Prabowo Menyia-nyiakan AHY, SBY Membalas dengan Politik Dua Kaki

Rabu, 12 September 2018 | 01:03 WIB
0
32
Prabowo Menyia-nyiakan AHY, SBY Membalas dengan Politik Dua Kaki

Prabowo Subianto bersama partai koalisinya menyia-nyiakan kesempatan berharga dengan tidak menunjuk Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai ketua tim kampanye nasional. Padahal, sosok AHY-lah yang mampu mengimbangi Erick Thohir sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

Erick Thohir hanya bisa diimbangi oleh AHY dari sisi usia maupun tampilan fisik dalam menggaet kaum milenial. Kalau Prabowo-Sandiaga menunjuk tokoh tua seperti Djoko Santoso sebagai ketua timses, sama saja dengan memilih kartu mati, sebab ini akan menjadi pertarungan antargenerasi, yaitu generasi tua melawan generasi muda.

AHY sangat pas dipasang sebagai Ketua Timses Prabowo-Sandiaga karena bisa head to head dengan Erick Thohir yang telah dijadikan sebagai Ketua Timses Jokowi-Ma'ruf, bukan malah merendahkan atau mengerdilkan AHY dengan menjadikannya sekadar anggota pembina tim sukses.

Prabowo terkesan mau mengambil semuanya untuk Gerindra, mulai dari calon presiden, calon wakil presiden sampai ketua tim sukses. Padahal harus diingat, koalisi memerlukan kebersamaan. Cara berpolitik Prabowo ini justru melemahkan semangat kebersamaan di tubuh koalisi.

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) merespons perlakuan Prabowo terhadap AHY yang hanya dianggap sebelah mata dengan melancarkan "politik dua kaki". Di satu sisi Partai Demokrat berada di koalisi Prabowo, tetapi di sisi lain SBY membiarkan para gubernur yang berasal dari Demokrat mendukung Jokowi-Ma'ruf serta membebaskan kader Demokrat menentukan pilihannya.

Seharusnya Prabowo merespon politik dua kaki SBY ini dengan menjadikan AHY sebagai ketua tim pemenangan, tetapi sayangnya hal itu tidak dilakukannya.

Sikap "memberontak" terhadap Prabowo yang ditunjukkan Demokrat sementara PAN dan PKS hanya membungkam semakin menunjukkan bahwa dugaan pemberian mahar politik yang dilakukan Sandiaga Uno terhadap dua partai itu benar adanya.

Ketidakhadiran Demokrat saat rapat pembentukan Timses Prabowo-Sandiaga menunjukkan "kesengajaan" yang dirancang SBY sendiri.

Dari kacamata politik, itu harus dibaca sebagai pembalasan SBY terhadap Prabowo yang tidak menunjuk AHY sebagai sebagai cawapres dan kini sebagai ketua tim pemenangan.

Tidak ada arti lain.

***