Wacana

Seperti Main Layangan, Jokowi Asyik Tarik-ulur Benang Cawapres

Jokowi main layangan (Foto: Tribunnews.com)
Jokowi main layangan (Foto: Tribunnews.com)
Mengumumkan cawapres pada menit akhir akan mengunci partai-partai pengusung atau partai Demokrat untuk hanya memilih di antara dua pasang calon presiden.

Penentuan cawapres sampai saat ini masih menjadi teka-teki dan masyarakat hanya bisa menebak atau menerka, kira-kira cawapresnya mungkin si-A dan si-B. Penentuan cawapres mirip permainan kartu domino “qiu-qiu”.

Jokowi yang tak lain presiden saat ini dan sebagai “petahana” juga masih menyimpan rapat-rapat cawapresnya, bahkan partai pengusungnya saja tidak atau belum tahu. Seakan kartu domino ditutup rapat-rapat dan belum dibuka atau dijatuhkan untuk diketahui oleh publik.

Bahkan sesama kandidat capres saling tatap mata, saling lirik penuh curiga dan menebak kira-kira kartu apa yang dikantongi atau dipegang oleh pihak lawan.Telik sandi di sebar untuk mencari informasi, siapa cawapres dari si-A dan si-B?

Ini permainan tingkat tinggi, adu strategi yang penuh intrik dan saling gertak untuk segera menjatuhkan kartunya atau cawapresnya.

Bahkan pihak lawan meminta kepada pihak petahana untuk segera mengumumkan cawapresnya lebih awal. Pihak petahana pun tak kalah pandai dan cerdik, ia akan mengumumkan pada menit-menit akhir pendaftaran. Perang urat syaraf sudah dikumandangkan. Tetapi kartu domino masih dalam genggaman, bahkan untuk melihat saja, sang capres tidak berani secara langsung, tetapi di “plirit” atau dilihat hanya melihat sedikit atau sekilas saja.

Bahkan sang petahana hanya ngasih “sasmita” atau perlambang saja cawapresnya,masyarakat hanya bisa menafsirkan dan menerka-nerka saja.

Baik petahana atau oposisi sampai saat ini masih meng-otak-atik kira-kira cawapres yang tepat dan bisa menaikkan tingkat elektabilitas itu siapa.

Pengumuman cawapres lebih awal atau di akhir pendaftaran merupakan strategi oleh masing-masing kandidat capres.

Kalau petahana mengumumkan cawapresnya lebih awal tentu akan memudahkan kubu oposisi untuk menyusun strategi atau mencari cawapres yang bisa mengimbangi kubu petahana. Dan manuver-manuver partai juga akan lebih aktif, apakah hanya dua pasang calon atau membentuk poros ketiga?

Baca Juga:  Penumpang Dua Bus Blue Bird Sewaan Golkar Itu Menemui Jokowi

Seperti yang di inginkan oleh partai Demokrat yang ngebet ingin membentuk poros ketiga demi anak lanang sing bagus dewe (Agus Harimurti Yudhiyono).

Bahkan ketua umum partai Demokrat SBY akan mengecam petahana Jokowi kalau mengumumkan cawapres pada menit-menit akhir pendaftaran. Alasannya mengumumkan cawapres pada menit akhir akan mengunci partai-partai pengusung atau partai Demokrat untuk hanya memilih di antara dua pasang calon presiden. Dan partai-partai tidak bisa bergerak secara leluasa dan harus memilih di antara dua pasangan.

Masak seorang mantan militer mengecam seorang sipil hanya gara-gara mengumunkan cawapresnya pada menit-menit akhir, strategi politik kok dikecam, ini aneh. Ini mirip dalam pilkada Jawa Barat kemarin. Kang Emil yang menang lewat versi hitung cepat, langsung membuat pernyataan bahwa ia akan mendukung presiden Jokowi untuk dua periode.

Dan, pernyataan Kang Emil ini dicekam oleh DPP Gerindra yang mengatakan kalau pernyataan Kang Emil untuk mendukung Jokowi dua periode diucapkan sebelum pencoblosan, maka Kang Emil tidak akan memenangkan pilkada Jawa Barat. Aneh, bukan?

Permainan kartu domino “qiu-qiu” untuk penentuan cawapres 2019 sangat menarik, penuh strategi dan intrik. Kartu masih tersimpan rapat, belum tahu kapan kartu domino akan dijatuhkan atau diumumkan. Masyarakat harap bersabar, boleh menerka atau menebak.

***