Jawa Timur Berduka, Bomber Menyerang Surabaya dan Sidoarjo

Senin, 14 Mei 2018 | 09:17 WIB
0
34
Jawa Timur Berduka, Bomber Menyerang Surabaya dan Sidoarjo

Rentetan pemboman terjadi di Surabaya dan Sidoarjo. Korban tiga bom gereja di Surabaya 17 orang meninggal dunia. Di Rusunawa Wonocolo, Kecamatan Taman, Sidoarjo 3 orang tewas menjadi korban ledakan bom di Blok B lantai 5 Rusunawa Wonocolo.

Menurut Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera, Senin (14/5/2018), tiga orang tewas saat bom tiba-tiba meledak di Rusun Wonocolo, Minggu (13/5/2018), tiga orang lagi mengalami luka-luka. Polisi memastikan, mereka keluarga teroris.

Mereka diketahui memiliki ikatan keluarga. Tiga orang tewas masing-masing adalah Anton Febryanto (47) sebagai kepala keluarga, Puspita Sari (47) istri Anton dan Rita Aulia Rahman remaja 17 tahun yang merupakan anak pasangan Anton-Puspita.

Tiga lainnya selamat, yakni Ainur Rahman (15) yang membawa kedua adik perempuannya, masing-masing Faizah Putri (11), dan Garida Huda Akbar (10). Ketiganya sudah dirujuk untuk dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara.

“Para pelaku yang meninggal dunia ini akan dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim untuk dilakukan proses lanjutan,” ujar Kapolda Jatim Irjen Machfud Arifin di Sidoarjo, Senin (14/5/2018) dini hari, kepada wartawan.

Anton tewas usai ditembak polisi. Anton ditembak karena polisi merasa terancam. “Saat akan ditangkap masih memegang 'switching' yang akan digunakan untuk meledakkan bom. Namun karena tidak mau ambil risiko pelaku terpaksa kami lumpuhkan,” lanjutnya.

Irjen Machfud menduga bahwa ledakan bom di Rusun Wonocolo masih ada kaitan dengan aksi teror bom di tiga gereja di Surabaya yang menewaskan 17 orang dan melukai 40 lainnya. “Bisa saja, hubungannya ada,” ungkapnya.

Menyusul Bom Gereja Surabaya dan Rusunawa Wonocolo, Senin pagi (14/5/2018), Kantor Polrestabes Surabaya diserang terduga teroris. Empat polisi dan enam orang warga terluka dalam serangan bom yang meledak di pintu gerbang Polrestabes Surabaya.

Serangan terjadi sekitar pukul 08.50 WIB. Hingga tulisan ini dibuat, polisi masih menangani tempat kejadian perkara. “Kami memastikan ada korban dari anggota,” lanjut Kombes Frans dalam jumpa persnya di Surabaya, Senin (14/5/2018).

Kombes Frans menjelaskan, empat pelaku bom bunuh diri di Polrestabes Surabaya semuanya tewas. Kecuali satu anak kecil yang masih sempat diselamatkan salah satu polisi di lokasi kejadian.

Seperti diketahui, pelaku pengeboman menggunakan dua sepeda motor. Satu sepeda motor dikendarai dua orang. Satu sepeda motor berjenis cub yakni Honda Supra bernopol L 3559 D dan sepeda motor matic, yakni Honda Beat bernopol L 6629 NN.

Bersamaan dengan ledakan bom di Polrestabes Surabaya, terjadi penggerebekan yang diduga komplotan teroris di Perum Puri Maharani, Masanganwetan, Sukodono, Sidoarjo, Senin pagi (14/5/2018). Dalam penggrebekan itu, seorang terduga teroris dikabarkan tewas.

Masih belum dipastikan apakah penggerebekan ini terkait dengan teror bom yang terjadi pada Minggu, 13 Mei 2018 maupun ledakan yang ada di gerbang Polrestabes Surabaya. Kombes Frans membenarkan adanya penggerebekan yang dilakukan “Densus 88” itu.

Namun, hingga saat ini, belum ada informasi lebih lanjut mengenai penggerebekan tersebut. Sumber Pepnews.com menyebutkan, penggerebekan dilakukan oleh Tim Densus 88 dengan 1 korban tertembak dan ditemukan 6 bom aktif di dalam rumah terduga teroris.

Family Bomber

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengungkapkan bahwa rentetan serangan bom di Surabaya adalah pembalasan dendam atas belum juga dibebaskannya dua orang Pimpinan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), yakni Aman Abdurrahman dan Zainal Anshori.

Aman Abdurrahman terlibat kasus perencanaan pendanaan kasus Bom Thamrin  pada 2016 setelah sebelumnya juga terkena kasus pendanaan bagi militer bersenjata di Aceh. Sedangkan Zainah Anshori divonis bersalah terkait pendanaan dan memasukkan senjata api dari Filipina ke Indonesia.

“Proses hukum yang bersangkutan (Aman dan Zainal) membuat kelompok jaringan JAD Jatim, termasuk Surabaya ini mereka memanas dan ingin melakukan pembalasan,” kata Kapolri di Mapolda Jatim, Surabaya, Senin (14/5/2018).)

Bahkan, lanjut Kapolri, serangan para napi teroris di Mako Brimob, Depok beberapa waktu lalu bukan sekadar dipicu karena salah paham, tapi ada kaitannya dengan proses hukum para pimpinan JAD itu.

Jika ditarik ke yang lebih luas, kata Kapolri, serangkaian serangan juga ada kaitannya dengan posisi ISIS yang terdesak dan memerintahkan agar sel-sel teroris di seluruh dunia untuk bergerak.

“Selain serangan kemmarin di Surabaya juga ada serangan di Paris, hari Minggu kemarin, satu pelaku pakai pisau, satu tewas empat luka, pelaku tembak mati polisi di Paris,” kata Jenderal Tito Karnavia kepada wartawan di Surabaya.

Serangkaian aksi teroris terjadi di Jatim. Serangan berawal dari ledakan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, selanjutnya di Rusunawa Wonocolo Sidoarjo, terbaru adalah ledakan di Mapolrestabes Surabaya.

Sebelumnya, Surabaya juga diteror bom di tiga gereja yang berbeda, yakni Gereja Santa Maria Tak Bercela Ngagel, GKI Diponegoro, dan GPPS Arjuno, Minggu (13/5/2018). Akibat kejadian tersebut, 17 orang tewas dan 40 lainnya luka-luka.

Tak hanya itu, pada malam harinya, beberapa jam usai bom kembali meledak di Rusunawa Wonocolo Sidoarjo, Minggu (13/5/2018) malam. Selanjutnya, pagi tadi bom meledak di pintu masuk Mapolrestabes Surabaya.

Dari rangkaian serangan bom tersebut, total jumlah korban mencapai 25 orang. Sebanyak 13 orang tersangka pelaku, dan 12 orang korban masyarakat. Serangan bom tiga gereja itu telah menarik perhatian Presiden Joko Widodo dan pejabat tinggi lainnya.

Bomber Surabaya ternyata melibatkan satu keluarga. Mereka adalah Dita Oepriarto (47) dan Puji Kuswati (43) bersama empat anaknya. Dita tinggal di Perumahan Wisma Indah, Blok K/22 Wonorejo Asri, Rungkut, Surabaya, sejak 2010.

Dari rumah tersebut, polisi telah menemukan 4 bom di kamar depan. Bahan berbahaya itu kemudian diledakkan. Selain 4 bom di kamar depan, polisi menemuka dan menyita toples plastik, botol, jeriken, dan sejumlah dokumen.

Dita dan istri mengajak anak-anaknya beraksi di 3 gereja. Informasi yang dihimpun, dua anak perempuan Dita yang ikut dalam pengeboman bersekolah di sekolah swasta di Surabaya. Dita sendiri lulusan SMA favorit di Surabaya dan alumnus perguruan tinggi.

Dalam keterangan persnya, Minggu (13/4), Jenderal Tito Karnavian menyebut Dita sebagai pimpinan Jamaah Ansarut Daulah (JAD) di Surabaya. JAD merupakan pendukung ISIS di Indonesia.

Serangan di gereja Surabaya diduga sebagai pembalasan penangkapan pemimpin mereka di Indonesia dan efek kekalahan ISIS di Timur Tengah. Dita sekeluarga inilah yang melakukan penyerangan secara beruntun pada tiga gereja di Surabaya tersebut.

Bom pertama meledak sekitar pukul 07.30 WIB di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Utara. Selang sekitar lima menit kemudian bom kedua meledak di gereja Pantekosta di Jalan Arjuno.

Tak lama kemudian bom meledak di gereja GKI di Jalan Diponegoro. Awalnya, empat orang tewas akibat ledakan bom di depan Gereja Santa Maria, dua orang tewas di gereja Pantekosta serta dua orang tewas lainnya di depan gereja GKI.

Berbagai pihak meyakini bahwa teror bom di tiga gereja di Surabaya tersebut dilakukan oleh kelompok Jamaah Anshorut Daulah (JAD). Lebih buruk lagi, JAD diperkirakan akan terus brusaha mengulangi aksi serupa, kata pengamat. Hal itu terkait kerusuhan di Mako Brimob oleh 155 napi terorisme, Selasa lalu.

“Saya yakin sekali akan terjadi aksi-aksi serupa karena serangan yang disebarkan oleh para napi teroris di Mako Brimob itu sampai sekarang belum dicabut dan sampai hari ini belum ada pernyataan dari Aman Abdurrahman sebagai imam JAD untuk menghentikan serangan-serangan tersebut,” ujar pengamat terorisme Al Chaidar kepada BBC Indonesia, Minggu (13/05/2018).

Menurutnya, pasca kerusuhan di Mako Brimbob, ada seruan kepada seluruh anggota jaringan JAD melalui media sosial dan jaringan komunikasi interpersonal. Mereka ini diperintahkan untuk melakukan serangan di mana pun mereka berada dengan kemampuan apa pun.

Sejumlah orang kemudian menyambut seruan ini, baik secara personal, seperti dilakukan beberapa orang yang melakukan aksi penusukan, maupun secara lebih terencana seperti serangan bom tiga gereja di Surabaya.

Badan Intelijen Nasional (BIN) meyakini, kelompok JAD ada di balik aksi teror di beberapa gereja di Surabaya itu. Direktur Komunikasi BIN Wawan Purwanto mengungkapkan, target utamanya tetap otoritas keamanan. “Tapi kita bisa sebut bahwa (serangan gereja) ini adalah target alternatif ketika target utamanya tak berhasil,” ujar Wawan seperti dikutip dari Reuters.

Departemen Luar Negeri AS memasukkan JAD sebagai organisasi teroris yang telah berhasil menarik ratusan simpatisan untuk berjuang membela Negara Islam (IS) di Suriah. Menyusul pemboman ini, Presiden sudah mendesak agar DPR mengesahkan RUU Terorisme.

***