Klepon dan Pertumbuhan Ekonomi

Terbukti pada tahun 1998 ketika Indonesia dilanda krisis, di mana ekonomi tumbuh -13,2%. Dengan UMKM sebagai motor ekonomi, pada tahun 1999 pertumbuhan sudah kembali positif (0,79%).

Jumat, 24 Juli 2020 | 07:21 WIB
0
51
Klepon dan Pertumbuhan Ekonomi
Klepon (Foto: pikiran-rakyat.com)

Merebaknya Covid-19 sejak awal tahun 2020 telah menekan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia, dari kisaran 5% menjadi 2,97% pada kuartal I 2020 dan -4,3% pada kuartal II. Karena Covid-19, banyak kegiatan ekonomi yang berkurang kapasitas dan durasinya, bahkan tidak sedikit yang terhenti sama sekali, tidak menghasilkan pendapatan.

Dibandingkan dengan negara-negara lain, dampak Covid-19 terhadap ekonomi Indonesia masih mending. Kuartal II 2020 Singapura -41,2%, Thailand -18,5%, dan Malaysia -7,5%. Itu disebabkan kontribusi ekspor-impor, pariwisata, terhadap PDB belum signifikan.

Tapi kondisi ekonomi saat ini sudah lampu kuning. Harus direspon dengan cepat dan tepat. Seperti diingatkan oleh Menteri Keuangan -Sri Mulyani Indrawati, jika dalam dua kuartal berturut-turut pertumbuhannya negatif, maka Indonesia sudah masuk resesi.

Sebenarnya, jika APBN dan stimulus tambahan bisa terealisasi dengan baik, besar kemungkinan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II masih pada wilayah positif. Untuk memacu pertumbuhan ekonomi di kuartal III dan IV 2020, sekaligus sebagai jaring pengaman sosial bagi masyarakat lapis bawah, Pemerintah menambah stimulus untuk penanganan Covid-19 dan dampak ekonominya. Awalnya mengalokasikan Rp405 triliun, sudah dinaikkan menjadi Rp695 triliun, dan dinaikkan lagi menjadi Rp905 triliun.

Seharusnya, jumlah anggaran itu sudah cukup menstimulus ekonomi yang melambat karena Covid-19. Karena, 60% pertumbuhan ekonomi Indonesia berasal dari sektor konsumsi. Sementara sektor produksi, dengan berbagai insentif, bisa memanfaatkan pasar domestik.

Sederhananya begini. Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun 2019 Rp15 834 triliun (naik 5,1% dari tahun 2018). Jika dirata-ratakan per kuartal, sebesar Rp3.958,5 triliun. Lalu, dari stilumulus sebesar Rp905 triliun itu, sudah tersalurkan 20%, sisanya Rp724 triliun untuk kuartal III dan IV, masing-masing Rp362 triliun.

Nah, jika dana bansos sebesar Rp724 triliun itu (Rp2,7 juta/keluarga) digunakan untuk usaha, akan lebih baik. Usahanya apa saja, yang penting menghasilkan nilai tambah. Mengolah bahan-bahan makanan yang selama ini sudah tersedia menjadi laku dijual. Misalnya membuat dan menjual makanan-makanan tradisional, termasuk klepon. Selain itu masih banyak usaha lain untuk ‘memutar’ uang sebesar Rp2,7 juta itu.

Jika tidak dipakai usaha, dana bansos itu hanya menjadi variabel konsumsi. Hal yang penting diketahui oleh masyarakat, jangan sampai dana bansos itu dipakai untuk membeli produk atau komoditas impor, termasuk kurma. Terlebih hanya untuk dikonsumsi sendiri. Tapi sebisa mungkin, gunakan komoditas dan produk yang dihasilkan di dalam negeri.

Jadi, bangsatlah itu orang yang menganjurkan untuk meninggalkan penganan tradisional Indonesia.

Lalu, pada akhir September 2020 nanti dihitung, dengan modal sebesar Rp2,7 juta untuk usaha kuliner atau apa saja, menjadi berapa Rupiah? Asumsikan 50% dari Rp362 dana bansos untuk kuartal III 2020 dipakai usaha.

Jika selama tiga bulan dana bansos sebesar Rp2,7 juta yang dipake modal usaha itu sudah menjadi Rp5,4 juta, berarti total dana bansos untuk kuartal III (Rp362 triliun) sudah menjadi Rp543 triliun (naik 50%). Apabila usaha itu berlanjut hingga akhir tahun, maka dana bansos kuartal III dan IV 2020 (Rp724 triliun) nilainya bisa berlipat menjadi Rp1.448 triliun (naik 100%).

Tentu usaha mikro yang memanfaatkan pasar dalam negeri itu juga bisa dilakukan oleh masyarakat yang bukan penerima bansos. Maka konstribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional menjadi lebih besar lagi. Ingat, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki ketahanan ekonomi yang sangat tangguh.

Terbukti pada tahun 1998 ketika Indonesia dilanda krisis, di mana ekonomi tumbuh -13,2%. Dengan UMKM sebagai motor ekonomi, pada tahun 1999 pertumbuhan sudah kembali positif (0,79%).
Sekarang pun, jika penyaluran stimulus lancar, sektor UMKM tumbuh, realisasi APBN lancar, sudah menjadi modal yang besar untuk bisa tumbuh positif hingga akhir tahun 2020. Tinggal bagaimana komitmen dan usaha di birokrasi tingkat pelaksana (Pemprov, Pemkab, Pemkot).

Jika tiga sektor itu bisa dilaksanakan dengan baik, sudah benjadi buffer bagi sektor produksi (industri) dan jasa untuk bisa tumbuh positif, dengan mempertahankan pasar ekspor dan mengoptimalkan pasar domestik. Rasanya, tidak mustahil Indonesia bisa terhindar dari resesi ekonomi. Pasti bisa.

***