Fakta

Erdogan Lebih Berpihak pada Teroris Agar Idlib Tak Dikuasai Kurdi

Erdogan (Foto: Hurriyet)
Erdogan (Foto: Hurriyet)
Kalau benar perang pecah di Idlib, maka negara-negara pendukung para teroris dan negara-negara yang membatu tentara Suriah akan saling serang.

Idlib adalah salah satu wilayah atau provinsi yang masih tersisa dan di kuasai oleh para kelompok-kelompok teroris. Sebagian besar di kuasai oleh kelompok teroris Jabhat al Nusra. Sekarang wilayah Idlib menjadi perebutan dari berbagai kepentingan politik oleh sponsor-sponsor teroris seperti AS (sekutunya) dan Turki.

Baru-baru ini seperti berita yang di lansir Al-Mayadeen, seorang komandan teroris yang menguasai wilayah utara Idlib, dekat perbatasan dengan wilayah Turki, mengancam atau memperingatkan presiden Recep Tayyib Erdogan untuk tidak meninggalkan dukungan kepada kelompok mereka.

Selain itu, ia juga mengancam akan menduduki kota Reihaniyah di Turki hanya dalam hitungan dua jam. Kelompok teroris itu juga mengancam akan membuat terowongan-terowongan untuk masuk ke kota Reihaniyah yang saat ini dibentengi oleh pagar-pagar semen.

Apakah campur tangan Turki dengan menduduki wilayah Idlib atau Afrin untuk melindungi warga masyarakat atau demi alasan kemanusiaan? Tidak!

Turki tentu punya kepentingan sendiri dengan memberi dukungan kepada kelompok teroris yang ada di wilayah Turki. Di antaranya: Turki tidak ingin wilayah Idlib atau perbatasan dengan Turki dikuasai oleh etnis Kurdi yang lebih condong mendukung Presiden Bashar al Assad. Karena bisa menjadi ancaman bagi Turki kalau Kurdi menguasai wilayah Idlib. Yang saat ini Kurdi menjadi musuh bebuyutan Turki.

Dan imbas perang di wilayah Idlib akan membanjirnya pengungsi yang akan memasuki wilayah Turki dan ini akan membuat masalah baru bagi Turki yang saat ini juga lagi mengalami masalah ekonomi.

Kelompok teroris di Idlib mempunyai majikan-majikan sendiri yang mendapat bantuan financial dan persenjataan. Kelompok ini saat ini dimanfaatkan oleh para majikan atau sponsor untuk tetap menduduki wilayah Idlib.

Bahkan pembuatan film-film palsu yang seolah menggambarkan telah terjadi penggunaan senjata kimia yang dilakukan oleh pemerintah Bashar al Assad telah dimulai dan pembuatannya  menggunakan anak-anak atau ibu-ibu yang seakan menjadi korban senjata kimia.

Baca Juga:  Tak Ada Lagi Reshuffle, Anggota Kabinet Jangan Berpolitik!

Film-film itu kemudian disebarkan oleh jaringan media global untuk mendapat respon dunia internasional. Bahkan dibantu oleh LSM, yaitu White Helmets yang menjadi kepanjangan tangan AS dan sekutunya.

Tujuan propaganda penggunaan senjata kimia adalah untuk melakukan tindakan militer kepada pemerintah Bashar al Assad. Karena hanya itu satu-satunya alasan yang dibenarkan untuk melakukan agresi kepada Suriah.

Sangat konyol dan tidak masuk akal kalau pemerintah menggunakan senjata kimia, sama saja bunuh diri, karena penggunaan senjata kimia sudah ditunggu-tunggu oleh AS untuk melakukan tindakan militer kepada Suriah.

Bahkan saat ini kurang lebih 185 truck dari Turki dengan mengangkut persenjataan berat sudah memasuki wilayah Idlib untuk membantu para teroris dari serangan tentara Arab Suriah (SAA). Dan Turki juga meminta dilakukan gencatan senjata untuk tidak menyerang wilayah Idlib.

Kalau benar perang pecah di Idlib, maka negara-negara pendukung para teroris dan negara-negara yang membatu tentara Suriah akan saling serang dan bisa jadi wilayah Idlib akan seperti wilayah Raqqa yang 90% hancur lebur rata dengan tanah. Sampai di sini tentu masyarakat sipil yang akan jadi korban.

Kawasan Timur Tengah akan selalu bergejolak karena banyak kepentingan.

***