Jangan Dihujat, Tuan Guru Bajang Bukan Orang Jahat!

Jumat, 6 Juli 2018 | 08:34 WIB
0
133
Jangan Dihujat, Tuan Guru Bajang Bukan Orang Jahat!

Saya memahami suasana psikologis kawan-kawan khususnya pendukung Gerakan 2019 Ganti Presiden yang galau bahkan kecewa dengan berita dukungan Tuan Guru Bajang atau TGB untuk Pak Jokowi lanjut dua periode.

Seperti berulangkali saya sampaikan, saya adalah mantan team Relawan Nasional #TGB2019 yang memperjuangkan beliau berkiprah ke pentas Nasional.

Saya bersama Uda Iwan Piliang, Lae Wah Yudi, Bro Ardi, Romo Fransiskus Widodo dan kawan-kawan lain berulangkali menulis untuk memperkenalkan beliau kepada khalayak Negeri ini.

Jadi, sedikit banyak saya dan kawan-kawan mengenal beliau cukup akurat karena dari sumber-sumber orang terdekat, bahkan banyak di antara kawan-kawan di atas yang sering bersilaturrahmi dengan beliau secara langsung. Sampai sekarang pun dipertemanan saya ratusan semeton dari NTB termasuk orang dekat beliau.

Beliau memang sosok ulama santun dan penguasa berprestasi yang layak diberikan kepercayaan berkiprah dilevel Nasional.

Kalaupun ada kelemahan beliau, saya pikir semua manusia memiliki kekurangan. Tapi paling tidak kekurangan beliau bukan di kelemahan pola pikir yang sangat membahayakan karena akan rentan si Pemimpin cuma dijadikan wayang dan boneka mainan.

Untuk informasi saja, ciri-ciri orang yang lemah pola pikirnya adalah berbicara selalu terbata-bata karena orang yang ngomong tidak jelas itu ciri-ciri orang tidak cerdas.

Mau contoh? Misalnya ngomong: "Nganu-nganu... ai wont tu test mai hamsterrr...".

Sama seperti sekarang ke mana-mana saya selalu berusaha memprabowokan bumi Nusantara, dulu ke mana-mana saya juga berusaha memperkenalkan TGB untuk Indonesia. Sebagai marketing keliling Indonesia, sambil mengembangkan bisnis perusahaan mulai ujung Sumatera sampai pelosok Sulawesi masyarakat saya ajak mulai mengenal calon-calon pemimpin masa depan bangsa.

[irp posts="18127" name=" TGB Effect", Banyak yang Kecewa, Marah, dan Mendadak "Kram Otak""]

Waktu itu fokusnya kami di #TGB2019 sama, rezim ini kurang berprestasi jadi Indonesian perlu Pemimpin yang lebih berakselerasi. Kita perlu Presiden yang bisa mewujudkan Indonesia sejahtera dalam waktu singkat, bukan sekedar menjual mimpi dengan Kapsul Waktu di 70 tahun yang akan datang. Sisa usia kami tidak sanggup menunggu begitu lama.

Kami percaya Indonesia seharusnya bisa makmur sejahtera dalam waktu singkat, karena SDM dan SDA-nya melimpah. Lagipula mau sejahtera aja kok pakai nunggu lama-lama, Anak gadis orang aja dibiarkan lama-lama diambil orang, apalagi emas Papua?

Saya yakin lae Wah Yudi masih ingat, kami diam-diam di Group Whatsapp menyuarakan Prabowo-TGB walaupun resikonya diomelin Uda IP. Tapi kami menyuarakan ini berdasarkan suara akar rumput, khususnya dari kawan-kawan dari Indonesia Timur.

Sebagai seorang Ulama sekaligus mantan Penguasa (dua periode berturut-turut jadi Gubernur NTB), TGB juga ketua team pemenangan Prabowo di Pilpres 2014 lalu untuk NTB dan hasilnya 72.45 persen. Termasuk sangat tinggi.

Tapi memang diwilayah-wilayah yang muslimnya sangat religius seperti Sumatera Barat, Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat suara Pak Prabowo sangat mendominasi, sebaliknya di wilayah kantong-kantong minoritas muslim seperti Bali, NTT dan Papua dikuasai oleh Jokowi.

Saya tidak tahu apa penyebabnya, tapi polarisasi pendukung fanatik berdasarkan agama menurut saya menjadi salah satu sumber mulai maraknya saling curiga-mencurigai antara muslim dan non muslim di negeri ini. Tentu saja kemenangan Pak Jokowi membuat pihak yang merasa menang di atas angin dan isu intoleransi pun menerjang negeri di luar batas yang kita perkirakan.

[irp posts="18135" name="TGB Politisasi Adiluhung dan PKS yang Bikin Eneg""]

Kembali berubahnya arah dukungan TGB, bagi saya pribadi justru wajib disyukuri. Saya berharap dengan masuknya beliau ke Gerbong pendukung Jokowi Dua Periode, paling tidak polarisasi antara dua kutub ekstrim ini pelan-pelan mencair dan berubah menjadi persaingan politik sehat yang saling menyerang kebijakan dan kelemahan prestasi lawan yang pada akhirnya akan membuat kita mendapatkan Pemimpin terbaik demi kejayaan Indonesia kita. Tidak usah ditanya, karena jawaban saya jelas Prabowo Subianto.

Lagipula saya yakin, andai TGB diambil Pak Jokowi jadi Cawapresnya, tetap saja NTB akan jadi basis suara Prabowo walaupun tidak sebesar 2014 lalu.

Cuma Cak Imin akan kabur membawa suara 5 kali lipat menyeberang karena kecewa. Saya jadi bersyukur dua kali kalau TGB berbalik arah.

Terakhir sebagai penutup, Demi Allah saya meyakini sepengetahuan saya kalau TGB bukan orang jahat, jadi tolong jangan dihujat!

Kalaupun saya belum bisa memasukkan beliau ke barisan orang benar karena sampai sekarang saya belum mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang divestasi saham Newmont yang menyeret nama beliau selaku gubernur, kita tunggu kabar selanjutnya. Saya yakin beliau bersih dan hanya jadi korban permainan politik.

Satu lagi, hilangnya dokter Mawardi Hamry, mantan Direktur RSU Provinsi NTB sejak maret 2016 lalu adalah sebuah misteri. Saya tidak menuduh beliau terlibat, justru menurut saya adalah bagian dari permainan politik lanjutan untuk menyandera beliau.

Bukan rahasia umum lagi, persis di film-film opera sabun, saling sandera-menyandera dalam politik untuk barter tujuan dan kepentingan sudah menjadi permaianan kotor sejak negeri ini merdeka. Rakyat kita saja yang seringkali terlalu lugu menyikapinya, cuma bisa masuk got kok bisa dipercaya bikin Indonesia sejahtera!

Oalah...Nduk.

***