Inspirasi Jumat, Meneladani Rasulullah

Dengan menunjukkan perilaku yang baik sebagai ittiba pada Rasulullah, maka pesan agama Islam akan menjadi rahmatan lil alamin akan tersampaikan dengan baik kepada seluruh alam.

Jumat, 8 November 2019 | 06:57 WIB
0
22
Inspirasi Jumat, Meneladani Rasulullah
Ilustrasi sahabat nabi (Foto: celebesmedia.id)

Jumat ini bertepatan dengan tanggal 11 Rabiul Awal. Berarti, besok adalah 12 Rabiul Awal, hari kelahiran Nabi Muhammad. Kalau di kalender, itu artinya adalah tanggal merah dengan keterangan "Maulid Nabi" alias SESOK PREI.

Yang sering diributkan adalah tentang cara memaknai Maulid ini. Ribut 'maulidan vs maulidan itu bidah' selalu saja muncul, dan bisa merembet ke ucapan selamat merayakan maulid, bahkan sampai debat soal perayaan ulang tahun. Semua beradu dalil dan logika.

Soal ini, Pak Guru Doel Kamdi memilih tidak ikutan ribut. Tidak maulidan ya alhamdulillah bisa istirahat karena prei, diundang maulidan ya alhamdulillah dapat makan gratis. Sama-sama enak. Tidak perlu diperdebatkan sampai berantem.

Bagi Pak Guru Doel Kamdi, lebih penting dari sekadar mengadakan maulidan atau tidak adalah bagaimana kita memaknai lahirnya Rasulullah di dunia ini. Bagaimana kita memaknai kehadiran beliau sebagai utusan Allah, yang membawa ajaran Islam bagi kita semua. Bagaimana kita menjadi legacy dari Rasulullah. Dengan kata lain, yang penting dari hari Maulid ini adalah bagaimana kita berittiba, meneladani beliau.

Masalahnya, meneladani/ittiba pada Gusti Kanjeng Rasul juga sering disalahartikan hanya dalam penampilan fisik. Kebanyakan dari kita menganggap berdandan dengan pakaian Arab seperti jubah dan surban itu sebagai bentuk ittiba. Padahal itu bukan sunnah.

Rasulullah mengenakan pakaian itu karena beliau adalah orang Arab. Abu Jahal juga pakaiannya sama kok. Harus dipikirkan kembali, sebenarnya mau ittiba Rasulullah, atau ittiba Abu Jahal? 

Sebenarnya ittiba Rasulullah itu adalah pada perilaku beliau. Perilaku beliau-lah yang menjadi pembeda antara beliau dan Abu Jahal. Perilaku beliau adalah sebaik-baik contoh, uswatun hasanah. Apalagi selain untuk menjadi rahmatan lil alamin, tujuan Allah mengutus Nabi Muhammad adalah untuk memperbaiki akhlak. Jelas sekali bahwa ber-ittiba pada Rasul itu yang paling penting adalah pada perilaku, pada akhlak beliau.

Pernah dengar bagaimana beliau memaafkan penduduk Thaif yang sudah melempari batu saat beliau berdakwah? Pernah dengar bagaimana beliau dilempari kotoran unta oleh Abu Jahal, namun ketika Abu Jahal sakit beliau tetap menjenguk? Pernah dengar bagaimana beliau mempersaudarakan orang Mekah dan Madinah? Tentu masih ada banyak sekali riwayat-riwayat perilaku beliau yang baik. Meneladani kebaikan tersebut adalah bentuk ittiba pada Rasulullah.

Dengan menunjukkan perilaku yang baik sebagai ittiba pada Rasulullah, maka pesan agama Islam akan menjadi rahmatan lil alamin akan tersampaikan dengan baik kepada seluruh alam. Ini 'ultimate goal' diutusnya Rasulullah. Maka, berusaha mewujudkan 'ultimate goal' ini dengan meneladani akhlak mulia Rasulullah adalah hal yang penting dalam memperingati hari kelahiran beliau.

Dari tepian desa, 8 November 2019

Pak Guru Doel Kamdi, Guru Tanpa Sertipikat

***