Wacana

Ahok Saja Tidak Marah, Kenapa Ahoker Marah-marah?

Ahok (Foto: Tribunnews.com)
Ahok (Foto: Tribunnews.com)
Jangan terbawa drama lawan, mainkan peran sendiri, jangan mainkan peran yang mereka ciptakan. Sebagai "Sang Eksekutor", dukunglah dia untuk Pilpres 2019.

“Pemilu itu bukan untuk memilih yang terbaik, tetapi untuk mencegah yang terburuk berkuasa..” (Romo Frans Magnis Suseno).

Pilihan Cawapres Koalisi Kerakyatan untuk mendampingi Capres Ir. H.Joko Widodo terhadap Ketua MUI Kyai Haji Ma’ruf Amin (MA) adalah bagian dari ikhtiar untuk meraih kemenangan di Pilpres 2019. Jelas pilihan tersebut buah dari kesepakatan dari Partai yang tergabung dalam Koalisi Kerakyatan, bukan pilihan pribadi Jokowi.

Tidak ada yang perlu diragukan dari rekam jejak MA, sudah banyak diuraikan latar belakangnya, jadi Saya tidak mengurainya dalam tulisan ini. Memang beberapa jam sebelum diputuskan MA sebagai Cawapres, sudah beritakan bahwa Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD (MMD) sebagai Cawapres Jokowi, bahkan MMD sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk deklarasi sore itu.

Dramatisasi seputar penentuan Cawapres ini betul-betul seperti penentuan kelangsungan hidup bernegara, bahkan dianggap lebih Penting dari penentuan siapa Capresnya. Entah situasi apa yang menciptakan hal tersebut sehingga moment tersebut menjadi sangat dramatis. Seakan-akan hidup matinya masyarakat Indonesia kedepan sangat erat kaitannya dengan siapa Cawapres yang dipilih.

Jangan lebay deh… percayakan hasil penentuan tersebut kepada “Sang Eksekutor” (Joko Widodo) sebagai pendukung hanya berkewajiban memberikan support, dan mengapresiasi bahwa pilihan terhadap Cawapres itu adalah pilihan terbaik.

Tugas lainnya pendukung adalah ikut memenangkan Capres dan Cawapres pilihannya, bukan memilih Golput karena kecewa.

Jangan terbawa dramatisasi situasi penentuan Cawapres, fokus saja pada dukungan, tetap mendukung siapapun Cawapresnya. Semua yang sudah terjadi hanyalah sebuah proses dan dinamika Politik.

Mengorek kesalahan MA dimasa lalu hanya melemahkan semangat perjuangan. Posisi MA sebagai Ketua MUI saat kasus Ahok sangat dilematis, dia harus berpihak pada suara umat yang terbanyak.

Baca Juga:  Wajar Demokrat Geram Nama SBY Dikaitkan dengan Korupsi KTP-el

Kalau Ahok saja tidak marah, kenapa Ahoker harus marah?

Kalau Ahok saja sangat pemaaf, kenapa Ahoker tidak memaafkan?

Kalau Ahok saja malah mendukung, kenapa Ahoker harus tidak mendukung, dan malah memilih untuk Golput?

Jangan terbawa drama lawan, mainkan peran sendiri, jangan mainkan peran yang mereka ciptakan. Jokowi adalah Sang Eksekutor, dukunglah dia untuk mengeksekusi Pilpres 2019.

***