Kalkulator Zen: Siapa Saya, Jika Saya Tidak Berpikir?

Bermukim di dalam keheningan dan ketidaktahuan yang agung. Di saat kematian, kita akan menemukan pembebasan yang sejati.

Sabtu, 16 Juli 2022 | 06:50 WIB
0
60
Kalkulator Zen: Siapa Saya, Jika Saya Tidak Berpikir?
Kalukalator Zen (Foto: rumahfilsafat.com)

Saya suka sekali berkendara di jalan-jalan di Bali. Keindahan arsitektur khas Bali, dibarengi wangi dupa dari ritual agama mereka, memang tiada tara. Namun, selalu ada satu hal yang menganggu saya. Orang Bali sangat suka berkendara dengan kecepatan tinggi.

Kerap kali, mereka memotong jalan saya dengan tiba-tiba. Entah apa yang ada di pikiran si pengendara. Mungkin, mereka terburu-buru untuk menghadiri satu acara tertentu. Atau mereka ingin segera mencari kamar mandi, guna melepas hasrat.

Ini bukan satu kali terjadi. Saya mengalaminya setiap kali saya berkendara di Bali. Gas kendaraan ditarik atau ditekan sampai ke dalam, lalu memotong jalan orang dengan sangat tajam. Yang jelas, ini membahayakan banyak orang.

Mungkin, orang Bali yakin, bahwa para dewa akan melindungi mereka. Anggapan ini salah. Para Dewa tak bisa dibuat sibuk oleh hal-hal yang kita sendiri bisa lakukan. Manusia memiliki akal dan rasa untuk melestarikan hidupnya sendiri.

Tak jarang, emosi saya terpancing. Kemarahan muncul. Orang Jakarta pun tak berkendara seliar ini. Padahal, kota Jakarta itu seperti neraka yang salah tata.

Pikiran pun juga bingung. Mengapa pulau yang begitu indah dan kaya seni memiliki warga yang begitu terburu-buru? Ada ironi disini. Keindahan seperti membalut emosi ganas yang terpendam.

Kalkulator Zen

Ketika emosi naik, saya teringat latihan Zen saya. Kembali ke sebelum pikiran, dimana ada batin yang jernih. Dengan kejernihan, berbagai pertimbangan bisa dibuat, dan berbagai keputusan bisa diambil. Dasarnya adalah ketenangan batin, bukan emosi membara yang merusak.

Ini seperti kalkulator. Ada satu tombol untuk mengembalikan kalkulator ke posisi awal, yakni tombol C untuk kembali ke 0. Apapun proses perhitungan yang dilakukan, walaupun itu amat rumit, kalkulator selalu bisa kembali ke posisi awal dengan cepat. Inilah kekuatan Zen bagi diri manusia, yakni membawa manusia ke keadaan alaminya, apapun emosi dan pikiran yang mencekam dirinya.

Keadaan alami manusia terletak sebelum pikiran. Di dalamnya, tak ada konsep dan bahasa. Yang ada hanya kehidupan, atau kesadaran, murni. Kesadaran murni berarti kesadaran kosong, tanpa konsep, namun sepenuhnya hidup.

Kita hanya perlu terus bermukim di dalam kesadaran. Konsep, pikiran dan bahasa digunakan seperlunya. Caranya adalah dengan bertanya secara intensif kepada diri kita sendiri, “Siapa saya, jika saya tidak berpikir?” Akan muncul kebuntuan di dalam aliran pikiran, dimana kita berjumpa dengan diri sejati (true self) kita.

Pengetahuan Tertinggi

Siapa saya, jika saya tidak berpikir? Jawaban paling jujur adalah: hening dan tidak tahu. Setiap kata dan konsep menjadi salah, karena itu adalah proses berpikir. Cobalah untuk nyaman di dalam keheningan dan ketidaktahuan. Biarkan keduanya mengubahmu dari dalam.

Ini perlu terus dilatih. Kita perlu terbiasa dan nyaman dengan diri asali kita. Artinya, kita perlu terbiasa dengan kesadaran, keheningan dan ketidaktahuan. Siapa saya, jika saya tidak berpikir? Tidak tahu…..

Ketidaktahuan ini adalah keterbukaan total pada kehidupan. Tidak ada bahasa, konsep dan pikiran yang menganggu. Tidak ada penderitaan, dan tidak ada kebahagiaan. Ketidaktahuan ini adalah pengetahuan yang tertinggi.

Dengan pola ini, kita bisa keluar dari emosi yang menyiksa. Kita bisa keluar dari kemarahan, kebencian, kesedihan dan kebingungan yang kerap terjadi. Justru, semakin kuat tantangan yang muncul, sehingga memicu emosi dan pikiran yang tajam, semakin bagus untuk kita. Semua bisa menjadi saat untuk berjumpa dengan diri kita yang asli.

Kematian

Pada waktunya, kematian akan menjemput. Fungsi-fungsi organ tubuh akan melemah, lalu hilang sama sekali. Di saat kematian, batin akan menciptakan beragam gambaran yang kerap menakutkan, sejalan dengan kebiasaan dari batin kita semasa hidup. Itu semua hanya ciptaan batin kita semata, tak lebih.

Yang perlu kita lakukan hanyalah kembali ke sebelum pikiran. Siapa saya, jika saya tidak berpikir? Bermukim di dalam keheningan dan ketidaktahuan yang agung. Di saat kematian, kita akan menemukan pembebasan yang sejati.

Berkendara di Bali, dengan demikian, tidak hanya indah, tetapi juga bisa menjadi saat yang sangat baik untuk melatih batin. Sampai waktunya tiba, ketika saya kembali ke Jakarta: neraka yang salah tata, namun pemimpinnya bermimpi menjadi kepala negara. Saatnya menekan tombol C di dalam kalkulator Zen…

***