Percakapan

Selasa, 6 Maret 2018 | 01:34 WIB
0
154
Percakapan

.

- Hai.

- Halo.

- Apa kabar?

- Sudah tiga bulan. Saya baik-baik saja.

- Tiga bulan? Wow, aku tak menyadarinya.

- Saya tahu kamu itu pikun .

 

- Kalau tujuanmu menelepon hanya untuk mencari tahu bagaimana keadaan saya, saya rasa saya sudah menjawabnya.

- Tidak, tidak ... aku ingin ngobrol. Jangan kejam gitu, dong.

- KEJAM? Kamu pikir saya kejam?

- Bukan, bukan itu maksudku ... aku—

- Memang bukan itu maksudmu ... kamu cuma bilang ‘jangan kejam’.

- Baiklah, aku minta maaf.

- Tidak perlu minta maaf, sudah sifatmu memang begitu.

- Apa maksudnya?

- Apa maksudnya?

- Aku menelepon bukan untuk memulai pertengkaran—

- Tentu.

- Kamu kok tidak berubah sedikitpun, sih?

- Apa?

- Sudahlah.

- Baik.

 

- Apakah kamu takkan pernah memaafkanku?

- Memaafkanmu—Memaafkanmu untuk apa?

- Untuk semua ini ... seluruh kekacauan yang telah kubuat.

- Oh itu ... Sudah tiga bulan, bos. Saya enggak mungkin menyimpan dendam selama itu.

- Hmm ... begitu.

- Iya.

- Aku sungguh-sungguh... aku sangat menyesal.

- Lupakan saja. Kamu takkan bisa enyakitiku untuk kedua kalinya.

- Apa maksudnya?

- Lupakan saja.

- LUPAKAN APA?

- Heeei! Tenang, bos.

- BERHENTI MEMANGGIL AKU BOS!

- Oke, pak, tenanglah.

- JANGAN SEBUT AKU ‘PAK’!

- Baiklah, saya akan diam saja.

- Aku minta maaf-

- Mulai lagi, deh.

- Tolong dengarkan aku.

- Saya ... baiklah, saya memang sudah lama menunggu untuk emndengarkan penjelasan darimu.

 

- Aku minta maaf untuk segalanya. Aku terlalu terburu-buru mengambil keputusan yang kini aku sesali. Aku mohon maaf telah meninggalkanmu, untuk kata-kata yang pernah kuucapkan. Aku harap aku bisa melakukan ini dengan lebih baik. Saya tidak memintamu kembali. Aku hanya perlu mendengarkanmu mengatakan bahwa kamu memaafkanku.

 

- Halo? Kamu masih di sana?

- Saya sedang mendengarkan.

- Aku sudah selesai bicara.

- Oh ... Baiklah.

- Baiklah? Itu saja?

- Dengar, sudah saya katakan. Sudah tiga bulan. Saya sudah melupakannya. Saya—

- Apakah kamu memaafkanku?

- Tidak penting jika saya memaafkanmu atau enggak. Saya—

- Tapi itu penting bagiku!

- Cukup adil, tapi tidak semuanya selalu tentang kamu, bos! Kamu masih belum menyadarinya. Tiga bulan dan kamu masih belum menyadari bahwa itu tidak selalu tentang kamu dan kamu saja. Kita menjalin hubungan. 'KITA', bukan hanya kamu. Kamu gagal memahaminya dan jelas kamu belum berubah. Masihkah tentang kamu bukan?

- Tidak, aku—

- Saya belum selesai bicara. Sekarang waktu 'saya', ok? Biarkan SAYA selesai bicara! Kamu belum berubah dan saya ragu kamu akan pernah berubah. Bahwa saya pernah mencintaimu, hanya Tuhan yang tahu. Tapi sekarang semuanya telah berubah ... dan saya ragu saya bisa mencintaimu lagi. Sebaiknya kamu tidak meminta saya untuk kembali. Apakah saya memaafkan kamu? Ya, saya memaafkanmu. Memaafkanmu bahkan saat kamu melakukan hal yang tak pantas dimaafkan. Saya sudah memaafkanmu, tapi saya belum lupa. Dan hal terakhir yang saya butuhkan darimu adalah menelepon saya 3 bulan lagi untuk mengingatkan saya. Nah, jika Anda tidak keberatan, ada hal lain yang harus saya kerjakan.

 

- Aku mencintaimu.

- Kamu benar-benar bajingan!

***