Mempertanyakan Puisi "Ibu Indonesia" Sukmawati Soekarnoputri

Selasa, 3 April 2018 | 01:12 WIB
0
4164
Mempertanyakan Puisi "Ibu Indonesia" Sukmawati Soekarnoputri

Setelah meneliti puisi Sukmawati Soekarnoputri "Ibu Indonesia", dari unsur fisik puisi (intrinsik ) maupun ekstrinsik, saya berkesimpulan puisi Sukmawati yang kita bicarakan ini adalah kegundahan beliau pada serbuan budaya Islam yang menggeser budaya lokal.

Dari soal busana sampai suasana, atmosfir budaya yang hilang (yang dilambangkan dengan suara tembang) yang berganti dengan atmosfir Islam (yang dilambangkan dengan suara adzan). Puisi ini lebih banyak puja puji pada budaya lokal yang dibenturkan dengan budaya Islam.

Di situlah SARA-nya. Padahal budaya 'kan bisa berkompromi, saling melengkapi. Dia tidak ingin ada daerah yang belum masuk budaya Islam ikut "terjajah".

Puisi itu dibacakan Sukmawati dalam acara 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018. Nah, nyambung, kan? Itu kalau mau jujur.

Tapi kan Sukmawati bilangnya bukan itu maksud puisinya? Dia mengatakan, “Di dalam puisi itu, saya mengarang cerita. Mengarang puisi itu seperti mengarang cerita. Saya budayawati, saya menyelami bagaimana pikiran dari rakyat di beberapa daerah yang memang tidak mengerti syariat Islam seperti di Indonesia Timur, di Bali dan daerah lain."

[embed]https://youtu.be/p73l7ZnsVj0[/embed]

"Soal kidung Ibu Pertiwi Indonesia lebih indah dari alunan azanmu, ya boleh aja dong. Nggak selalu orang yang mengalunkan azan itu suaranya merdu. Itu suatu kenyataan. Ini 'kan seni suara ya. Dan kebetulan yang menempel di kuping saya adalah alunan ibu-ibu bersenandung, itu kok merdu. Itu 'kan suatu opini saya sebagai budayawati," ujar Sukmawati.

Itu 'kan cara Sukmawati mengalihkan perhatian publik, mempersempit bahasan puisinya hanya pada soal adzan. Kalau itu soalnya, konteks ( hubungan ) puisi itu yang dibacakan di acara “Fashion Week 2018“ dengan adzan itu apa? Malah nggak nyambung, 'kan?

Buat pengamat Sastra saya usul, kalau unsur ekstrinsik puisi itu biasanya terdiri dari unsur biografi, sosial, dan nilai, bagaimana kalau ditambahkan satu lagi. Unsur ngeles!

***

Editor: Pepih Nugraha