Wacana

Politik Jangan Sampai Pisahkan Erick dan Sandi

Erick dan Sandiaga (Foto: Ngopibareng.id)
Erick dan Sandiaga (Foto: Ngopibareng.id)
Semoga persahabatan lama mereka tak berakhir hanya karena berbeda pilihan politik. Selamat merintis prestasi baru di belantara politik Indonesia....

Ada banyak kata-kata indah yang menjelaskan tentang makna sebuah persahabatan. Dan ada kalanya persahabatan itu lebih indah dari sekadar cinta. Semoga kata-kata indah itu kini direnungkan dalam-dalam oleh Erick Thohir (48) dan Sandiaga Uno (49) – dua sahabat yang kini seolah dipisah karena pilihan politik sesaat jelang Pilpres 2019.

“Persahabatan itu hal tersulit di dunia ini untuk dijelaskan dengan kata-kata. Itu bukan sesuatu yang dipelajari di bangku sekolah. Akan tetapi jika tidak belajar dari makna persahabatan, maka dirimu tak belajar dari apapun,” kata petinju besar, Muhammad Ali.

“Aku lebih baik berjalan bersama seorang sahabat di kegelapan, ketimbang sendirian di tempat terang…,” ungkap Helen Keller. Helen adalah seorang sastrawan Amerika, aktivis politik, dosen dan juga… orang buta-tuli pertama yang berhasil meraih gelar sarjana kesenian di AS.

“Persahabatan menandai hidup lebih mendalam dari sekadar cinta. Cinta berisiko berubah buruk jadi dendam, tetapi persahabatan? Tiada lain selain saling berbagi pengalaman,” ungkap Elie Wiesel, dia juga seorang sastrawan, penulis AS, namun kelahiran Rumania dan dulu pernah mengalami peristiwa pembantaian semasa Hitler dan toh ia lolos hidup.

Memang, ada juga kata-kata keras menyangkut sebuah persahabatan. Tak ada kompromi untuk sebuah persahabatan. Mereka harus jalan berdampingan. Bukan saling mengedepani. Dan itu datang dari mulut filsuf terkenal, Albert Camus.

“Jangan berjalan di belakangku, aku nggak akan memimpinmu. Jangan berjalan di depan ku, aku nggak akan mengikutimu. Tetapi berjalanlah di sampingku, maka kau akan jadi sahabatku,” kata Camus, yang dalam dunia filsafat dikenal sebagai filsuf Perancis kelahiran Aljazair yang absurdis ini.

Tetapi persahabatan juga bisa jadi sebuah sikap seseorang, yang bisa menghargai diri kita apa adanya. Seperti kata penyair terbesar Inggris, William Shakespeare….

Baca Juga:  Terorisme "Efek Samping" Pendidikan Agama yang Terbelakang

“Seorang sahabat adalah dia yang bisa memahamimu apa adanya, mengerti kamu dari mana, menerima dirimu akan menjadi apa, dan tentunya, membiarkanmu untuk bertumbuh,” kata Shakespeare.

Hari-hari ini, publik politik di Indonesia tengah dihanyutkan cerita mengharu-biru soal persahabatan dua figur millenial aset terbaik negeri ini, Erick Thohir dan Sandiaga Uno. Keduanya kini dipisahkan jurang pilihan politik – Erick Thohir jadi Ketua Timses Joko Widodo dan Ma’ruf Amin, lawan politik sahabatnya Sandiaga Uno Cawapres dari Capres Prabowo Subianto…

“Secara jujur, ya kawatir. Kami berteman lama sejak masa sekolah, main basket bersama,” ungkap Sandiaga Uno dalam wawancara di televisi, sebelum Erick Thohir terpilih Ketua Timses Jokowi, “Istri saya dengan istri beliau arisan, pengajian bersama, anak-anak kami bersahabat. Saya sangat bersahabat juga dengan kakak beliau,” kata Sandi. (Detikcom, Liputan6, Kompascom).

Kakak Erick Thohir yang dimaksud Sandi tentunya adalah, Garibaldi Thohir, pewaris kerajaan bisnis keluarga Thohir, dan kini tercatat menjadi orang terkaya urutan 23 di Indonesia versi Forbes 2018 dengan nilai kekayaan bersih 1.4 miliar dollar! Sandiaga Uno, juga masuk dalam daftar 150 orang terkaya Indonesia versi Forbes, Sandi di urutan ke-85 dengan kekayaan bersih senilai 300 juta dollar… (Forbes adalah sebuah perusahan media global, yang fokus pada bidang bisnis, investasi, teknologi, entrepreneurship, kepemimpinan dan gaya hidup).

“Dalam sebuah persahabatan itu jangan dilihat hari ini, tetapi lihat masa lalu dan masa depan, dan kita sebagaimana manusia,” kata Erick Thohir, ketika ditanya apakah persahabatan lamanya dengan Sandiaga Uno akan terganggu dengan pilihan politik yang berseberangan ini?

“ Insya Allah enggak (terganggu), kalau kuncinya profesional,” kata Erick Thohir, yang mengaku memilih menerima tawaran dirinya jadi Ketua Timses Jokowi-Ma’ruf Amin, karena ia memandang “Jokowi sosok yang mencerminkan hati nurani rakyat, serta berniat membangun bangsa. Saya juga inginnya demikian…,” katanya.

Baca Juga:  Bukan Buku yang Bisa Cegah Terorisme, Tetapi Masyarakat yang Literat

Posisi seorang Ketua Tim Sukses dengan Calon Wakil Presiden, tentunya bukan posisi yang sebanding. Akan tetapi, tampilnya kedua sosok muda – yang dipandang sebagai figur sukses bagi pemilih millenial – ini, sungguh menjadi buah bibir berkepanjangan di media sosial saat ini.

Keduanya mewakili sosok muda, sukses, kaya raya, trendy, berprestasi di bisnis. Sementara tokoh-tokoh yang mengemuka di Pilpres kali ini terkesan sebagai “sosok-sosok-sudah-sepuh-semuanya…” alias S5.

Ketika tiba-tiba Jokowi memilih Ma’ruf Amin yang sudah sedemikian sepuh sebagai Cawapresnya, reaksi sesaat pendukung presiden petahana waktu itu kaget, kecewa, dan sempat….. ada yang berniat golput sajalah. Padahal, hanya sesaat sebelumnya, mereka bergairah sekali apabila yang dipilih sebagai Cawarpres adalah Mahfud MD. Bahkan ada seloroh ekstrem, jika saja pada saat pengumuman Capres Cawapres saat itu dilangsungkan Pilpres? Maka, Prabowo dan Sandi akan unggul….

Kekecewaan terhadap Jokowi akan pilihan Cawapresnya tadinya cukup parah. Apalagi ketika tahu, apa alasan gagalnya Mahfud sebagai semula bakal Cawapres – dari talkshow politik Indonesia Lawyer Club (ILC) di sebuah televisi swasta. Mahfud, di forum itu menjelaskan panjang lebar latar belakangnya, mengapa ia sampai tidak jadi dipilih. Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi dan mantan Menteri Pertahanan era Gus Dur konon malah sudah bersiap-siap di restoran tak jauh dari tempat diumumkannya pencapresan Jokowi. Sudah berpakaian baju putih, dan baru selesai mengurus surat-surat untuk keperluan itu di Yogyakarta.

Tetapi semenjak diumumkan Erick Thohir jadi Ketua Timses, mendadak pemilih muda seperti bangkit bergairah lagi. Ada sosok millenia, rupanya, dalam tim sukses Jokowi. Apalagi, publik belum lupa dengan prestasi Erick Thohir, yang berhasil mengorganisasi gelaran Asian Games 2018 dengan tampilan millenial. Dan juga reputasinya, sebagai pemilik klub raksasa Italia Inter Milan, dan juga klub lokal negeri ini, Persib…

Baca Juga:  Seperti Main Layangan, Jokowi Asyik Tarik-ulur Benang Cawapres

Pilpres 2019 kali ini, tak pelak telah berhasil menampilkan sosok muda yang siapa tahu bakal berbicara di negeri ini di masa datang. Dan siapa tahun, bakal ikut bersaing di Pilpres 2024. Banyak pula yang berharap, agar kedua sosok muda Indonesia itu adalah Sandiaga Uno dan Erick Thohir.

Semoga persahabatan lama mereka tak berakhir hanya karena berbeda pilihan politik. Selamat merintis prestasi baru di belantara politik Indonesia….

***