Sketsa

Kecebongan

Ilustrasi (Foto: Kompasiana.com
Ilustrasi (Foto: Kompasiana.com
Walaupun kampung Bacang kebanyakan pro tagar ganti presiden, tapi penduduknya hidup rukun dengan warga yang pro petahana 2 priode.

Teriakan Tomas bikin kaget warga kampung Bacang. Menurut keluarganya, Tomas badannya panas tinggi, tapi Tomas malah menggigil. Awalnya menggumam nggak jelas, lama-lama teriak tambah nggak jelas. Kesimpulan sementara, Tomas kemasukan setan. Maka dipanggillah orang pintar.

Sebagaimana orang pintar pada umumnya, mulutnya komat-kamit mengeluarkan suara yang sama tidak jelasnya seperti Tomas. Warga juga tidak mau tahu apa yang diucapkan orang pintar dan Tomas. Komunikasi dengan mahluk halus, tambah tidak dimengerti orang lain tambah sakti. Mahluk halus tidak peduli pada artikulasi. Bagi dia yang penting, asprasinya tersalurkan.

Beberapa waktu lalu, melalui tubuh salah satu warga, mahluk halus menyampaikan aspirasinya melalui orang pintar, katanya orang yang dipinjam tubuhnya untuk komunikasi itu kencing di sembarang tempat. Mahluk halus itu bercerita dia sedang istirahat siang di pohon melinjo, mendadak terganggu karena orang yang tubuhnya dipinjam ini kencing di bawah pohon melinjo. Warga yang mendengrakan pengakuan setan yang masuk ke dalam tubuh tetangganya itu tidak dapat menahan ketawa, karena warga tahu kalau tetangganya itu hobi makan pete dan jengkol.

Orang pintar masih komat-kamit. Tomas terus saja bergumam, sesekali berteriak. Orang pintar ingin memastikan dulu nama mahluk halus yang bersemayam didalam tubuh Tomas. Dia disebut orang pintar karena memang banyak tahu nama-nama mahluk halus, bentuknya, sifatnya, tempat tinggalnya, kebiasaannya, dan sejarah semasa hidupnya.

Tapi kali ini nampaknya orang pintar kesulitan. Biasanya, hanya dari satu atau dua teriakan pasiennya saja dia bisa tahu nama mahluk halus yang ada di tubuh pasiennya. Tapi kali ini kok aneh? Mengetahui sosok mahluk halus bagi orang pintar itu ibarat dokter mendiagnosa pasiennya, hingga bisa ditentukan jenis obatnya.

Baca Juga:  Saudara Saya Robert Lai (1): Menebus Dosa Proyek Raksasa

Ada setan yang mau keluar dari tubuh pasiennya dengan syarat yang aneh-aneh, seperti minta dibuatkan ayam panggang dari jenis ayam tertentu. Ada juga yang permintaannya pasaran seperti minta segelas kopi pahit. Bahkan ada juga yang cuma minta segelas air putih, ini setan yang sedang pamer pencitraan di depan orang pintar.

Setan yang masuk dalam tubuh Tomas nampaknya tidak ada dalam referensi orang pintar. Orang pintar minta waktu sebentar buat menelepon rekan-rekanhya seprofesi. Dia menceritakan kondisi pasiennya, tapi tidak juga menemukan jawaban.

Kalau orang pintar menyerah akan hilang kepintarannya. Dia terus berpikir sambil komat kamit. Mendadak Tomas bangkit, bikin kaget warga yang berkerumun. Tomas melotot. Tangannya dikepalkan meninju langit sambil teriak, “ Intoleransi! Radikalisme! Bubarkan! Anti Pancasila! Bubarkan! “
Orang pintar tambah bingung.

Tomas salah satu tokoh masyarakat di Kampung Bacang. Walaupun kampung Bacang kebanyakan pro tagar ganti presiden, tapi penduduknya hidup rukun dengan warga yang pro petahana 2 priode. Perbedaan itu malah dibuat becandaan. Misalnya saat kerja bakti, pro ganti presiden dan pro 2 priode saling gotong royong membersihkan kampung. Selesai kerja bakti, saat mengumpulkan peralatan, becandaan yang populer adalah, “Peralatan pro 2 priode jangan dicampur dengan peralatan ganti presiden”.

Kedua kubu ngakak bareng. Atau, “Eh, ini peralatan ganti presiden kok ada di sini, mau jadi cebong, ya? “ sambil mengembalikan alat ke pro ganti presiden, diringi ngakak riuh rendah. Berakhir dengan riang gembira pulang ke rumah masing-masing.

Tapi tetap saja ada tuduhan, kampung Bacang adalah kampung intoleran, kampung kaum radikal, bla bla bla…Barangkali yang menuduh itu orang yang tidak bermasyarakat, apalagi ikut kerja bakti. Kerjaan sehari-seharinya cuma aktif di medsos saja, dunia yang tidak pernah sepi dari saling nyinyir.

Baca Juga:  "Ojo Kesusu" dan "Grasa-Grusu", Wahai Dinda PSI!

Tomas masuk dalam kelompok warga pro ganti presiden. Boleh dibilang dia tokoh yang paling vocal menyuarakan ganti presiden. Kalau sekarang dia berteriak berulang-ulang, “Intoleransi! Radikalisme! Bubarkan! Anti Pancasila! Bubarkan!” bukan cuma bikin bingung warga, tapi juga orang pintar.

Tomas menerobos keluar rumah. Berdiri di tengah tanah lapang. Tangannya terus meninju langit sambil teriak. Setelah warga berembuk, warga minta sebaiknya orang pintar pulang saja. Orang pintar menolak. Ini tantangan baru, dia gemar pada tantangan baru.

“Dia bukan kemasukan setan,Mbah,” salah satu warga seolah menasehati orang pintar. “Dia kemasukan Cebong. Lebih tepatnya, kecebongan!”

Tentu saja orang pintar yang dipanggil Mbah itu tambah gagal paham.

“Mbah, apa yang dia ucapkan itu berlawanan maksudnya…”

Orang pintar tambah bingung, dia nampak seperti orang bodoh di hadapan sekumpulan orang pintar.

“ Begini, Mbah. Apa yang dia ucapkan itu bukan itu maksudnya. Dia tidak minta kita untuk hidup toleran, saling menghargai sesama warga, atau agar kita mengamalkan Pancasila. Bukan itu. Kalau nggak percaya, sebentar lagi dia akan berteriak maksud tujuan yang sebenarnya.”

Tidak harus menunggu lama. Tomas berteriak dengan tema baru, “”Dua priode saja cukup! Demi kelangsungan pembangunan harus dua priode! Bagi yang anti dua priode berarti kaum radikal! Bagi yang anti priode, pro teroris!”

“Nah, jelas kan, Mbah? Emang ada orang kesetanan temanya jelas kaya gitu?”

Orang pintar melongo, tanpa sadar mulutnya menganga lebar.

“Kalau orang kesetanan permintaannya masih bisa kita kabulkan walaupun rada sulit. Mencari ayam putih dan ayam hitam perkara gampang. Permintaan orang kecebongan nggak bakal Mbah sanggup. Dia minta jabatan! Mbah bisa kasih?”

Baca Juga:  60 Tahun yang Lalu Bung Karno Marah AS Bantu PRRI/Permesta

Orang pintar nampak semakin menunjukkan muka bodoh.

***

1107018