Kasihan Presiden, Rembuk Nasional Aktivis 98 Jadi Bahan Ledekan

Rabu, 11 Juli 2018 | 06:46 WIB
0
27
Kasihan Presiden, Rembuk Nasional Aktivis 98 Jadi Bahan Ledekan

“Berita yang masuk ke saya, event kemarin itu telah dijual ke Jokowi oleh Adian Napitupulu (anggota DPR dari PDI-Perjuangan) dan Faizal Assegaf (mantan aktivis 212) dengan harga 10 miliar,” demikian pesan yang beredar di grup WhatsApp (WA).

“Jumlah peserta yang hadir ditarget sekitar 50.000 orang, dan sudah dikasih DP 50%,” tulis pesan itu lagi, “akhirnya dicarikan gelandangan sekitar Jakarta untuk memenuhi target.” Itu karena jumlah yang hadir ternyata jauh memenuhi target.

“Subhanallah. Katanya negara banyak hutang, tapi acara Rembuk Nasional, menghabiskan anggaran Rp 10 miliar,” lanjut pesan yang beredar di grup WA sebuah komunitas tadi. Kaus OSO Group dan #2019TetapJokowi pun muncul di Rembuk Nasional Aktivis '98 itu.

Peserta Rembuk Nasional Aktivis '98 itu berdatangan memadati kawasan Jiexpo, Kemayoran, Jakarta Pusat. Dari pagi hingga siang itu terpantau ribuan peserta yang terdiri dari orangtua hingga anak-anak meramaikan acara tersebut.

Pantauan berbagai media di lokasi, sejumlah peserta terlihat kompak memakai kaus yang bertemakan melawan Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme. Namun, ada juga beberapa peserta memakai kaus berwarna kuning mirip corak warna parpol, yakni Partai Hanura.

Di kaus itu tercantum tulisan OSO Group di bagian belakang. Oesman Sapta Odang adalah Ketum Hanura, partai pendukung pemerintah. Tak hanya itu, ada juga kaus yang dipajang dalam beberapa mobil dengan tulisan #2019TetapJokowi.

Ketua Panitia Sayed Junaidi sendiri membantah acaranya tersebut bermotif dukungan politik kepada salah satu calon. Ia berdalih acara tersebut merupakan gerakan semangat melawan radikalisme, terorisme dan Intoleransi.

Menurut Sayed, hasil dari rembuk para aktivis ini nantinya melahirkan sebuah rekomendasi yang akan diserahkan kepada pemerintah.

“Sistemnya adalah nanti tiap perwakilan daerah sebanyak sepuluh daerah dengan perwakilan kampus di Jakarta akan berembuk untuk membuat rekemondasi aktivis '98. Pesertanya sudah disiapkan tempat di lantai enam,” ujar Sayed di Jiexpo, Kemayoran, Sabtu (7/7/2018).

Salah satu rekomendasi yang nantinya akan diberikan adalah soal dijadikannya 7 Juli sebagai hari Bhineka Tunggal Ika. “Poin rekomendasi yang bisa kita sebutkan usulan SC (Steering Committe) kita akan meminta Presiden Indonesia tanggal 7 Juli ini sebagai hari Bhineka Tunggal Ika,” pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi telah dijadwalkan menghadiri penutupan puncak rembuk pada sore hari. Di VIP Room Jiexpo terlihat beberapa politisi yang hadir, seperti Staf Ahli Kantor Sekretariat Kepresidenan Ali Mochtar Ngabalin, politikus PDIP Adian Napitupulu, beberapa politisi Hanura yakni OSO, Ongen Sangaji, dan Benny Ramdhani.

Melansir RMOL.com, Minggu (8/7/2018), Rembuk Nasional I Aktivis 98 yang diklaim telah dihadiri 50.000 aktivis, ternoda dengan temuan wartawan di lapangan. Sebagian peserta yang hadir mengaku datang karena dibayar untuk meramaikan acara.

Bahkan mereka tak mengetahui tujuan dari rembuk nasional yang bertemakan perlawanan terhadap radikalisme, terorisme, dan intoleransi ini. Ketika diwawancara sejumlah wartawan, salah seorang pria berusia lanjut yang mengaku datang dari Bandung, mengaku menerima Rp 100.000 untuk sekadar hadir.

Dia juga dijanjikan untuk bertemu langsung dengan Presiden Jokowi. Sayangnya ia tidak bisa menjelaskan siapa yang menjadi koordinator kedatangannya bersama peserta lain.

“Dari Bandung ke sini karena katanya ada Pak Jokowi, jadi saya ikut saja. Untuk transportasi dan makan ditanggung semua. Juga dikasih uang saku Rp 100.000,” ujarnya di lokasi acara, Jakarta Internasional Expo, Kemayoran, Jakarta, Sabtu (7/7/2018).

Setahunya, kedatangan dirinya bersama rombongan sudah diatur oleh para koordinator yang berasal dari parpol. “Yang ngajak dari orang partai gitu, ada koordinatornya yang ngajak buat ke Jakarta,” ungkapnya.

Ia pun tidak tahu akan ada deklarasi dukungan dari aktivis 98 kepada Presiden Jokowi untuk Pilpres 2019. “Tidak ada dibilang mau dukung begitu. Cuma dibilang ada acara di Jakarta, ada Jokowi,” imbuhnya.

“Saya bukan aktivis 98. Hanya diajak saja ke sini untuk ketemu Jokowi,” tegas pria itu lagi, seperti dikutip RMOL.com, Minggu (8/7/2018).

Nuansa politik acara Rembuk Nasional Aktivis 98 tersebut tampak sekali. Setidaknya hal ini terlihat dari kehadiran dari Forum Persatuan Umat Indonesia (FPUI) yang mengaku, mereka mendukung acara ini demi menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menurut Jubir FPUI Ahmad Fahrur, “Kami datang ke sini untuk menjaga NKRI dan menolak segala bentuk intoleransi, radikalisme dan terorisme,” katanya di area JIExpo. Tak hanya itu, kata Fahrur, pihaknya juga mendukung Presiden Jokowi untuk periode selanjutnya.

“Presiden Jokowi udah sangat baik menjaga dan memajukan republik kita tercinta ini, maka bagi kami, wajib hukumnya untuk Jokowi 2 Periode,” tegasnya. Dukungan itupun tampak tercantum dalam spanduknya dengan tagar #Jokowi2Periode.

Acara yang diketuai Sayed Junaidi Rizaldi ini terbilang sukses, sebab dihadiri oleh ratusan aktivis 98, seperti Faizal Assegaf dan politisi PDIP Adian Napitupulu. Bahkan Kepala Kantor Staf Kepresiden (KSP) Moeldoko dan Presiden Joko Widodo juga turut hadir.

Namun demikian, acara Rembuk Nasional Aktivisi 98 ini mendapat banyak cibiran di media sosial. Ini seiring beredarnya foto-foto lansia dan anak-anak yang juga hadir dalam acara itu dengan mengenak kaos yang disediakan panitia.

Warganet menduga para lansia dan anak-anak itu merupakan massa bayaran yang digunakan panitia untuk meramaikan acara. Warganet mencibir bahwa angkatan 98 ini nampak lebih tua dari usia yang seharusnya.

Bahkan tak jarang mereka mencibir, rembuk nasional ini bukan digelar aktivis 98, melainkan aktivis angkatan sebelumnya, seperti 65 atau bahkan zaman perjuangan kemerdekaan 1945. “Kalau ini mah bapaknya aktivis 98,” cibir pemilik akun @hudzaifahra.

“Ini para peserta rembuk nasional aktivis 98 yang siang tadi. Itu aktivis? itu 98 atau 65?” tanya akun @Umnia77 sembari mengunggah foto bapak tua mengenakan kaos bertuliskan ’20 Tahun Reformasi, 98 Rembuk Nasional I’.

Mengutip RMOL.com, Sabtu (7/7/2018), selain kehadiran para lansia di acara itu, warganet juga menyindir banyaknya peserta yang masih berusia remaja. Sama seperti para lansia yang hadir, para remaja ini juga mengenakan kaos yang sama.

“Foto reuni aktivis 98, sebagian ada yang terlalu cepat “tua" dan ada juga yang malah kembali “muda”. Ini fenomena yang sungguh “luar biasa" dan baru terjadi di rezim sekarang ini,” sindir warganet bernama Razan.

Adapun dalam acara Rembuk Nasional ini, aktivis 98 secara resmi menyatakan dukungan kepada petahana Jokowi di Pilpres 2019 mendatang. Dukungan itu bahkan termaktub dalam isi deklarasi Rembuk Nasional I Aktivis 98.

“Mendukung penuh Ir. Joko Widodo sebagai calon presiden periode 2019-2024,” ujar Ketua Penyelenggara Rembuk Nasional I Aktivis 98 Sayed Junaidi Rizaldi saat membacakan deklarasi tersebut.

Dalam deklarasi itu, disebutkan juga mengenai alasan aktivis 98 mendukung Jokowi. Salah satunya adalah keyakinan Jokowi mampu mewujudkan cita-cita reformasi. Selain itu, Jokowi dipilih sebagai capres lantaran tidak punya kejahatan ekonomi, politik, dan kemanusiaan.

Selain mendukung Jokowi di Pilpres 2018, Rembuk Nasional Aktivis 98 juga mengusulkan kepada pemerintah untuk menetapkan tanggal 7 Juli sebagai hari Bhinneka Tunggal Ika. Mereka juga menolak penggunaan isu SARA dalam praktik politik Indonesia.

Menurut Aktivis 98 Sukma Widyanti, “Kita semua menolak terorisme, tapi menyudutkan warga yang masih ingin berjuang untuk memperoleh keadilan dengan melabel radikal dan menyebar fitnah, bukanlah cara-cara aktivis sejati,” katanya.

Rembuk Nasional Aktivis 98 yang akhirnya ditutup oleh Presiden Jokowi tersebut jangan sampai mencemarkan nama baik Presiden lantaran sudah menjadi bahan ledekan di media sosial. Panitia dan Penggagas acara ini harus bertanggung jawab!

***