Sketsa

Ma’ruf Amin, Millenial, dan Ekonomi Syariah

Ma'ruf Amin (Foto: Parmusinews.com)
Ma'ruf Amin (Foto: Parmusinews.com)
Banyak orang terkejut atas penunjukkan Ma'ruf Amin sebagai cawapres Joko Widodo, menggeser calon populer Mahfud MD. Jokowi mengalah dari tekanan parpol.

Mengenakan jaket jins dan sneaker Vans Metallica, seperti biasa Joko Widodo tampil santai menuju chopper yang terparkir di halaman Istana, Kamis, 9 Agustus 2018 petang. Tak jauh dari halaman, segerombolan anak muda mengelu-elukannya dengan histeris. Di kepala mereka terbayang, mantan tukang kayu itu akan menggandeng sosok muda belia perlente. Paling tidak usianya maksimal 40-an tahun.

Tapi semua anak abegeh itu kemudian terdiam, seraya mengucek-ngucek bola mata. Mereka kecele, sebab yang hadir sama sekali jauh dari bayangannya. “Dia juga milenial kok…pada masanya,” celetuk seseorang seraya melirik KH Ma’ruf Amin.

Seorang teman menyodorkan konsep komik tersebut untuk memotret dan mengkritisi pilihan sosok wakil presiden oleh Jokowi. Banyak pihak, seperti tergambar dari celotehan mereka di media sosial, terkejut dan kecewa dengan dipilihnya KH Maruf Amin. Bukan mantan Ketua MK Prof Mahfud MD yang sudah teruji kapabilitas dan integritasnya.

Kiai Ma’ruf pun sosok yang cakap, berintegritas, politisi otodidak yang meniti karir dari bawah. Bukan politisi karbitan yang disorong-sorongkan ayah-ibunya. Selain mumpuni dalam ilmu agama, Ma’ruf juga rupanya merupakan tokoh penggerak ekonomi syariah di tanah air tercinta ini.

Situs ristekdikti.go.id mencatat, Ma’ruf adalah guru besar bidang ilmu ekonomi muamalat syariah di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Pengukuhan gelar Profesor tertuang dalam Keputusan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Nomor 69195/A2.3/KP/2017 tertanggal 16 Mei 2017.

Prof.Dr. H.M. Atho Mudzhar, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, memberikan kesaksian terkait kiprah Ma’ruf di bidang ekonomi syariah. Kiai Ma’ruf, katanya, banyak melakukan dialog dan lobi-lobi dengan Bank Indonesia (BI), sehingga sebagian besar dari fatwa-fatwa DSN itu kemudian diadopsi oleh BI atau Kementerian Keuangan menjadi peraturan perundang-undangan yang mengikat.

Baca Juga:  NU, Dulu, Kini dan Esok; 92 Tahun Nahdlatul Ulama

“Bahkan sebagiannya telah pula diadopsi oleh Negara menjadi Undang-undang,” tegas Atho saat memberikan gelar Doktor Honoris Causa kepada Kiai Ma’ruf pada 5 Mei 2012.

Alasan lain kenapa akhirnya memilih Kiai Ma’ruf yang sudah sepuh, ketimbang Mahfud MD adalah untuk meredam potensi konflik di internal NU. Seperti diberitakan, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj menyebut Mahfud bukan kader NU, meski lahir dan besar di lingkungan berkultur NU.

Pendapat ini mendapat reaksi keras dari sejumlah kiai, aktivis NU, dan keluarga besar KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Kedua, ada potensi perpecahan di tubuh koalisi bila memaksakan Mahfud yang dinilai ‘tak berkeringat’ dalam mendukung Jokowi, meski secara kapabilitas dan integritas sudah teruji. Muhaimin Iskandar dan PKB yang terkesan ambisius untuk menjadi pendamping Jokowi mengancam keluar dari koalisi. Bila ini terjadi, tentu kelompok lain akan memanfaatkan peluang tersebut untuk membentuk poros sendiri.

Ketiga, pemilihan Kiai Ma’ruf tak cuma untuk menetralisir kemungkinan potensi konflik di internal NU dan PKB. Lebih luas lagi, sebagai Ketua MUI dan Rais AM PBNU, sosok Kiai Maruf diyakini mampu meredam isu SARA yang selama ini menyerang Jokowi.

Dengan adanya sosok Jokowi, diharapkan politisasi agama tak lagi terjadi. Media sosial lebih sunyi dari caci maki dan kehidupan politik di masyarakat akan lebih tentram.

Keempat, usia Kiai Ma’ruf yang tergolong senja tentu tidak akan menjadi ancaman bagi koalisi parpol di 2024. Lima tahun ke depan, mereka tak terlalu khawatir Kiai Ma’ruf akan mengajukan diri menjadi Presiden. Dengan demikian setiap parpol sama-sama akan berjuang dari nol.

Salah satu yang mungkin bakal menjadi titik lemah Kiai Ma’ruf adalah kondisi kesehatannya. Pada 20 Juli 2016 dia pernah menjalani perawatan di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Cawang, Jakarta Timur. Saat itu dia menjalani observasi di bawah penanganan Prof Dr Jusuf Misbach, SpS(K) yang dikenal sebagai pakar stroke di Indonesia.

Baca Juga:  Tuhan Cinta

Dibandingkan dengan Jusuf Kalla yang setahun lebih tua, atau Mahathir Mohammad yang sudah berusia lebih dari 90 tahun, secara fisik Ma’kruf terkesan lebih ringkih. Tapi semoga itu cuma kesan lahir sepintas saja. Dengan pendampingan langsung sang istri, Wury Esty Handayani, yang berprofesi sebagai perawat, semoga Kiai Ma’ruf senantiasa tetap bugar.

Amin.

***