"Salawi", Semua Salah Jokowi

Minggu, 24 Juni 2018 | 05:38 WIB
0
317
"Salawi", Semua Salah Jokowi

Hari ini, tujuh hari setelah hari ulang tahun istri saya, Presiden Jokowi berulang tahun. Ia berulang tahun yang ke-57 pada 21 Juni 2018 ini. Jokowi tercatat sebagai presiden berusia paling muda setelah era reformasi yang terpilih secara demokratis dari hasil pemilu tahun 2014 lalu.

Tak ada yang menyangka Jokowi bakal jadi presiden. Tak ada yang mengira Si Tukang Kayu ini bisa jadi orang nomor satu di Indonesia. Karena ia cuma wong cilik yang ndeso, rakyat biasa yang lugu, bukan keturunan darah biru. Tapi, seperti kata Pendiri CSIS Harry Tjan Silalahi, "Jokowi terpilih atas kehendak alam. Tak ada seorang pun yang dapat menghalanginya."

Sejujurnya, dari segi prestasi mengelola pemerintahan, Jokowi memang tidak bisa dibandingkan secara "apple to apple" dengan saingannya saat itu.

Jokowi memulai semuanya dari nol, dari bawah, tanpa bantuan katrolan dari mertua. Ia tercatat sebagai pengusaha perabotan kayu yang sukses. Kesuksesan mengelola usaha bisnis furniture menjadi modal saat ia maju menjadi walikota. Ia pun terbukti sukses sebagai seorang walikota dengan banyak raihan prestasi.

Begitupun saat Jokowi terpilih sebagai gubernur yang memahami permasalahan ibukota dengan cara blusukan, terjun langsung ke lapangan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya - tak mau hanya terima laporan ABS dari stafnya.

Majalah TEMPO terkesan dengan sikap Jokowi yang "down to earth" dan "ready before time" saat diundang wawancara ke kantor majalah berita itu yang ingin mengulas walikota dan bupati berprestasi di Indonesia. Jokowi tak menunjukkan dirinya sebagai seorang pejabat dan datang sebelum waktu yang ditentukan, dua hal yang sangat sulit dimiliki sebagian besar pejabat kita.

Jokowi, memang, bukan tipe orang yang suka memperlihatkan sosoknya. Ia tipe seorang pekerja. Maka ketika diwarisi hutang yang sangat besar sekali dan banyak proyek-proyek mangkrak yang ditinggalkan presiden sebelumnya ia langsung bekerja.

Proyek-proyek yang tidak kelar selama sepuluh tahun bahkan lebih ia beresi satu per satu - kecuali "Candi Hambalang" yang memang sudah hancur berat dan dijadikan semacam "monumen tugu peringatan proyek bancakan korupsi" yang digarap kader-kader partai penguasa saat itu. Jokowi seperti "tukang cuci piring" Tuan Besar sebelumnya yang hobi pesta sembari nyanyi dan dansa-dansi.

Alhasil, pembangunan infrastruktur digeber habis-habisan. Dalam waktu belum sampai empat tahun seluruh Indonesia dibangun.

Sumatera dibangun. Kalimantan dibangun. Sulawesi dibangun. Nusa Tenggara dibangun. Maluku dibangun. Papua dibangun hingga seluruh kabupaten di sana saling terkoneksi. Karena Indonesia itu dari Sabang sampai Merauke, bukan cuma Pulau Jawa saja. Jokowi sadar pembangunan infrastruktur menjadi prasyarat utama untuk memutar roda ekonomi, terutama mobilitas distribusi barang dan orang.

[irp posts="17318" name="Otentisitas Jokowi"]

Proyek pembangunan infrastruktur "Indonesianisasi" ini - bukan "Jawanisasi" - dilakukan Jokowi secara terstruktur dan terukur yang menjadi ciri khas kerja "tukang insinyur". Semua pembangunan ada targetnya. Semua pembangunan ada "deadline", batas waktu kapan proyek pembangunan harus selesai. Sehingga tak ada lagi proyek-proyek pembangunan infrastruktur yang mangkrak dan tambahan anggaran belanja yang membengkak karena melebihi batas waktu pengerjaan.

Hasil kerja pembangunan infrastuktur ini terbukti nyata pada hajatan tahunan mudik tahun ini. Meski masih ada sedikit kekurangan, secara umum ritual mudik tahun ini dapat dikatakan yang terbaik sepanjang sejarah. Kemacetan terurai karena kini dua pulau yang menjadi urat nadi perekonomian nasional, Pulau Sumatera dan Pulau Jawa, sudah terkoneksi dengan jalan tol sepanjang ribuan kilometer. Mudik bersama keluarga pun terbilang mulus, lancar, dan relatif menghemat biaya transportasi karena satu mobil pribadi bisa membawa empat orang hingga tujuh orang.

Bukan cuma itu. Dari contoh kasus lebaran tahun ini Jokowi juga menunjukkan bahwa pemerintahannya adalah pelayan masyarakat yang tahu harus bagaimana melayani rakyat dan membahagiakan rakyatnya.

Jokowi tahu "how to treat people", bagaimana membuat rakyat merasa sebagai "tuan di rumahnya sendiri". Rakyat merasa sebagai raja walau cuma sehari. Bayangkan. Semua kebutuhan lebaran tercukupi dengan harga-harga yang terjangkau. Rakyat dikasih libur panjang untuk merayakan hari kemenangan berkumpul bersama orangtua dan sanak keluarga di desa. Rakyat merasa punya banyak duit dengan bonus THR dan gaji ketigabelas sehingga bisa berbagi angpao, jalan-jalan ke tempat rekreasi, dan berwisata kuliner selama pulang kampung.

Toh, meski sudah bekerja sebaiknya, masih saja ada yang tak mengapresiasi. Selalu mencari-cari kesalahan Jokowi. Mencari kesalahan yang sengaja dibuat-buat. Padahal orang-orang itu tak ada prestasinya sama sekali selain ngibul dan ndobol.

"Semua salah Jokowi" adalah cara paling mudah bagi orang-orang yang hobinya cuma bisa menuding. Karena orang-orang yang suka menebarkan ketakutan, aura negatif, dan pesimisme itu sangat tahu bahwa etos kerja-kerja-kerja Jokowi untuk membangun "Indonesia Hebat" - seperti yang dicita-citakan Bung Karno - memang sungguh tiada tanding dan tiada banding.

***