Ketika Media Menjadi Tukang Ghibah, Fitnah dan Adu Domba

Kamis, 14 Juni 2018 | 16:07 WIB
0
86
Ketika Media Menjadi Tukang Ghibah, Fitnah dan Adu Domba

Pembunuhan-pembunuhan itu asalnya kita tidak tahu kecuali orang-orang sekitar. Menjadi teror ketika disebarkan media menjadi berita. Apalagi pembunuhannya yang sadis, kejam dan korbannya bnyak.

Masyarakat jauh menjadi tahu, yang tadinya tenang menjadi tegang, yang tadinya teduh menjadi gaduh, yang tadinya diam menjadi ribut, yang tadinya damai menjadi bertengkar, yang tadinya akur menjadi konflik.

Yang tidak terpengaruh alias biasa-biasa (karena kejahatan sudah jadi pemandangan sehari-hari) dituduh tidak empati dan mati rasa kemanusiaannya, yang merasa kasian seolah jadi pahlawan dan menjadi manusia yang lebih baik dan beradab dari yang lainnya. Berita turut membentuk orang-orang bermental negatif.

Akankah sebuah titik peristiwa di padang pasir luasnya negeri menjadi heboh dan seakan mencekam bila media tidak menyebarkannya? Apalagi media itu bukan hanya menyuguhkan berita tapi membuat framing, menyelipkan misi dan opini. Siapa yang sesungguhnya menteror?

Secara grand teori, media adalah penyedia informasi tapi juga pembuat gaduh kehidupan. Bahasa "agama sederhana"-nya tukang ghibah karena segala cerita diberitakan. Padahal, cerita-cerita itu tidak semuanya maslahat diketahui umum.

Secara individual, tentu tidak semua apa yang kita lihat dan saksikan, maslahat diceritakan kepada semua orang. Ada orang perlu tahu, ada orang tidak perlu tahu. Ini dalam hal apapun.

Tapi masalahnya, di era modern, media sudah jadi industri, bahkan industri ghibah dan fitnah yang kehidupan kini sedikit banyaknya menjadi kacau.

Saya jadi ingat, almarhum kakek saya, seorang ajengan di kampung, dulu tidak merestui anak gadisnya disunting oleh yang pekerjaannya diantara tiga ini: polisi, hakim dan wartawan. Pikirannya sederhana: Polisi tukang bikin susah orang, hakim banyak yang tidak adil dan dzalim, wartawan tukang ghibah, tukang mengorek-ngorek dan memberitakan keburukan, kekurangan dan kesalahan orang. "Rizkinya tidak akan barokah," katanya.

Media sekarang bukan lagi "tukang ghibah dan fitnah" tapi juga "tukang adu domba."

Saya merenungi, jangan-jangan kakek saya adalah seorang penghayat kearifan lokal sejak dulu karena pendirianya sekarang banyak buktinya.

***