Mengapa Harus Ustadz Abdul Somad?

Rabu, 8 Agustus 2018 | 14:35 WIB
0
276
Mengapa Harus Ustadz Abdul Somad?

Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto kini dihadapkan pada pilihan sulit dan rumit. Pasalnya, partai koalisi Gerindra, PAN dan PKS mensyaratkan, pilihan cawapresnya harus berdasarkan Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional pada 29 Juli 2018 di Jakarta.

Dalam Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional di Hotel Peninsula itu, Salim Segaf Aljufri dan Ustadz Abdul Somad alias UAS disodorkan sebagai dua tokoh yang “wajib” dipilih salah satu diantaranya oleh Prabowo untuk mendampinginya sebagai cawapres.

PAN menyatakan tokoh yang mereka endorse, UAS menolak menjadi cawapres Prabowo, PAN pun mencari alternatif tokoh baru. “Ustadz Somad mengatakan tadi beliau menolak dicalonkan sebagai cawapres. Karena itu, kita mencari alternatif,” ujar Eddy Soeparno.

Menurut Sekjen DPP PAN itu, tokoh alternatif yang tengah dicari PAN menjelang penutupan pendaftaran Pilpres 2019 itu disebut yang bisa diterima seluruh partai koalisi. “Saat ini semua kembali ke titik nol,” lanjut Eddy, Selasa (7/8/2018).

Hal itu disampaikan Eddy di kediaman Ketua Umum DPP PAN Zulkifli Hasan, di Widya Chandra, Jakarta Selatan. “Jadi kita kembali memakai konsep meja kosong. Semua berhak menyatakan pendapat, tapi semua bersepakat tidak pasang harga mati dari awal,” tuturnya.

Melansir Detik.com, Rabu (8/8/2018), dengan mencari tokoh alternatif yang bisa diterima semua pihak, PAN berharap tidak ada parpol koalisi yang merasa ditinggalkan. Usul yang diajukan PAN adalah tokoh di luar partai.

“Ya, idealnya kalau sudah begini, daripada ada satu parpol yang merasa diutamakan, yang lain merasa ditinggalkan, lebih baik kita cari konsensus dulu siapa yang mau kita ajukan. Kalau konsensus itu berbasis orang yang berasal bukan dari parpol, ya lebih baik itu karena lebih gampang diterima,” tutur Eddy.

“Karena pada saat kita melakukan pembicaraan awal, UAS merupakan figur yang diterima, Anies juga figur yang diterima karena tidak mewakili parpol mana pun. Jadi, pembicaraan seperti ini masih terus kita jalin. Dan kita masih punya 2x24 jam untuk itu,” sambungnya.

Meski menyebut nama Anies Baswedan, Eddy tak mengatakan Gubernur DKI Jakarta itu yang akan diajukan sebagai tokoh alternatif. Nama Anies diajukan jauh hari, tapi tidak ada pembicaraan lanjutan untuk saat ini.

Nggak, nggak, nggak. Itu sebelumnya sempat ada pembicaraan seperti itu. Jadi, pada saat kita sempat membahas nama Anies Baswedan, tidak ada penolakan dari parpol-parpol karena tidak mewakili salah satu parpol,” ucap Eddy.

PAN pun, disebutnya, sudah memiliki alternatif lain. Hanya, ia tak mau membocorkannya. “Ada pokoknya, sudah ada di sini, di kantong, tapi jangan diintip. Insya’ Allah satu nama, insya’ Allah. Pokoknya cakep saja namanya,” tutupnya.

Dari sini jelas sekali, PAN sepertinya tidak sepakat jika Prabowo memilih Salim Segaf Aljufri, Ketua Majelis Syuro PKS, selain UAS yang sudah menyatakan “menolak” menjadi cawapres Prabowo pada Pilpres 2019 mendatang.

Mengutip Kompas.com, Selasa (7/8/2018), UAS beralasan hendak fokus di bidang pendidikan dan dakwah. Hal itu disampaikan UAS di akun resmi Instagramnya, @ustadzabdulsomad, Senin (30/7/2018).

“Setelah Sayyidina Umar bin Khattab wafat, sebagian Sahabat ingin membaiat Abdullah (anak Sayyidina Umar) sebagai pengganti. Beliau menolak lembut, karena bidang pengabdian ada banyak pintu. Fokus di pendidikan dan dakwah,” katanya.

UAS pun menyarankan agar Prabowo berpasangan dengan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Aljufri yang namanya juga direkomendasikan dalam Ijtima Ulama sebagai cawapres pendamping Prabowo.

Menurutnya, pasangan Prabowo-Salim merupakan perpaduan yang tepat. Sebab, keduanya mewakili pemilih Jawa dan luar Jawa serta mewakili kalangan nasionalis dan religius. Tapi, saran UAS ini tampaknya bakal sulit direalisasi.

Terutama oleh PAN yang justru mengusulkan agar Ketua Umum DPP PAN Zulkifli Hasan dipilih sebagai cawapres pendamping Prabowo. Makanya, PAN condong mencari tokoh lain kalau UAS memang menolak menjadi cawapresnya Prabowo.

Pada Senin (6/8/2018) malam, Prabowo mengadakan pertemuan dengan sejumlah ulama dan tokoh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama. Wakil Sekjen DPP Partai Gerindra Andre Rosiade mengungkapkan isi pertemuan tersebut.

Menurut Andre, sejumlah ulama dan tokoh GNPF mendorong agar Prabowo memilih UAS sebagai calon wakil presiden (cawapres). Tak hanya itu, seperti dikutip Kompas.com, Selasa (7/8/2018), Prabowo juga diberi informasi lain.

“Menurut info yang kami dapatkan, ulama menyampaikan bahwa Ustadz Abdul Somad sudah bersedia maju menjadi cawapres Pak Prabowo,” ujarnya di Hotel Ibis Budget, Jakarta, Selasa (7/8/2018).

Andre mengatakan, Prabowo mendengarkan informasi dan aspirasi ulama serta tokoh GNPF tersebut dan akan segera mengkomunikasikannya ke pimpinan partai koalisi. Prabowo mulai melakukan komunikasi atas informasi dan aspirasi para ulama dan tokoh GNPF ini kepada pimpinan partai politik koalisinya, yakni Demokrat, PAN, dan PKS.

“Hari ini komunikasi itu dimulai, kita lihat responnya seperti apa. Insya’ Allah 1-2 hari ini akan ada keputusan,” kata Andre. Meski begitu, Andre tak menjamin Prabowo akan memilih UAS sebagai cawapres.

Sebab, keputusan cawapres ditentukan atas kesepakatan pimpinan partai koalisi. Hingga kini pun, tuturnya, Prabowo belum pernah bertemu dengan UAS. Keinginan itu ada namun selalu terbentur jadwal dakwah UAS yang padat.

Harus Somad?

Setidaknya ada 10 alasan mengapa ulama dan tokoh nasional menyodorkan UAS agar dipilih Prabowo. Ustadz Muhammad Ali memberikan catatannya.

Pertama, UAS diterima semua umat, baik non Muslim, apalagi Muslim. Kedua, ini akan lebih meminimalisir resiko untuk mendampingi Prabowo dari sudut pandang kepentingan partai pengusung daripada mencalonkan pilihan partai sendiri.

“Pilihan atas UAS ini justru bisa mempersatukan mereka,” ungkap ustadz alumni Universitas Gajah Mada (UGM) dan

jebolan IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta itu, kepada Pepnews.com, Rabu (8/8/2018).

Ketiga, pasangan ini merupakan representasi dari nasionalis-religius, mengimbangi Prabowo yang abangan, nasionalis, dan/atau kebangsaan. Keempat, ini yang paling murah ongkosnya karena sudah terkerek dengan reputasi UAS yang mendunia.

Kelima, sebagian dari seluruh syarat pemimpin ada pada diri UAS mulai ketegasan, adil, dan sifat nubuwwah. Siddiq, amanah, tablig, dan fathonah ada pada diri UAS. “Jadi, tidak benar kalau beliau tidak capable. Beliau sangat capable untuk hal ini,” ujarnya.

“Ini yang sangat dinanti dan dirindukan umat dan bangsa Indonesia,” lanjut Ustadz yang juga pengusaha kuliner ini. Keenam, UAS juga mempresentasikan geografi luar Jawa serta kental dengan nuansa melayu.

UAS diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. “Kalau toh ada yang menolak atau persekusi terhadap beliau dulu itu hanya mereka yang belum tahu UAS sekarang,” ujarnya.

Ketujuh, UAS mampu merangkul segenap organisasi ke-Islam-an, NU dan Muhammadiyah sebagai organisasi terbesar atau bahkan Salafi dan Wahabi. “Umat Islam yang mayoritas ini mendukung beliau,” tegas Ustadz Muhammad Ali.

Kedelapan, UAS masih sangat muda, mampu mendulang dan mengajak yang muda untuk bangkit dan semangat menjadikan generasi yang mandiri dan tonggak menyongsong generasi emas Indonesia kedepan.

Kesembilan, momentum yang terbaik menjadi pemimpin umat, serta ladang dakwah Islam yang sangat ampuh, karena didukung Ijtima Ulama, ibu-ibu rumah tangga, menjadi viral dan tokoh alternatif pemersatu bangsa ini. Karena bisa diterima di semua kalangan.

Kesepuluh, umat merindukan kepemimpinan era Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin yang ulama juga umaro. ”Tak ada waktu itu dikotomi, melebur menjadi satu ya ulama ya umaro. Insya’Allah, ini ada pada diri UAS,” lanjutnya.

Dus, akankah Prabowo memilih UAS? Atau mungkin tokoh lain di luar partai koalisi seperti mantan Panglima TNI Jenderal Purn. Gatot Nurmantyo? Atau, malah justru Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), putra Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang akan dipilihnya?

Keputusan ada di tangan Prabowo! Karena, hampir semua pimpinan partai koalisinya selalu menyatakan demikian.

***