Wacana

Ngukur Baju dan Serahkan Daftar Riwayat Hidup-nya Mahfud MD

Mahfud MD (Foto: Tribunnews.com)
Mahfud MD (Foto: Tribunnews.com)
Terpilih di saat-saat akhir, penunjukkan Ma'ruf Amin sebagai cawapres Jokowi menyisakan tanda-tanya. Mengapa anggota koalisi menolak nama Mahfud MD?

Pada menit-menit terakhir sebelum Presiden Jokowi mengumumkan nama KH Ma’ruf Amin sebagai cawapres, nama dengan inisial “M” yang paling santer terdengar adalah Mahfud MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi yang kini didapuk sebagai salah satu Dewan Pengarah BPIP. Bukan Moeldoko, Muhaimin Iskandar, Muhammad Jusuf Kalla, Ma’ruf Amin, Mas Airlangga Hartarto, apalagi Mamah Dedeh.

Kepada sejumlah media Mahfud sempat menceritakan detik-detik dirinya dipilih menjadi calon wakil presiden yang akan mendampingi Joko Widodo di Pilpres 2019. Mahfud sudah dipanggil Istana untuk mengukur baju yang akan dipakai dalam pendaftaran ke KPU. Tidak hanya itu, Mahfud memastikan kalau ia dan Jokowi akan mendeklarasikan sebagai capres dan cawapres.

Sebelumnya, Mahfud juga sudah menyerahkan curriculum vitae atau daftar riwayat hidup sebagai keperluan administrasi yang diminta pihak Istana.

“Saya sudah dipanggil Istana untuk menyerahkan curriculum vitae tadi pagi. Dan sudah diminta ukur baju supaya samaan dengan Pak Jokowi,” ungkap Mahfud.

Tentu saja tidak disebutnya nama Mahfud MD sebagai sesuatu yang mengejutkan kalau tidak mau dibilang bikin geger, minimal bagi Mahfud sendiri dan orang-orang dekatnya. Bagaimana tidak, Mahfud sudah dipanggil ke Istana untuk mengukur busana yang akan dikenakan untuk pendaftaran pasangan capres-cawapres di KPU pada Jumat, 10 Agustus 2018 hari ini.

Jangan tanya kok busana yang keren dengan standar Istana bisa jadi dalam sehari-semalam. Jangankan sehari-semalam, bahkan dalam beberapa jam saja busana berupa kemeja dan pantalon bisa selesai. Cara bikin candi Loro Jongrang yang selesai dalam sehari-semalam pun lewat.

Namun baju seragam dan daftar riwayat hidup Mahfud MD sekarang tinggal kenangan dan sesekali bayangan yang tertoreh secara mendalam, khususnya di hati Mafhud MD sendiri. Hari yang “naas” itu bukan namanya yang diumumkan Jokowi, melainkan Ma’ruf Amin.

Baca Juga:  Tak Ada Lagi Reshuffle, Anggota Kabinet Jangan Berpolitik!

Gegerlah jagat perpolitikan Tanah Air.

Tanda-tanda bahwa akan ada perubahan nama di detik-detik terakhir sudah terlihat saat  rapat Koalisi Indonesia Kerja alias Koalisi Jokowi yang berlangsung di Restoran Plataran di mana saat itu Mahfud yang sudah berada di sebuah restoran lainnya dekat restoran itu.

Namun, beberapa saat sebelum keputusan nama Ma’ruf Amin disampaikan Jokowi, Mahfud yang kala itu berpakaian netjes mengenakan kemeja putih dan celana hitam, justru meninggalkan restoran tempatnya menunggu dengan alasan ingin pulang dulu. Ini sasmita yang tidak biasa di saat keputusan penting dan genting akan diambil!

Berdasarkan informasi yang beredar, juga bocoran dari sejumlah politikus yang tidak bersedia disebut namanya, Mahfud diminta untuk datang lagi ke Istana. Di sana secara khusus Jokowi membicarakan mengapa ia memilih Ma’ruf Amin, bukan dirinya

Seusai dari Istana itu, Mahfud sempat menunggu di Restoran Tesate, Jakarta, kemudian bergeser tiba-tiba alias pindah ke lokasi lain.

“Saya mau rapat di kantor,” kata Mahfud, sebagaimana dikutip Kumparan.com.

Mahfud MD rapat (Foto: Kumparan.com)
Mahfud MD rapat (Foto: Kumparan.com)

Mahfud dan rombongan kemudian pergi meninggalkan Tesate bersama sejumlah wartawan lain yang mengejar dan terus menguntitnya. Mahfud bersama timnya kemudian menggelar rapat tertutup di Jalan Kramat Raya, Jakarta.

Adalah Sekretaris Jenderal PKB Abdul Kadir Karding yang pertama-tama membocorkan informasi kalau Jokowi telah memutuskan nama Ma’ruf Amin yang juga Rais Aam Nahdlatul Ulama itu sebagai cawapres, bukan yang lainnya. Keputusan ini diambil saat rapat dengan sembilan ketua umum dan sekjen partai yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Kerja berlangsung.

“Rapat antara Pak @jokowi dan ketum, sekjen partai pendukung memutuskan Prof Dr Kh Ma’ruf Amin sebagai calon wapres Pak Jokowi,” kata Karding melalui akun Twitter miliknya.

Memang masih menjadi teka-teki mengapa Jokowi memilih Ma’ruf Amin dan bukan Mahfud MD yang sebelumnya justru sudah mempersiapkan diri dengan baik, setidak-tidaknya sesuai arahan pihak Istana yang menunjukkan itu sebagai sesuatu yang sangat serius.

Dari sisi kapasitas dan kelengkapan “fitur” yang ada, Mahfud MD jauh lebih lengkap dan beragam. Selain dikenal sebagai ahli hukum tata negara yang tahu persis seluk-beluk hukum, ia juga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi yang bergengsi. Mahfud juga dikenal sebagai jago debat yang membuat keder lawan-lawannya.

Baca Juga:  Agama Tidak Penting

Mengapa Mahmud MD kemudian terlempar di detik-detik terakhir?

Menurut informasi, dalam rapat bersama ketua umum dan sekjen partai pendukung, sejumlah partai menolak nama Mahfud. Karena namanya ditolak, dalam rapat diputuskan untuk mengubah calon wapres dan memilih Ma’ruf Amin.

Jokowi sendiri saat menyampaikan keterangan pers menjelaskan bahwa berdasarkan perenungan yang mendalam, masukan ulama dan persetujuan dari partai Koalisi Indonesia Kerja, ia menjatuhkan pilihan kepada Ma’ruf Amin.

“Prof Ma’ruf Amin lahir di Tangerang (tahun) 1943 adalah sosok utuh sebagai tokoh agama yang bijaksana. Beliau pernah duduk di legislatif sebagai anggota DPR RI, MPR RI, Wantimpres, Rais Aam PBNU dan juga Ketua MUI. Dalam kaitannya dengan kebhinekaan, Prof Ma’ruf Amin menjabat sebagai Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. Kami saling melengkapi. Nasionalis relijius,” demikian Jokowi menjelaskan.

Terlemparnya nama Mahfud MD di detik-detik terakhir pengumuman mau tidak mau harus dilihat betapa kerasnya persaingan memperebutkan bakal Kursi RI-2 itu di Koalisi Jokowi, yang mungkin tidak kalah hebohnya sebagaimana yang terjadi di Koalisi Prabowo yang memilih Sandiaga Uno sebagai cawapresnya.

Jokowi sendiri harus berkompromi dengan partai politik pendukung yang menolak nama Mahfud MD. Bagi para ketua partai, di mana di dalamnya ada Muhaimin Iskandar yang sebelumnya sangat ngotot ingin dipinang Jokowi, juga Romahurmuziy yangdisebut-sebut memoles diri agar lebih menawan, sangat tidak “adil” jika Jokowi memilih Mahfud MD yang masih kental aroma “politik”-nya. Padahal, Mahfud tidak memimpin parpol yang punya massa besar.

Massa yang besar ini pula yang menjadi senjata Cak Imin untuk menekan Jokowi. Ia masih menganggap membawa gerbong PKB, kyai dan Nahdlatul Ulama. Jika Jokowi tidak memilihnya, maka ia akan kalah. Demikian Cak Imin beranggapan.

Baca Juga:  Divestasi Freeport Bermasalah?

Jokowi jelas mempertimbangkan masukan parpol pendukung. Nyaris tersudut di posisi simalakama; memilih Mahfud MD yang sudah dibisiki mendampinginya berisiko akan mutungnya parpol anggota koalisi, pun demikian jika ia memilih Cak Imin atau Romahurmuziy. Jalan tengah yang diambil adalah memilih Ma’ruf Amin. Aman.

Dari sisi ini, jelaslah langkah yang diambil Jokowi selain untuk tetap menjaga keutuhan anggota koalisi, juga mengakomodir keinginan kelompok yang menolak Mahfud MD.

Mahfud MD sendiri mengaku tidak kecewa batal dipilih sebagai cawapres pendamping Jokowi.

“Hanya kaget saja karenadudah diminta mempersiapkan diri, bahkan sudah agak detail,” kata Mahfud sebagaimana dikutip Harian Kompas edisi Jumat, 10 Agustus 2018 hari ini.

***