Fakta

Ini Jawaban Sahih Mengapa TGB Berani Melawan Arus!

TGB (Foto: Kicknews.today)
TGB (Foto: Kicknews.today)
Perbedaan pilihan telah memecah dan memisahkan hubungan bangsa. Dikotomi kafir dan iman, surga dan neraka, benar dan salah demikian mudah disematkan.

Mungkin dulu tak terpikirkan oleh banyak orang bahwa kelak Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi akan menjatuhkan dukungannya kepada Presiden Jokowi untuk melanjutkan dua periode kepemimpinan. Padahal beliau pernah menjadi tim sukses Prabowo di pilpres 2014.

Kiprahnya beberapa waktu belakangan bersama para alumni 212 telah menjelaskan kepada khalayak di mana posisi beliau. Bahkan ustad Abdul Somad sangat bersemangat mengkampanyekan beliau untuk menjadi capres 2019 dengan harapan menjadi penantang yang berpotensi mengalahkan petahana.

Maka tak heran, keputusannya yang mengejutkan belakangan ini mebuat heboh jagad perpolitikan di Tanah Air.

Banyak yang dulu memujinya tiba-tiba mengecam dan meriksaknya (bully). Begitu pun yang dulu tidak menyukainya sekarang berbalik memberi apresiasi dan puja-puji. Dukungan dan sambutan datang silih berganti.

TGB menyadari akan resiko buruk dengan berpindahnya haluan politik. Caci maki, hinaan dan hujatan tak bisa dihindari. Banyak yang menilai ada pamrih agar dilirik menjadi cawapres Jokowi. Ada juga yang mengaitkannya dengan pernah dipanggilnya beliau oleh KPK untuk memberi kesaksian terhadap sebuah kasus di pemerintahannya.

Namun seiring dinamika politik, gegap gempita dukungannya mulai surut dalam pemberitaan.

Meski demikian, fenomena TGB masih menyisakan pertanyaan;, mengapa TGB berani melawan arus?

Tidak ingin ikut-ikutan berburuk sangka. Karena ajaran agama kita tidak boleh menghakimi apa yang ada di dalam hati seseorang. Dari pernyataan-pernyataan TGB saat diwawancara oleh berbagai media beberapa alasan kuat mengapa ia berani melawan arus.

Yang paling utama adalah keprihatinan beliau setelah mengamati selama 4 tahun pasca Pilpres 2014. Ada situasi di mana pembelahan dan polarisasi di kalangan umat dikarenakan dua kubu yang makin berseberangan setelah pilpres.

Perbedaan pilihan telah memecah dan memisahkan hubungan bangsa ini. Dikotomi kafir dan iman, surga dan neraka, benar dan salah demikian mudah disematkan hanya karena beda pilihan. Itulah yang mendorong TGB untuk mematahkan pendapat bahkan fatwa di kalangan agamawan yang selama ini dinilai sehaluan dengan beliau.

Baca Juga:  Emil Dardak dan Doli Kurnia Seharusnya Tempuh Jalur Hukum

TGB tidak menghendaki ayat-ayat suci dipolitisasi dalam persaingan politik. Karena menurut beliau, Indonesia bukan negara yang sedang perang. Tidak boleh ayat-ayat perang dikutip untuk bertarung dalam kontestasi politik.

Alasan yang lain adalah, sebagai mantan gubernur NTB TGB merasakan langsung kontribusi seorang Presiden Jokowi terhadap kemajuan pembangunan di provinsi yang dipimpinnya. TGB memikirkan keberlanjutan pembangunan yang telah dimulai dengan dukungan kuat presiden.

Apabila ada pergantian Presiden RI di periode 2019 sd 2024 dikhawatirkan berpengaruh terhadap semua program pembangunan yang selama ini sangat didukung secara totalitas oleh presiden Jokowi. Intensitas hubungan Presiden Jokowi yang tercermin dari 8 kali kunjungan ke provinsi yang dulu Jokowi kalah telak di pilpres 2014 ini, membuat TGB jatuh hati.

Akhirnya, keputusan TGB bisa diibaratkan seperti bandul yang menyeimbangkan peta pandangan di kalangan oposisi Islam. Ia seolah mewakili suara-suara yang memilih diam dan sebenarnya juga tak setuju politisasi agama.

Dukungannya yang rasional dan beliau katakan demi kemaslahatan umat dan bangsa perlahan menempatkan posisi beliau ke dalam bagian ulama Islam moderat. Pandangan sebagian kalangan Islam yang selama ini dicoba untuk dikonfrontasikan dengan pemerintah dipatahkannya secara tiba-tiba dan mengejutkan.

Padahal, menurut pengakuan TGB, keputusannya itu melalui proses yang panjang. Selama 4 tahun beliau mengamati jalannya pemerintahan petahana dan kondisi sosial masyarakat pasca Pilpres 2014.

Barangkali memang sudah waktunya ada sosok yang berani bersuara berbeda di saat banyak yang tak berani berpikir merdeka. Kecenderungan penggiringan isu agama yang sudah kebablasan dan kehilangan arah telah memaksanya untuk berbuat sesuatu yang di”haramkan” oleh kalangan yang selama ini merasa satu kubu dengan beliau.

TGB bukanlah orang sembarangan. Beliau tak diragukan lagi kapasitas keilmuan dan kealiman beliau yang diakui dunia Islam. Jika pada akhirnya ia mendukung Jokowi, itu sebuah keputusan yang sangat berani dari seorang Ulama dan politisi di tengah-tengah usaha menjatuhkan karakter petahana.

Baca Juga:  Main Drama Sekalipun, Novanto Tetap Saja Didakwa

Kita lihat saja ke depan apakah TGB akan kembali memberikan kejutan-kejutan. Semoga itu kejutan yang membuat bangsa ini menjadi lebih baik.

**