"Mau Dibawa Ke Mana Hubungan Kita", kata PKS dan PAN ke Prabowo

Sabtu, 5 Mei 2018 | 12:35 WIB
0
42
"Mau Dibawa Ke Mana Hubungan Kita", kata PKS dan PAN ke Prabowo

Dalam suatu hubungan soal rasa antara laki dan perempuan terkadang salah satu pihak merasa statusnya tidak ada kepastian atau digantung. Mau dibawa kemana hubungan kita? kata Armada. Sudah runtang-runtung akrab dan sering jalan bareng, makan bareng, malah kadang ada canda-tawa yang bikin  hubungan menjadi mesra.

Tetapi salah satu pihak mulai menuntut kepastian atau kejelasan hubungan ini, tidak mau buang-buang waktu percuma, karena waktu semakin mengejar dan usia juga semakin bertambah. Intinya menuntut kepastian dan kejelasan, tidak mau digantung seperti dalam lagu Melly Goeslaw, ”Gantung.”

Cerita di atas mirip dengan dua partai, yaitu Gerindra dan PKS yang sudah lama terjalin akrabnya, pahit dan getirnya ditinggalkan oleh partai-partai yang dulu pernah bersamanya. Tetapi mereka tetap setia untuk saling menguatkan satu sama lain. Tidak mudah tergoda oleh jabatan menteri, seperti yang dialami oleh sahabat partainya, yaitu PAN. Ia meninggalkan di tengah perjalanan dan nikung ke partai pemerintah untuk bergabung dan mendapat jabatan satu menteri.

Tetapi sudah dikasih satu menteri, ternyata juga tidak setia, malah nikung lagi ditengah perjalanan, kembali lagi atau membelot ke oposisi. Dasar-dasar plin-plan.

Kembali ke Partai Gerindra dan PKS,,,

Dua partai ini sekarang sedang bingung dan gundah gulana, berkaitan dengan capres dan cawapres. Bagi partai Gerindra, Prabowo sebagai calon presiden tidak bisa diganggu gugat atau di otak-atik. Dan saat ini Prabowo lagi mencari pendamping sebagai cawapres untuk maju dalam pilpres 2019.

Prabowo ingin cawapresnya bisa menaikkan elektabilitasnya. Sedangkang bagi PKS, ia ingin kadernya menjadi cawapres untuk mendampingi Prabowo. Hanya sampai sekarang belum ada kepastian atau kejelasan. Siapa yang ingin dipilih oleh Prabowo. PKS dan kader partai sudah mendesak Prabowo untuk segera menentukan pilihannya dan segera diumumkan untuk dikenalkan ke publik.

Di satu sisi PKS menyodorkan sembilan calon wakil presiden kepada partai Gerindra untuk dipilih mana yang dianggap cocok oleh Prabowo. Di satu pihak, bagi Gerindra sembilan cawapres dari PKS ini terlalu banyak, penginnya Gerindra dari sembilan calon itu dikerucutkan lagi dan menyisakan dua atau satu calon saja. Tetapi bagi PKS, semakin banyak calon wakil presiden semakin baik, karena banyak pilihan. Wis podo mumet kabeh.

Inilah yang sampai sekarang belum ada kejelasannya, siapa yang ingin dipilih Prabowo?

Seperti yang diungkapkan oleh kader PKS, Mardani Ali Sera, Partai Keadilan Sejahtera atau PKS meminta kepastian partai Gerindra untuk menentukan 1 dari 9 nama cawapres yang sudah disodorkan untuk mendampingi Prabowo pada pilpres 2019.

Bahkan sang presiden PKS Sohibul Iman juga memberi  tenggat waktu kepada Gerindra sebelum masuk bulan suci Ramadhan untuk memutuskan satu nama dari PKS.

Mudyaaar tenan ikii, Prabowo didesak-desak untuk segera memilih salah satu dari 9 cawapres dari PKS. Lha dalam kehidupan nyata saja Prabowo santai-santai saja, toh sendiri juga bisa bahagia.

Tetapi dalam politik untuk maju pilpres, Prabowo mau tidak mau harus berpasangan untuk mendampingi dalam pilpres, tidak bisa sendiri. Dan ini hukumnya wajib, bukan sunah atau makruh.

Alasan PKS mendesak Prabowo untuk segera memilih atau mengumumkan cawapres adalah PKS ingin segera mensosialisasikan calon yang di usungnya dan bekerja sedini mungkin. Apalagi PKS ahlinya kampanye di tempat ibadah dan bulan Ramadhan yang merupakan bulan penuh berkah ini dianggap momen yang bagus dan tepat.

Seperti kata DPP PKS Mardani Ali Sera, ”Partainya meminta tenggat waktu karena menyadari bahwa konstelasi pilpres 2019 berat. Oleh karena,PKS ingin segera bekerja bersiap sedini mungkin.”

“PKS menyadari menang Pilpres itu perkara berat. Apalagi menantang petahana. Karena itu PKS ingin segera kerja. Dan itu sederhana dengan segera mendeklarasikan capres dan cawapres bisa bekerja,” begitu menurut penjelasan Mardani Ali Sera.

[irp posts="15100" name="Diobok-obok Sampai Mabok, Upaya Menciptakan Kondisi Luar Biasa""]

Belum lagi cawapres dari partai PAN, karena hampir pasti PAN tidak akan mendukung Jokowi dalam pilpres 2019. Ini diungkapkan berkali-kali oleh Amiein Rais yang merupakan sesepuh partai, sekalipun Zulkifli Hasan merupakan ketum PAN, tetapi dalam praktek dan fakta dilapangan, suara Amien Rais sangat menentukan ke mana arah dukungan partai PAN ini.

PAN tentu juga ingin kadernya menjadi cawapres untuk mendampingi Prabowo.

Nah, apakah kedua partai PAN dan PKS ini bisa legowo kalau salah satu dari kadernya menjadi cawapres, apakah tetep kompak mendukung Prabowo kalau kadernya tidak menjadi cawapres?

Memang plipres 2019 ini yang ramai adalah bursa cawapres, baik dari kubu Prabowo dan Jokowi. Yang pusing dan bingung adalah calon presiden dari dua kubu tersebut.

Seperti makan buah simalakama pilpres 2019, banyak cerita dan drama dalam penentuan cawapres yang tidak terekspose oleh media massa.

“Aku butuh kepastian dan kejelasan mas Bowo, sakit tahu rasanya menunggu yang tidak pasti, aku ga menuntut yang bukan-bukan ko, hanya butuh kepastian, pilih aku atau dia?"

Aihhh... emang ini pacaran, gitu?

***