seorang ayah untuk melindungi aqidah anak-anaknya.

Di luar itu, pada soalan muamalah misalnya, bapak adalah contoh tetangga yang baik, manakala rumah kami dikepung oleh para tetangga non muslim dan beretnis tionghoa.

Tetangga kanan kami adalah keluarga Kristen, dan karena rumahnya merangkap pabrik, mereka memiliki puluhan anjing yang sangat berisik dan berkeliaran di sekitar rumah kami, tapi saya tidak pernah melihat bapak sekalipun menghardik anjing-anjing itu. 

Walaupun kami jarang berkomunikasi tapi kami saling mengirim makanan. Saat natal atau imlek, mereka akan mengirim parcel, dodol dlsb. Saat buah-buahan di rumah kami sedang berbuah, kami mendahulukan memisahkan yang terbaik untuk para tetangga.

Tetangga kiri juga seorang Kristen yang memiliki satu anjing besar. Anjingnya lucu, namanya Heli, dan saya tidak pernah ditegur bapak kalau sedang bermain dengan Heli dari rumah kami. Kebetulan tembok samping kiri rumah tidak tinggi, dan berbatasan dengan ruang bermain si Heli, hanya dengan melongokkan kepala saya bisa 'ngobrol' dengan Heli si gimbal yang memang menggemaskan.

Tetangga depan kami seorang Budha yang memiliki meja sembahyang di beranda lotengnya yang menghadap ke jalan raya. Ada dupa dan bermacam sesajen di meja itu. Setiap malam jumat sudah biasa lingkungan kami mencium bau kemenyan dari dupa para tetangga yang beragama Budha. Tidak ada yang merasa terganggu. Hal yang biasa saja dalam kehidupan bertetangga. Mungkin sama biasanya non muslim yang harus mendengar suara adzan 5x sehari, bukankah begitu?

Ya, bapak saya bukan sosok yang sempurna, tapi padanya saya belajar bagaimana meluaskan cakrawala & wawasan, agar kami mampu beradaptasi dengan lingkungan, sehingga pada ujungnya mampu bersikap ADIL pada orang lain.

Dulu belum ada bencana hoax seperti yang melanda dunia hari ini. Tapi bapak tidak pernah tahu, bahwa kebiasaannya berlangganan 2 terbitan koran dan majalah, seperti Kompas dan Republika, Tempo dan Panji Masyarakat, yang memiliki 2 genre yang berbeda bahkan saling bertolak belakang, mengajarkan saya hari ini, bahwa kita bisa menghindari hoax, post truth dan bersikap adil pada dua suara yang berseberangan, manakala kita tidak tabu untuk menyelami keduanya. 

Sikap adil hanya bisa kita lakukan saat kita tidak memihak secara frontal dan fanatik kepada salah satu. 
Jika bapak masih hidup, saya yakin beliau juga tidak akan anti-anti'an terhadap tv one atau metro tv, tapi menikmati menonton keduanya seperti saya lakukan hari ini hehe..

Saya belajar dari bapak yang dibesarkan di lingkungan pesantren Tebu Ireng, namun di kemudian hari saat tinggal di lingkungan Muhammadiyah, beliau mampu menjadi imam dan khotib sebuah masjid Muhammadiyah.

Saya tidak memandangnya sebagai sebuah 'kemurtadan' dalam manhaj, namun bagaimana memperlakukan agama sebagai tuntunan sosial dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga agama menjadikan manusia sebagai sebaik-baiknya makhluk yang bermanfaat bagi lingkungan tempat ia hidup di dunia.

Agama tidak sebaliknya mematikan fitrah manusia sebagai makhluk sosial. Jika demikian yang terjadi, bukan ajaran agamanya yang salah, bisa jadi manusia lah yang membuat tafsiran yang salah terhadap ajaran agama itu sendiri

Dan hanya kepada Allah kita memohon ampunan dan petunjuk, agar diberi pemahaman yang benar terhadap agama Allah yang mulia ini.

Bapak memang bukan sosok yang sempurna, tapi padanya saya belajar beragama tanpa hawa nafsu.
Jika bukan karena falsafah yang dijalaninya, saya mungkin akan terjebak 'kewaguan' seperti umat hari ini.

Misalnya, mereka yang membela Palestina yang diagresi militer Israel, dan muslim Xinjiang yang diopresi tentara Tiongkok, namun diam terhadap Yaman hanya karena yang mengagresi adalah Arab Saudi.
Mereka yang membela FPI karena disebut sebagai pejuang kemanusiaan, namun diam saat brand fashion Rabbani mengolok-olok ibadah Qurban. 

Mereka yang membela tokoh agama tertentu, namun di saat lain mengolok-olok tokoh agama lainnya. Dst..dst..

Keadilan bersikap akan sulit dilakukan, saat diri berlaku dengan dituntun oleh hawa nafsu..
Salah satu pelajaran yang saya ambil dari bapak.

Bapak memang bukanlah sosok yang sempurna. Dan ketidaksempurnaannya mengingatkan saya pada sosok Ahok.

Mereka berdua adalah sosok-sosok yang tidak sempurna, namun tidak berarti ketidaksempurnaan menghalangi saya mendapatkan banyak pelajaran dari mereka berdua.

Menjadi adil memang bukanlah perkara mudah, seringkali konsekuensi yang harus diterima adalah tidak disukai oleh banyak orang.

***