Hidup Berdampingan dengan Tenaga Kerja Asing

Sabtu, 5 Mei 2018 | 11:55 WIB
0
381
Hidup Berdampingan dengan Tenaga Kerja Asing

Ini terjadi waktu saya di Singapura di sekitar tahun 1980-an. Di sebelah rumah saya, mengontrak TKA Korea. Badannya tegap-tegap, jarang senyum, pasti seperti tentara.

Mereka bekerja pada pembangunan sebuah hotel mewah. Kelihatan mereka pekerja kasar, namun susah membedakan mana yang pekerja kasar mana yang skill worker. Dari pengalaman saya di luar negeri, setiap pekerja skill harus bisa juga kerja kasar, unskill tidak bisa kerja skill. Umpama kalau sopir truk tidak masuk, maka otomatis seorang supervisor jadi sopir, bahkan kalau perlu manager turun tangan.

Kembali ke tenaga Korea tadi, 8 orang satu rumah. Oh , lupa saya sebenarnya juga TKA di sana, tapi tentu badan dan penampilan tidak setegap mereka. Kalau saya bisa bertahan sekian lama, bukan kerajinan yang semula jadi, tapi kerajinan terpaksa, takut dipulangkan. Alhamdulillah, sebagai superintendan, saya bisa bertahan hampir 30 tahun.

Kembali ke tenaga Korea tadi, mereka masuk tiap hari. Lho kapan istirahatnya?

Mereka ber-8 orang, setiap hari satu orang istirahat, 7 orang masuk kerja. Jam 7 berangkat, mereka pulang kira-kira jam 8-9 malam. Istirahat bergantian.

Yang tinggal dirumah bukan berleha-leha, tidur-tiduran ngopi sepuasnya. Tidak mereka juga kerja. Yang tinggal, bersihkan rumah, nyuci , jemur, strika baju teman-teman. Dan yang penting dia masak menyediakan makanan untuk temannya yang pulang kerja.

Sungguh irama team work yang menarik.

Bagaimana dengan TKI, apakah bisa disiplin seperti itu? Jangan buru-buru menghakimi tanaga atau buruh-buruh kita. Terbukti TKI kita sangat disenangi, berjuta tenaga kita berada di luar negeri, termasuk tenaga skill. Hampir diseluruh maskapai penerbangan di Asia, di Korea Airline, Singapore Airline ada pilot Indonesia, tekhnisi yang punya qualification tinggi. Begitu cabin attendant, di Cathay, SQ, Emmirat. Konon juga dunia perminyakan dan perkapalan adalah tempat numpuknya tanaga kerja kita.

Jadi kita jangan kelewat rendah diri dengan masuknya TKA kasar tersebut, tidak usah kebakaran jenggot.

Dari pengalaman saya lagi, TKA di suatu negara memang digaji lebih tinggi dari tenaga lokal. Mungkin hanya di Saudi tenaga lokalnya bergaji lebih tinggi dari TKA.

Jadi lumrah saja, TKA di sini gaji lebih tinggi dari tenaga lokal. Beberapa allowance untuk TKA, termasuk saya waktu di Singapore. Ada Housing Allowance, ada hardship allowance, kalau kerja di daerah terpencil.

Satu lagi yang perlu diingat, tenaga kerja itu akan lebih rajin di negeri orang dari pada negeri sendiri. Umpama tenaga kerja Phillipina, terkenal rajin di luar negeri. Tapi tidak di negerinya sendiri. Saya setahun mimpin satu proyek di Phillipine, sangat susah untuk mehdapatkan mereka bekerja gesit seperti saya temui di Singopore.

Mungkin pula tenaga kerja kita, kalau sudah pulang tidak segesit di luar negeri.

Saya sekarang di Australia, ikut anak-anak yang jadi TKI. Dan banyak orang Indonesia, jadi TKA di sini dari segala level pekerjaan. Australia tidak sewot, walau ada beberapa aturan diperketat.

***