Wacana

Arah Baru Indonesia; Autentisitas Islam Politik

Ilustrasi Islam politik (Foto: Voa-Islam.com)
Ilustrasi Islam politik (Foto: Voa-Islam.com)
Arah Baru Indonesia mengadopsi progresifitas Erdogan-Ganoucci-Misyal, namun tetap berada dalam semangat orisinilitas pemikiran Al Banna.

Makna Islam politik dalam diskursus ideologi politik Islam adalah pembaharuan pemikiran kearah yang adaptatif dengan kondisi zaman.

Fatwa politik berubah sesuai dengan kondisi zaman dimana kita hidup, karena tujuan kita bukan untuk menyatukan semua kelompok dalam di bawah satu payung, melainkan mendekatkan mereka (at taqrib bainal firqoh).

Islam politik harus mampu menerjemahkan ideologi sehingga mengkristal menjadi sebuah gagasan negara sesuai dengan rambu rambu fikih politik yang benar.

Arah Baru Indonesia adalah estafet lanjutan dari fikroh fikroh Islam politik yang sudah ada yang berupaya menemukan contoh ideal dalam politik Islam di tataran praksis.

Arah Baru Indonesia melakukan ijtihad pembaharuan politik lanjutan akan semua aspek dan pilar pilar kebangkitannya (At Tajdid Ad Da’aim Al Fikri As Siyasi Al Islami).

Arah Baru Indonesia adalah isme progressif dengan makna yang lebih radikal, non eklektisis namun juga bukan haluan kanan jauh.

Arah Baru Indonesia mengadopsi politik jalan baru kanan tengah yang lebih modern dan prinsipil.

Arah Baru Indonesia adalah mixed antara modernitas dan autentisitas, dengan tidak menerima rumus pemikiran “al Yasar al Islami” kaum radikalis liberal.

Arah Baru Indonesia nafasnya moderat dan dinamis, adaptatif dan akomodatif terhadap semua golongan dan semua entitas politik, mulai dari haluan nasionalis sampai haluan konservatif.

Oposisi Arah Baru Indonesia adalah isme eklektisis, status quo, dan semua prinsip turunan akal yang jumud dan malas dalam pemikiran politik Islam (al aqlu al mustaqil).

Arah Baru Indonesia bukan rumus progressif spontan modal semangat ala teori modernitas Hassan Hanafi saat beliau masih berada dalam tubuh IM Mesir.

Arah Baru Indonesia melihat negara dalam jamaah dan bukan melihat jamaah lalu negara, Arah Baru Indonesia ingin menghindari konsep yang keliru akan dikotomi negara dan jamaah dalam tesis Tariq Ramadhan.

Baca Juga:  Tidak Mendapat Tempat, Indonesia Darurat Filsafat

Arah Baru Indonesia adalah haluan politik mudah dan ramah, tidak berbelit seperti ilmu filsafat, tidak juga sukar dipahami seperti teori nya 3 dimensi Ilmu (Burhani-Bayani-Irfani), Ala Muhammad Abid Al Jabiri.

Arah Baru Indonesia mengadopsi progresifitas Erdogan-Ganoucci-Misyal, namun tetap berada dalam semangat orisinilitas pemikiran Al Banna.

Arah Baru Indonesia berupaya kuat melakukan pembaharuan pemikiran Islam dalam praktek politik tahap 3, pasca era 1918- 1967.

Arah Baru Indonesia ingin menjadi model ideal dalam pemikiran politik Islam Indonesia menyongsong manusia gelombang ketiga sekaligus menjadi haluan politik ideal jangka panjang muslim indonesia dalam cita cita kejayaan dan kedaulatan politik islam bersma segenap tumpah darah indonesia.

Arah Baru Indonesia.

***