Wacana

Membaca Agenda Politik Jokowi di Balik Ma’ruf Amin

Cawapres Ma'ruf Amin dan Presiden Jokowi (Foto: Agus Suparto/fotografer Istana)
Cawapres Ma'ruf Amin dan Presiden Jokowi (Foto: Agus Suparto/fotografer Istana)
Jadi kalau dilihat dari berbagai sisi, munculnya nama Ma'ruf Amin murni agenda politik belakang layar Jokowi untuk meraih kembali kekuasaan.

Dalam logika sosial politik, pemilihan Ma’ruf Amin sebagai cawapres Jokowi mutlak karena perang opini politik.

Ma’ruf Amin adalah bukti bahwa Jokowi sangat sadar dirinya selama ini sering diserang isu SARA karena efek buruknya komunikasi Jokowi dengan umat Islam.

Ma’ruf Amin adalah jalan keluar bagi mereka agar isu politik IDENTITAS bisa diredam, tapi sayang, Jokowi terlalu panik dan polos.

Dipilihnya Ma’ruf Amin secara politik tidak ada kaitannya dengan langkah antisipasi jokowi terhadap Prabowo yang akan memilih UAS misalnya, ini murni kebutuhan pokok koalisi Jokowi secara independen.

Ma’ruf Amin murni dipilih Jokowi dengan pertimbangan elektoral dan pertimbangan sebagai pendulang suara atau vote getter, tidak lebih.

Pada dasarnya posisi cawapres Jokowi tidak fokus ke nama, blok Jokowi hanya fokus kepada sosok yang bisa menyatukan potensi suara NU dan bisa membantah isu SARA, karena dua hal ini vital bagi Jokowi dalam menghadapi pilpres kali ini.

Makanya yang muncul duluan adalah Mahfud MD yang juga berlatar belakang NU. Jokowi gak mau bernasib sama dengan Ahok.

Ma’ruf Amin juga dipilih agar partai potensial dalam koalisi mereka seperti PKB tidak berani bermanuver, karena secara de facto, kekuatan ril di kubu Jokowi hanya PDIP, Golkar dan PKB, yang lain hanya penggembira.

Jika melihat secara ilmiah tentang teori politik IDENTITAS atau teori polilit ALIRAN, Ma’ruf Amin dipilih karena memang tendensi politik aliran masih benar adanya di Indonesia.

Tesis politik aliran sebenarnya telah dibantah sendiri oleh blok PDIP dalam rangka membela Ahok di DKI kamarin, dulu mereka bantah, tapi dengan dipilihnya Ma’ruf Amin, secara gak langsung mereka sekarang mengakui sendiri bahwa politik aliran itu ada.

Baca Juga:  Rekonsiliasi Kubu Prabowo-Jokowi Sebelum Pilpres 2019, Sebuah Utopia?

Tesis politik aliran dan politik identitas kalau kita membaca buku buku Prof William Liddle, maka blok Jokowi saat ini sedang memainkan isu ini dengan maksimal.

Tidak mudah menyatukan suara NU, sehingga dengan ditetapkan nya Ma’ruf Amin, mereka berupaya keras suara NU bulat ke Istana, tapi faktanya tidak lah demikian, suara NU tetap akan terpecah dan tetap akan mengalir ke kubu Prabowo minimal kalangan muda dan ibu ibu.

Ma’ruf Amin kalau dilihat dari sisi pribadi ulama secara an sich, maka hampir tidak ada alasan memilih beliau yang sudah sangat sepuh dan sangat tidak cakap lagi menjalankan tugas sebagai wapres, sekali lagi, ini adalah langkah kepepet karena Jokowi paham, sentimen agama terhadapnya sangatlah kuat.

Dalam logika sistem presidensialisme yang kita anut dalam konstitusi negara kita, posisi cawapres bukanlah posisi vital, tapi hanya ban serap buat presiden.

Disini yang terjadi sebenarnya adalah pelecehan terhadap ulama karena hanya dipakai Plot Jokowi untuk mendulang suara total demi nafsu menang periode kedua, ini bukan memuliakan ulama sejatinya adalah pengkerdilan terhadap ulama itu sendiri.

Ma’ruf Amin mereka anggap solusi kebuntuan dan kegagalan jokowi selama ini dalam berinteraksi dengan ulama dan umat islam.

Kalau umat islam cerdas, sikap Jokowi ini sebenarnya adalah misi mereka menyelamatkan muka di depan kalangan menengah atas muslim Indonesia yang sangat melek akan buruknya kinerja jokowi sebagai presiden periode pertama selama ini.

Yang ditakutkan blok Jokowi sebenarnya bukan ijtima’ ulama yang lebih akrab dengan kubu Prabowo, karena secara de facto, GNPF ulama itu sifatnya Ad Hoc dan tidak mengakar kuat sekuat akar rumput NU dan Muhammadiyah.

Baca Juga:  Pilgub Jateng 2018 Dipenuhi Tokoh Nasional, Siapa Saja Mereka?

GNPF lahir karena peristiwa pelecehan agama oleh Ahok di DKI, Blok Jokowi sangat paham peta kekuatan GNPF yang tidak powerfull, sebagai contoh kecil, Kapitera Ampera saja bisa mereka boyong masuk ke PDIP padahal selama ini dia adalah orang dekat nya Habib Rizieq.

Yang sangat ditakutkan Jokowi sesungguhnya saat isu SARA berhasil memukul elektabilitas Jokowi, hengkangnya NU atau minimal suara NU tidak solid, dan satu lagi yang mereka khawatirkan adalah keberhasilan blok Prabowo dalam memarketingkan kegagalan kinerja Jokowi selama ini dalam masa kampanye pilpres nanti.

Jadi kalau dilihat dari berbagai sisi, munculnya nama Ma’ruf Amin murni agenda politik belakang layar Jokowi untuk meraih kembali kekuasaan.

Ini Tidak ada kaitannya dengan misi jokowi merangkul ulama, pro islam, dll, jangan lupa juga bahwa mayoritas orang orang elit politik disekitar jokowi adalah mereka yang tidak terlalu peduli dengan nasib umat islam sama sekali.

Jadi Ma’ruf Amin terindikasi kuat dipasang hanya sebagai topeng, agar agenda poitik mereka yang sesungguhnya untuk terus bisa berkuasa, dapat ditutupi didepan mayoritas muslim indonesia yang masih polos dan tidak paham apa apa dengan konstelasi politik tanah air yang sebenarnya.

Tengku Zulkifli Usman.
Analis Politik, Jakarta.