Ustadz Abdul Somad yang Terpanggang dari Dua Arah

Sabtu, 9 Juni 2018 | 22:24 WIB
0
1
Ustadz Abdul Somad yang Terpanggang dari Dua Arah

"Laksana kue bika", begitu Buya Hamka mencurahkan apa yang ia rasa, "Api membakar dari atas dan dari bawah."

Ketika itu, konteks curhatan Buya Hamka adalah nasib MUI yang ditekan oleh penguasa -hingga bagai terpanggang dari atas; dan dihujani keluhan umat Islam- hingga bak terpanggang dari bawah. Maju kena, mundur kena. Tapi memang sering begitu nasib orang yang bersikap moderat, atau dalam posisi di tengah. Ikut terkena “lemparan batu” dua kutub berlawanan yang sedang bertikai.

Mirip, meski ada bedanya, dengan nasib Ustadz Abdul Somad (UAS). Terpanggang dari dua arah. Depan dan belakang.

Kepada UAS, cela dan hujat ditebar oleh para pembela sepilis, penikmat kemaksiatan, bahkan non muslim. Itu dari depan. Sedang dari belakang, cibir dan nyinyir disebar oleh kelompok ekslusif yang merasa paling nyunnah yang mengerangkeng diri dengan pagar "tahdzir".

Bisa dimaklumi kalau UAS dimusuhi pembela sepilis dan kemaksiatan. Mereka mengeluhkan taushiyah da’i asal Riau ini tidak menyejukkan. Kita paham, yang dimaksud menyejukkan itu bila memaklumi penistaan agama, menghargai kemungkaran, dst. Terlebih alumni Darul Hadits tersebut mendukung ormas Islam seperti FPI, maka semakin menjadilah kebencian orang-orang yang berposisi berhadap-hadapan dari arah muka Ustadz Abdul Somad.

Tetapi menjadi merepotkan manakala orang yang harusnya berada satu shof bersama sang da’i untuk menghadapi kemungkaran sepilis, malah mencibir dari belakang. Ini tidak lain karena UAS punya pandangan fiqh berbeda dengan mereka, serta menganut paham aqidah yang tak sama di mana UAS mengikuti mazhab aqidah yang dipegang oleh mayoritas umat muslim di dunia dari dulu hingga sekarang (Asy’ariyah).

Lihatlah, bagaimana UAS dicela karena ia menyampaikan pendapat sebagian ulama yang menganggap jenggot itu hanya sunnah. Sindiran “jenggot tusuk sate” mereka lemparkan dari belakang. Bahkan ada netizen yang mengatakan Abdul Somad da’i penyeru kepada api neraka. Na’udzubillahi min dzalik.

Contoh kasus ketika UAS berlaku tegas kepada artis RN yang melepas jilbabnya serta mengkampanyekan hidup tanpa perlu agama, sang da’i mengamalkan sebuah perkataan yang dianggap maknanya shahih oleh para ulama: “bersikap sombong kepada orang sombong adalah sedekah.”

Hati yang bersih akan menerima alasan tersebut. Karena kesombongan apalagikah yang lebih besar daripada menyombongkan diri terhadap syariat Allah SWT? Layaklah bila dibalas dengan keangkuhan untuk menampar dan menyadarkan hatinya yang bebal.

Reaksi orang yang ada di seberang UAS bisa kita pahami. Mereka menuduh sang ustadz intoleran, tidak berakhlak Islam, dan sebagainya. Ya wajar, karena yang “akhlak Islami” menurut mereka adalah berlemah lembut kepada kemungkaran.

Tetapi serangan kepada UAS rupanya tidak hanya dari depan. Dari belakang pun ada yang memanfaatkan kisruh ini. Bukan si artis yang mereka kecam, malah ustadz yang menyampaikan kebenaran. Aji mumpung. Karena dari awal mereka punya kecemburuan terhadap ramainya jamaah Ustadz Abdul Somad. Mereka pun menabur garam di atas luka, menyiram minyak di atas api. Yang mereka cela adalah ketegasan da’i yang tak sepaham dengan mereka alih-alih si artis yang mengkampanyekan penentangan kepada syariat Islam.

Mereka yang memanggang UAS dari belakang memang punya kelakuan anomali. Kemarin ini ketika ada yang menghina syariat Islam lewat puisi, tampil ustadz dari kalangan mereka yang membela si penista. Ia percaya diri melawan arus sikap umat Islam di negeri ini.

Ketika tulisan ini dibuat, sedang ramai celaan mereka kepada Ustadz Abdul Somad yang menyayangkan seseorang yang resign dari bank konvensional tanpa persiapan pekerjaan pengganti. Ada penjelasan untuk reaksi UAS ini. Karena dari padangan maqoshid syariah, bertahan hidup adalah sebuah prioritas. Tentu wajib menghindari riba, tapi sediakan dulu pekerjaan “sekoci” yang halal sebelum terjun dari kapal besar yang nyaman namun berlumur dosa.

Dan ini adalah terusan dari pendapat seorang ulama, Syaikh Yusuf Qaradhawi. Intinya, jangan karena semangat, lantas membiarkan diri menganggur dan mengundang mudhorot yang lebih besar. Terutama bila iman dan rasa tawakkal rupanya tak cukup kuat. Bisa nekad terjerumus pada hal yang lebih buruk.

Dan pandangan UAS ini kemudian di cela oleh gerombolan yang ada di belakang. Dianggapnya UAS menghalalkan riba. Sebuah tuduhan yang sangat keji. Mereka tak mau memahami. Yang mereka cari hanyalah kesalahan untuk dieksploitasi. Sadarkah mereka bahwa dosa ghibah dan namimah jauh lebih besar daripada dosa riba?

Kalau kelompok orang yang ada di seberang Ustadz Abdul Somad, kita bisa baca dan hafal perangainya. Tapi orang yang ada di belakang ustadz, susah kita pahami perangai mereka. Sementara banyak muslim menganggap mereka masih saudara, merekanya sendiri menganggap muslim lain ahli bid’ah yang tak pantas duduk bersama.

Yang menjadi musuh bagi mereka adalah ustadz seperti Abdul Somad. Lalu Ustadz Adi Hidayat. Dan lain-lain yang tidak sepaham dengan mereka. Sementara para pendukung kebathilan bisa dimaafkan dengan kata kunci “udzur bil jahl”.

Mereka mengaku paling paham sunnah Rasulullah, sembari membid’ahkan amalan pihak yang tak "se-manhaj". Padahal berkebalikan dari perilaku mereka, Allah SWT mencirikan pengikut Muhammad SAW adalah “asyidda’u ‘alal kufar ruhama’u bainahum”.

Bersikap keras, tegas, kepada kufar dan ideologinya – seperti yang sudah dilakukan oleh Ustadz Abdul Somad; dan berkasih sayang kepada sesama muslim – yang luput mereka amalkan karena sibuk dengan aktivitas saling tahdzir dan memvonis muslim yang tak sepemahaman sebagai ahli bid’ah.

Ah, ustadz Abdul Somad… Insya Allah Anda hafal dengan hadits Rasulullah riwayat Ad-Dailami berikut: “Setiap mukmin dihadapkan pada lima ujian; mukmin yang menghasudnya, munafik yang membencinya, kafir yang memeranginya, nafsu yang menentangnya, dan setan yang selalu menyesatkannya.”

***

Zico Alviandri