Enak, Ya, #2019GantiPresiden

Jumat, 25 Mei 2018 | 23:34 WIB
0
46
Enak, Ya, #2019GantiPresiden

Kalau boleh memilih, enakan mana? #2014GantiPresiden atau #2019GantiPresiden? Sudah bisa dipastikan, enak yang #2019GantiPresiden. Sebab, setelah 2019 siapapun presidennya, tinggal tahu beres. Sudah rampung rencana-rencana mangkrak presiden-presiden sebelumnya.

Sebaliknya #2014GantiPresiden, siapapun presidennya ketiban repot. Karena presiden-presiden Indonesia sebelum 2014 ‘mewariskan’ rencana-rencana mangkrak yang harus diselesaikan oleh siapapun presiden RI berikutnya. Bahkan sebulan sebelum selesai masa jabatan 2014 pun, presiden dua periode Susilo Bambang Yudhoyono masih sempat mewariskan rencana, memastikan Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018.

Maka presiden baru 2014 kudu lintang-pukang membangun sarana dan prasarana untuk penyelenggaraan pesta olahraga Asia lima tahunan, yang pengajuan calon tuan rumahnya sudah dilakukan sejak akhir pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono, melalu Menpora Roy Suryo pada 2012.

Paling fantastis adalah Proyek Tol Bekasi Cawang Kampung Melayu alias Becakayu yang semula sungguh “tidak ayu”. Apanya yang ayu? Lima presiden tidak mampu mewujudkan proyek ini. Warga Jakarta-Bekasi yang sering terjebak kemacetan jalan Kali Malang di Jakarta Timur ini, sudah bosan melihat mangkraknya tiang beton di tepi aliran kali yang tak tergarap, dan berlumut hitam, persis seperti batu candi itu.

Asal tahu saja, Rencana Jalan Tol Bekasi Cawang Kampung Melayu itu mangkrak selama 22 tahun. Jalan tol penghubung Bekasi ke Jakarta ini digagas sejak masa Presiden Soeharto di tahun 1995. Pada 1996, PT Kresna Kusuma Dyandra Marga – perusahaan investor patungan empat perusahaan – menjadi pelaksana jalan tol tersebut, dan mendapatkan hak pengelolaan ruas tol ini.

Tetapi, akibat krisis politik dan krisis moneter 1998, yang juga menyebabkan turunnya Presiden Soeharto, membuat rencana tol Becakayu ini mangkrak. Empat presiden setelah Soeharto, masih tetap membuat tiang-tiang beton serupa batu candi itu mangkrak-krak...

Masa transisi pasca Reformasi 1998, Presiden BJ Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid, empat tahun Megawati Soekarnoputri, serta dua kali periode pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, sama sekali tidak menyentuh proyek mangkrak Becakayu yang macet sejak era Soeharto ini.

Malah presiden-presiden berikut mewariskan proyek-proyek mangkrak, termasuk proyek megah SBY untuk tempat pelatihan atlet nasional di Bukit Hambalang, Jawa Barat. Mangkraknya proyek Hambalang ini juga berbuntut kasus Mega Korupsi yang memenjarakan pucuk-pucuk pimpinan Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, Andi Alifian Mallarangeng dan Angelina Sondakh itu. Astaganaga....

Sejak Desember 2014 – hanya dua bulan setelah menjabat Presiden 20 Oktober -Presiden Joko Widodo (Jokowi), memutuskan mewujudkan pengerjaan jalan tol Bekasi Cawang Kampung Melayu di bawah arahan kementerian baru, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

[irp posts="16055" name="Jangan Cuma Nyalahin Jokowi!"]

Berbagai perubahan dilakukan dalam pelaksanaan proyek ini. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor konstruksi PT Waskita Karya lewat anak usahanya PT Waskita Toll Road mengambil alih sebagian besar saham Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) atau pengelola Jalan Tol Becakayu PT Kresna Kusuma Dyandra Marga. Lewat akuisisi saham senilai transaksi Rp240 milyar ini, Waskita Toll Road langsung menguasai kepemilikan 60 persen atas PT Kresna Kusuma Dyandra Marga.

[caption id="attachment_16063" align="alignleft" width="452"] Joko WIdodo (Foto: Tempo.co)[/caption]

Nah, setelah 22 tahun mangkrak? Jokowi pada 3 November 2017 meresmikan jalan tol yang memang sejak semula dimaksudkan untuk mengurai kemacetan di jalan sepanjang Kali Malang Jakarta Timur menuju Bekasi ini. Warga Bekasi-Jakarta-Kampung Melayu kini punya pilihan jalan alternatif lain pulang pergi ke tempat kerja.

Peristiwa mutakhir -mengubah yang mangkrak jadi terwujud- adalah Proyek Bandara Jawa Barat Kertajati yang didarati pertama kali oleh pesawat kepresiden RI jenis Boeing 737-800 pada Kamis (24 Mei 2018) pagi. Proyek Bandara Kertajati sudah dicanangkan sejak masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, per Februari 2011 dengan anggaran biaya Rp 25,4 trilyun. Tapi mangkrak.

Siang dan sore hari yang sama, Kamis (24/5/2018) diujicoba pula pendaratan pesawat komersial. Pesawat komersial pertama yang mendarat di Bandar Udara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati Kamis itu, ada dua jenis. Yang pertama Batik Air jenis Airbus A320 membawa 165 penumpang yang terdiri dari warga sekitar Bandara Kertajati beserta aparat kewilayahan, pejabat pemprov dan awak media dari Husein Sastranegara Bandung.

Dan yang pesawat komersial kedua adalah Garuda dengan nomor penerbangan GA 3340 dengan 215 penumpang termasuk Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, Sekda Jabar Iwa Karniwa dan para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemprov Jawa Barat Kamis sore harinya.

Kepada awak media Gubernur Aher mengatakan bahwa Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati itu akan mulai dipakai untuk penerbangan arus mudik mulai 9 Juni 2018 ini.

Kalau mau dilengkapi lagi soal pembangunan Bandara semasa pemerintahan Jokowi yang masih “seumur sawo” tiga tahun? Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dalam sebuah pemaparannya, mengatakan bahwa hingga tahun 2017 sudah terbangun 7 (tujuh) bandara baru di Indonesia, dari rencana 15 bandara baru sampai dengan 2019.

Dan dari tujuh yang terselesaikan pada 2017, tiga di antaranya siap dioperasikan. Yakni Bandara Maratua di Kalimantan Timur, Bandara Werur di Papua Barat, serta Bandara Koroway Batu juga di Papua Barat.

Nah, bagaimana tidak enak tuh #2019GantiPresiden?

***

Jimmy S. Harianto, mantan jurnalis Harian Kompas.