Setelah Ganti Presiden, Lalu Apa?

Jumat, 4 Mei 2018 | 00:11 WIB
0
30
Setelah Ganti Presiden, Lalu Apa?

Terdapat dua fenomena baru yang dilakukan oleh para pembenci Jokowi, setelah nyaris seluruh manuver politik tidak etis mereka terendus dan nyaris tak berkembang. FB diancam ditutup, Saracen dibernangus, Kelompok 212 mengemis-emis, MUI melarang masjid sebagai tempat berpolitik, KPU dibersihkan dari makelar jual beli suara, dan seterusnya.

Dunia media sosial, walau mungkin masih jadi ajang olok-olok dan fitnah, namun sebenarnya efeknya tak begitu keras lagi. Umumnya para pelakunya selain bayaran, sebenarnya para pendukungnya bukanlah para pemikir sejati, karena itu watak dasar mereka adalah pengecut. Dikibari ancaman UU ITE saja mereka lari ngibrit, dan pura-pura bego mengaku akunnya dibajak-lah, itu hanya ikut nge-share-lah. Intinya mereka tidak 100% bersalah, ya kira-kira "kesalahannya bisa ditawar, dinego sesuai kemampuan".

Jarang sekali kita temukan, perilaku mereka ini memiliki ideologis dan argumentasi yang kuat. Jangan salah, watak dasar pembenci adalah kehilangan nalar dan daya pikir, sikap kritis mereka adalah penolakan yang sifatnya adiktif yang berasal dari watak bergerompol (kerumunan). Jadi tidak aneh, jika mereka hanya berani melawan seorang perempuan yang sedang mengasuh anaknya. Atau yang paling menyedihkan mengolok-olok anak autis yang sedang menunjukkan keberpihakannya.

Saya yakin di ruang kecil kesendiriannya mereka menangis, menyesali perbuatan picik dan mereka. Sangat berbeda ketika mereka ada di ruang publik: sangar, gak nalar, menyebalkan, dan menangan!

Memang ada perubahan "sifat gerakan" yang secara nyata mereka lakukan: berkerumum di ruang (atau tepatnya acara) publik dan menggunakan simbol-simbol privat yang menempel di tubuh. Dalam hal ini kaos sablon murahan menjadi alat peraga. Hal ini bisa dipahami, karena nyaris kalau mereka saling beragumentasi di ruang diskusi, sangat terlihat bahwa gagasan-gagasan mereka sangat lemah, argumentasinya parah, bahkan ujung-ujungnya akan lari dari konteks seraya membawa hal-hal yang bersifat SARA.

Hal ini menjelaskan betapa tidak efektifnya diskusi di hari-hari ini, di mana orang membaca (banyak) buku kritis akan tampak lebih dungu dari para pembaca head-line berita abal-abal. Orang yang bersifat bijak dan rendah hati akan tampak lebih lemah dari orang yang bermata beringas bernada lantang, dengan tangan terkepal ke atas. Orang yang menunduk hormat takzim akan tampak gampang dilibas oleh orang yang bertelanjang dada dan dipunji beramai-ramai.

Semuanya muaranya sama: watak gerombolan yang hanya merasa kuat dan berharga jika mereka berkerumun yang crowded. Apa yang bisa diharapkan dari individu-individu seperti itu?

Dari sisi inilah kita harusnya memahami gerakan ganti presiden itu. Gerakan yang diinsiasi oleh kelompok orang-orang jatuh, yang gagal di tengah jalan. Mereka ini menghendaki pemulihan yang cepat ke kondisi semula, mereka ini bermimpi bisa kembali ke level yang sesuai dengan yang mereka maui. Mereka ini punya satu persamaan dasar: sebenarnya hanya berbicara tentang dirinya sendiri, boro-boro kelompok, komunitas apalagi tentang nasib bangsa dan negaranya.

Dalam sebuah diskusi terbatas di Bandung beberapa waktu yang lalu, kami yang berasal dari sebuah SMA paling favorit di Jawa Barat menilisiksatu persatu teman-teman yang pada dasarnya dulu adalah para super-star sekolah. Kenapa mereka bisa berbelok arah, sedemikian jauh? Kehilangan spirit kecerdasan, kesungguhan, dan terutama kerendahhatian?

Benang merahnya sama: terlibat persoalan ekonomi, kegagalan berusaha, rumah tangga yang berantakan, hutang yang menumpuk, masalah-masalah yang umumnya membuat mereka terpelosok ke wilayah soliter. Mereka umumnya menghargai diri "terlalu tinggi" masa lalunya. Kegagalan hidup mereka secara pribadi inilah, yang ditimpakan pada kepemimpinan nasional yang mereka anggap gagal mengembalikan "kehormatan" mereka. Dan jumlah populasi ini semakin membesar, dan terus membesar.

[irp posts="14935" name="Kembalikan CFD sebagai Pelepas Stres, Bukan Ajang Kampanye Politik!"]

Di luar persoalan global, ekonomi dunia yang memang stagnan bahkan cenderung turun, juga isu Tenaga Kerja Asing akan terus sensitif di mata mereka? Kenapa? Ya karena hal itulah yang secara langsung akan mereka anggap sebagai sebab utama semakin tersingkir dan terpinggirkannya mereka. Mereka akan seenaknya saja, meloncat-loncat ke luar negeri mengambil rejeki orang lain di negara jiran, tapi begitu sensitif dan nyinyir saat ada ekspatriat dari berbagai kelas yang masuk ke negara-nya.

Cara berpikir tidak "fair" dan adil seperti inilah, yang membuat negeri ini tak pernah beranjak di luar negeri sebagai eksportir buruh, dan di dalam negeri tak beringsut bermental makelar proyek dan sumberdaya. Tak bergerak dari apa yang Koentjaraningrat puluhan tahun bilang: bangsa pemalas, tukang palak, dan mudah ngamukan!

Dalam kondisi buruk, busuk, dan galau inilah mereka menuntut #2019GantiPresiden. Cara memahami mereka itu mudah!

Setelah di DKI Jaya, ganti Gubernur yang terbukti tidak becus, lalu sekarang malah senang plesir ke luar negeri. Ngomong ke Turki beraudisi dengan Erdogan, sebenarnya tak lebih nyegat di jalanan bakda Jumatan. Lalu ke Maroko, lalu ke Amerika?

Saya sudah bilang, sebaik-baik Presiden Indonesia adalah mereka yang berani bersikap tegas terhadap Amerika. Dan apa yang dia lakukan? Cari amunisi dan simpati?

Bagi saya mereka ini hanya untuk kalah saja, sikap dan perilakunya macem-macem dan mati-gayanya bikin eneg di hati dan empet di mata. Sebelum mau ganti presiden, mbok ganti dulu sifat kasarmu, watak menanganmu, dan gaya busukmu. Basuh dulu kaki ibumu, belai lembut rambut istrimu, lalu cium mesra kening anak perempuanmu!

***